Marquee text

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS: At-Taubah 128)
Showing posts with label Kajian Wahabi-Salafi. Show all posts
Showing posts with label Kajian Wahabi-Salafi. Show all posts

11 April 2015

Jika Muslimin Meneror Kufar, mustahil ada orang yang masuk Islam

Saudaraku yang ku muliakan, mereka (para teroris) ini saudara-saudara Muslimin kita yang dangkal dalam pemahaman Syariah, cuma menggunting ayat lalu memaksakan pemahaman mereka dengan kemauan mereka.
Habib Munzir
Ayat-ayat tersebut adalah kekerasan orang mukmin kepada kuffar adalah kepada kafir harby yang memerangi Muslimin, sedangkan kafir yang tidak memerangi Muslimin maka Rasul Shollallohu 'Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam berlemah-lembut kepada mereka, hal itu jelas pada belasan bahkan puluhan ayat dan riwayat shahih.

Islam adalah kesatria, bukan pengecut. Jika musuh memerangi dengan senjata maka perangi dengan senjata, jika dengan siasat maka perangi dengan siasat, jika dengan harta maka perangi dengan harta.
Lalu bagaimana dengan pemuda Yahudi yang berkhidmat di rumah Rasulullah Shollallohu 'Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam dan Rasul Shollallohu 'Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam menerimanya berkhidmat. Bagaimana seorang kafir Yahudi itu masuk ke rumah Rasul Shollallohu 'Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bahkan diterima sebagai khadim (red. pembantu) beliau Shollallohu 'Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam. Rasul Shollallohu 'Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam tidak menghardik dan mengusirnya atau memaksanya masuk Islam.

19 March 2015

Maaf anda salah alamat menuduh kami Syiah

Generasi Muda Nu ~ Tuduhan liberal maupun Syiah terhadap kelompok lain yang berbeda pandangan dengan kelompoknya rupanya merupakan salah satu senjata ampuh yang di gunakan oleh sebagian Ummat Islam untuk menjatuhkan dan membuat buruk citra sebagian ummat Islam lainnya, dan dalam hal ini Warga NU lah yang sering mendapat " gelar kehormatan " tersebut, terlebih lagi admin.

Coba saja anda cek di kolom komentar berbagai postingan di page ini maka banyak sekali orang - orang yang menuduh admin sebagai Syiah atau Tasyayu' . Alasanya cukup sederhana, karena admin sering mengkritisi ajaran Wahhabi dan yang se afiliasi dengannya, dan tidak pernah mengkritisi apalagi menghujat Syiah.
Selain tuduhn liberal dan Syiah, sebenarnya ada tuduhan lain yang di sematkan kepada warga NU, yakni lebih sayang kepada kafir tapi keras kepada sesama Muslim.

Indonesia darurat Wahhabi radikal apa Syiah ?

Muslimedianews.com ~ Sebagai umat Islam Ahlussunnah wal Jama'ah Asy'ariyah Syafi'iyah al-Shufiyyah An-Nahdliyyah, kita tidak setuju dengan paham Syi'ah dan Wahhabi.

Walaupun kita tidak setuju paham atau ajaran keduanya, tetapi kita berharap orang-orang dari keduanya kembali kepada jalan yang benar. Mari kita do'akan do'akan dan do'akan...! Kita tidak ingin mereka mati dalam keadaan Syi'ah atau Wahhabi, apalagi mati oleh tangan kita, kita tidak terbesit keinginan sedikit pun untuk melakukan hal yang demikian. Kita tetap menganggap mereka sebagai bagian dari Islam, haram darahnya kehormatannya dan hartanya.
****

Belakang ini opini-opini yang dihembuskan Wahabi seolah-olah Indonesia darurat Syi'ah, padahal Indonesia sudah darurat Wahabi. Wahabi membuat Indonesia seolah-olah dipenuhi Syi'ah, sebab Wahhabi lah yang paling getol gembar-gembor menyatakan Syi'ah kafir. Mereka juga pasang spanduk dimana-mana.

Syi'ah juga seolah-seolah jumlahnya banyak karena Aswaja / Ahlussunnah wal Jama'ah sebagai umat Islam terbesar di Indonesia dituduh Syi'ah. Bila penganut Aswaja yang dituduh Syi'ah maka tentu saja terlihat banyak.

Wahabi secara mutlak mengkafirkan Syi'ah. Berbeda dengan Aswaja yang masih mengklasifikasi kelompok Syi'ah. Konsekuensi dari mengkafirkan yang mereka lakukan itu berarti Halal darahnya atau boleh dibunuh. Dalam hal ini, Wahabi sedang mencari legitimasi untuk melakukan pembunuhan terhadap Syi'ah.

Mengapa ISIS Wahhabi Membenci Naskah Kuno?


Saat berdiskusi dengan seorang dosen filologi, saya jadi sadar betapa berharganya naskah kuno bagi sebuah bangsa. Bahkan eksistensi bangsa itu bisa terjaga bila naskah kunonya dijaga dan dipelajari.
Misalnya saja, dari Surat Emas Raja-Raja Nusantara http://www.indonesiaheritage.org/…/surat-emas-raja-raja-nus…

terbukti bahwa selama lebih dari empat ratus tahun, raja-raja di Nusantara menulis surat dalam bahasa Melayu dengan huruf Jawi (Huruf Arab-Persia) kepada para raja di luar negeri. Salah satunya, surat Sultan Iskandar Muda dari Aceh pada tahun 1615, yang ditujukan kepada Raja James I.

Perhatikan: surat itu tidak dalam bahasa Inggris. Artinya, para raja dan pembesar di mancanegara-lah yang harus mempelajari bahasa Melayu. Artinya, saat itu, siapa yang lebih dominan dan lebih berkuasa? Jelas nenek moyang kita, bangsa Melayu. Dan keunggulan budaya itu tentu tidak ujug-ujug muncul tahun 1600-an itu, pasti ada proses panjang yang mendahuluinya.

Lalu, mengapa situasinya kini sangat berbalik? Mengapa yang disebut-sebut sebagai budaya ‘nenek moyang kita’ bukan budaya yang unggul ini; yang pasti membuat rasa nasionalisme dan rasa bangga sebagai Indonesia membuncah, dan akan memicu keberanian saat bernegosiasi dengan bangsa lain.

Tidak seperti sekarang: orang Indonesia cenderung inferior di hadapan orang Barat.
Mengapa hari ini justru kita yang dihegemoni oleh bahasa Inggris? Sudah jadi mindset umum: orang yang berpendidikan harus mahir berbahasa Inggris; kalau tak bisa, akan diolok-olok.
Pertanyaan berikutnya: mengapa naskah-naskah kuno Nusantara justru banyak disimpan di Belanda dan Inggris? Mengapa mereka mengangkut naskah-naskah itu jauh-jauh ke Eropa?

18 June 2014

Ramadhan Tanpa Bid’ah


Ramadhan Tanpa Bid’ah

Ramadhan tanpa bid'ah
Ramadhan adalah bulan mulia. Bulan tatkala kaum mukminin menuai pahala berlimpah yang disediakan Allah SWT. Nuansa takwa begitu terasa di bulan ini. Masjid-masjid dan surau-surau semarak oleh shalat berjamaah, tarawih dan tadarrus Al-Qur’an. Betapa sejuknya bulan Ramadhan. Kegaduhan berita-berita berbau politik dan ekonomi seolah sirna dari pendengaran. Andai seluruh bulan seperti Ramadhan, bisa dibayangkan alangkah indahnya hidup di muka dunia ini.

Sayang, ada segelintir orang yang mencoba mengusik kedamaian Ramadhan. Mereka memantik perang opini di tengah suasan tenang yang dirasakan umat islam. Bermodal ilmu pas-pasan, mereka mengeluarkan opini yang menggugat salah satu tuntunan Baginda Nabi SAW dalam berpuasa, yakni imsak yang berarti menahan diri dari makan dna minum beberapa saat menjelang azan subuh. Opini ini digulirkan oleh salah seorang tokoh mereka yang bernama Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Ia berkata: “Hal ini (imsak) termasuk bid’ah, tiada dalilnya dari sunnah, bahkan sunnah bertentangan dengannya karena Allah berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia.”

04 December 2013

Doa Makan Bid'ah!



Dewasa ini banyak orang yang mengaku mengikuti slogan AlQuran dan Sunnah selalu mempermasalahkan hal-hal yang bersifat remeh menjadi besar, seolah mereka adalah Nabi yang diutus Allah untuk melusruskan ajaran yang dianut umat Islam selama ini. Kali ini mereka yang terpengaruh dengan wahabi membuat isu doa makan yang selama ini dibaca oleh sebagian muslimin ketika hendak makan.


Tidak sedikit kaum muslimin yang membaca doa dengan redaksi berikut sebelum makan :

اللهم بارك لنا فيما رزقتنا وقنا عذاب النار

Namun tidak sedikit pula yang membaca doa sebelum makan dengan redaksi lainnya seperti mayoritas santri-santri di pesantren, misal :


اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ

30 September 2013

SIKAP PARANOID AKIBAT FAHAM WAHABI

Orang yang terkena pengaruh fatwa-fatwa kaum Salafi Wahabi biasanya jadi berpikiran sempit dalam memandang kehidupan beragama, yaitu hanya antara Sunnah dan Bid’ah, itupun menurut definisi mereka sendiri, padahal banyak urusan lain di dalam kehidupan beragama yang juga butuh perhatian besar. Akibatnya, orang itu tidak bisa leluasa melihat kemaslahatan atau kebaikan suatu tradisi atau amalan yang di dalamnya diselipkan nilai-nilai agama atau unsur-unsur berbau agama, hanya karena “format”nya mereka anggap tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah Saw., padahal menurut para ulama, tidak dikerjakannya suatu amalan tidak menunjukkan bahwa amalan itu terlarang.

28 May 2013

Perbedaan pendapat ulama salafi-wahabi sendiri dengan saling memvonis bid'ah dan neraka...


Perbedaan pendapat ulama salafi-wahabi sendiri dengan saling memvonis bid'ah dan neraka...
Kalau begini, "Jadi tali agama Allah mana yang mau dipegang?"
Allah berfirman: 

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS: Ali Imran 103)

27 May 2013

Fanatik buta, Ayah bersama dua anaknya mengamuk di Masjid Baitul Qudus, Aceh

Suka Makmue – Tiga jamaah shalat Jumat yang terdiri seorang ayah bersama dua anaknya mengamuk di Masjid Baitul Qudus, Desa Keudee Seumot, Ulee Jalan, Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya Provinsi Aceh, pada saat pelaksanaan shalat Jumat (17/5/2013). Ayah dan anak ini sempat menggagalkan kumandang azan pertama dan kemudian merampas tongkat khatib saat berkhutbah.
 
Menurut informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, sang ayah berinisial H IB beserta dua anaknya, yaitu Ar dan Ir. Ketiganya merupakan jamaah shalat Jumat di Masjid Baitul Qudus, kemarin. 

26 May 2013

Mi’raj Bukan Pertanda Tuhan Berada Di Langit oleh Ust. Ansori dahlan


بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Aqidah Ahlus Sunnah adalah Allah tidak bersifat dengan sifat dzat makhluk, dzat Allah tidak punya kesamaan dengan dazt makhluk, dzat Allah tidak bersifat dengan Bersemayam, tidak juga berada di atas makhluk-Nya, apalagi berada dalam makhluk-Nya


Sangat banyak dalil tentang perbedaan Allah dan makhluk, tinggal bagaimana manusia nya membedakan nya, sebagian manusia ada yang hanya membedakan kaifiyat nya saja dan membiarkan dzat dan sifat Allah sama dengan makhluk, dalam anggapan nya, berbeda kaifiyat saja sudah cukup
 
Kesalahpahaman ini di dasari dari kesalahan mereka memahami dalil Al-Quran dan As-Sunnah, dan juga kesalahan dalam memahami pernyataan para ulama, mereka tidak pernah merasa bersalah dengan kesalahan ini, sehingga menimbulkan kontroversi dan kontradiksi dengan pemahaman mereka sendiri, karena ketika menemukan Ayat atau Hadits yang dhohir makna nya menunjukkan Tuhan di atas, mereka sangat percaya sekali bahwa Tuhan berada di Atas, tapi ketika mereka jumpai Ayat atau Hadits yang dhohir makna nya menunjukkan tentang Tuhan di bumi, mereka ingkari dan lupa bahwa mereka telah melakukan Ta’wil di sini, dan mencela Ta’wil di sana

11 May 2013

Pertanyaan wahabi ttg tempat bagi Allah - Ust. Ansori Dahlan


Diambil dari status ustadz Ansoori Dahlan, nyimaaaak...

Status Rilex dan santai tapi insyaalloh bisa diambil Manfa'atnya.  
Jika Allah tidak di atas, mengapa Nabi mi'raj untuk bertemu Tuhannya?
Pertanyaan wahabi:, "Jika Allah tidak di atas maka mengapa Nabi pergi[miraj] untuk memenuhi panggilan Tuhannya? "

DALIL-DALIL PUASA RAJAB / ISRO' MI'RAJ

Bagi temen-temen jangan mudah diprovokasi dengan orang-orang sakit yg mengatakan bahwa puasa Rajab adalah bid'ah. selalu dikatakan bahwa puasa Rajab itu dalilnya dhoif dan maudhu'. kalau ketemu orang yang kaya gitu, jitak aja kepalanya. tau apa dia tentang dalil sementara hafal hadistpun tidak. lalu jangan mudah pula terprovokasi oleh dalil-dalil puasa rajab yang maudu'/palsu. karena tidak perlu kita menjawab pernyataan orang-orang itu dengan hadist maudhu/palsu. karena kita punya dalil-dalil yang shohih.

yang perlu diperhatikan bahwa tidak ada satupun riwayat yang melarang puasa rajab, dan ada riwayat palsu mengenai puasa rajab. kalau sudah begini, mari kita buang riwayat-riwayat­­ palsu itu dan kita beralih ke riwayat yang benar/ yg bisa dipakai :

“Sesungguhnya Ustman Ibn Hakim Al-Anshori, berkata: “Aku bertanya kepada Sa’id Ibn Jubair tentang puasa di bulan Rajab dan ketika itu kami memang di bulan Rajab”, maka Sa’id menjawab: “Aku mendengar Ibnu ‘Abbas berkata: “Nabi Muhammad SAW berpuasa (di bulan Rajab) hingga kami katakan beliau tidak pernah berbuka di bulan Rajab, dan beliau juga pernah berbuka di bulan Rajab, hingga kami katakan beliau tidak berpuasa di bulan Rajab.”
(H.R Muslim)

Kebingungan malaikat Malik

Kebingungan malaikat Malik sang penjaga neraka krn para Aswaja:

Malaikat Malik : Kamu masuk neraka karena apa?

08 May 2013

Ya Rasulullah, aku lapar...


ilustrasi-ziarah-kuburTelah menjadi tradisi di kalangan para ulama Salaf dan Khalaf bahwa ketika mereka menghadapi kesulitan atau ada keperluan mereka mendatangi kuburan orang-orang saleh untuk berdoa di sana dan mengambil berkahnya dan setelahnya permohonan mereka dikabulkan oleh Allah. Al Imam asy-Syafi’i ketika ada hajat yang ingin dikabulkan seringkali mendatangi kuburan Abu Hanifah dan berdoa di sana dan setelahnya dikabulkan doanya oleh Allah. Abu ‘Ali al Khallal mendatangi kuburan Musa ibn Ja’far. Ibrahim al Harbi, al Mahamili mendatangi kuburan Ma’ruf al Karkhi sebagaimana diriwayatkan oleh al Hafizh al Khathib al Baghdadi dalam kitabnya “Tarikh Baghdad”. Karena itu para ahli hadits seperti al Hafizh Syamsuddin Ibn al Jazari mengatakan dalam kitabnya 'Uddah al Hishn al Hashin :


03 May 2013

Tidak Beradab Menyebut Rasulullah Muhammad SAW Langsung Namanya

Sebutan Sayyidina, Nabiyallah, Rasulallah dan sebutan lain sebelum penyebutan nama Muhammad SAW. adalah bentuk penghormatan. Penghormatan ini diperintahkan oleh Allah dalam Al Qur’an Surat An Nur Ayat 63 :

لا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ 

Artinya: Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.

01 May 2013

Seorang ulama’ wahabi ketika hendak mengislamkan pendeta

Diceritakan bahwasanya seorang ulama’ wahabi ingin mengislamkan seorang pendeta.
Pendeta itu bertanya: “Menurutmu sejak kapan Nabi Isa dibangkitkan? dan sejak kapan Nabi Muhammad dibangkitkan?”

Wahabi menjawab: “Isa menjadi nabi semenjak ia lahir sementara Muhammad resmi menjadi nabi sejak berusia 40 tahun”,

Pendeta lalu menanyakan: “Berarti Muhammad kafir selama 40 tahun sebelum dibangkitkan?”,

 

Pengakuan Cinta Dusta Kaum SaWah Terhadap Ahlul Bait Nabi Saw

Bagaimana bisa mengaku-ngaku cinta ahlul bait tapi di saat yang sama juga mengingkari eksistensi ahlul bait ?

Cinta Nabi dan ahlul bait (keluarga dan dzuriyah Nabi ) adalah bagian dari amal yang menyempurnakan iman kita.


Artinya adalah bahwa keimanan kita tanpa dibarengi cinta kepada Nabi saw dan ahlul baitnya, iman kita menjadi cacat disebabkan melanggar perintah Rasulullah saw. Rasulullah Saw menyuruh (mewajibkan) kita umatnya dalam sabdanya:

“Cintailah Allah karena nikmat-nikmat yang dianugerahkan kepada kalian. Cintailah aku karena cinta kalian kepada Allah dan cintailah Ahlul Baitku karena cinta kalian kepadaku.” (Sunan Turmudzi, jilid 5, hal 664, hadis 3789).

Akan tetapi, dari apa yang sering mereka katakan tentang cinta ahlul bait, ternyata banyak ucapan-ucapan kaum Wahabi tentang Cinta Ahlut Bait hanyalah bohong besar belaka.


Pengakuan cinta mereka tidak dapat dibuktikan alias dusta. Ada banyak alasan yang mereka paparkan dengan membuat berbagai macam definisi yang membingungkan tentang ahlul bait, dimana intinya mengarah kepada penolakan untuk mencintai ahlul bait.

30 March 2013

Al-Qur'an Kalam Allah


"al-Qur'an Kalam Allah", maka dalam pemaknaannya terdapat dua pengertian;

Pertama: Al-Qur'an dalam pengertian Kalam Allah ad-Dzati. artinya dalam pengertian salah satu sifat Allah yang wajib kita yakini, yaitu sifat al-Kalam. 

Sifat Kalam Allah ini, sebagaimana seluruh sifat-sifat Allah lainnya, tidak menyerupai makhluk-Nya. 

Sifat Kalam Allah tanpa permulaan dan tanpa penghabisan, serta tidak menyerupai sifat kalam yang ada pada makhluk. 

Sifat kalam pada makhluk berupa huruf-huruf, suara dan bahasa. 

Adapun Kalam Allah bukan huruf, bukan suara dan bukan bahasa. 

Sedangkan huruf, suara maupun bahasa adalah makhluk (diciptakan) 

Jadi al-Qur'an dalam pengertian al-Kalam adz-Dzati , bukan huruf, bukan suara, bukan bahasa maka ia bukan makhluk (diciptakan)

Kedua: Al-Qur'an dalam pengertian lafazh-lafazh yang diturunkan (al-Lafzh al-Munazzal), yang ditulis dengan tinta di antara lebaran-lembaran kertas (al-Maktub Bain al-Masha-hif), yang dibaca dengan lisan (al-Maqru' Bi al-Lisan), dan dihafalkan di dalam hati (al-Mahfuzh Fi ash-Shudur). 

08 February 2013

Aqidah Imam asy-Syafi'i (w 204 H); Allah Ada Tanpa Tempat.

Imam asy-Syafi’i Muhammad ibn Idris (w 204 H), seorang ulama Salaf terkemuka perintis madzhab Syafi’i, berkata:

إنه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكان ولا يجوز عليه التغير في ذاته ولا التبديل في صفاته (إتحاف السادة المتقين بشرح إحياء علوم الدين, ج 2، ص 24)
“Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Kemudian Dia menciptakan tempat, dan Dia tetap dengan sifat-sifat-Nya yang Azali sebelum Dia menciptakan tempat tanpa tempat. Tidak boleh bagi-Nya berubah, baik pada Dzat maupun pada sifat-sifat-Nya” (LIhat az-Zabidi, Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn…, j. 2, h. 24).

Dalam salah satu kitab karnya; al-Fiqh al-Akbar[selain Imam Abu Hanifah; Imam asy-Syafi'i juga menuliskan Risalah Aqidah Ahlussunnah dengan judul al-Fiqh al-Akbar], Imam asy-Syafi’i berkata:

واعلموا أن الله تعالى لا مكان له، والدليل عليه هو أن الله تعالى كان ولا مكان له فخلق المكان وهو على صفته الأزلية كما كان قبل خلقه المكان، إذ لا يجوز عليه التغير في ذاته ولا التبديل في صفاته، ولأن من له مكان فله تحت، ومن له تحت يكون متناهي الذات محدودا والحدود مخلوق، تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا، ولهذا المعنى استحال عليه الزوجة والولد لأن ذلك لا يتم إلا بالمباشرة والاتصال والانفصال (الفقه الأكبر، ص13)

09 December 2012

Hukum Islam Ada 5, dan Bid'ah Tidak Termasuk di Dalamnya

Hendaknya kalian tahu bahwa sunnah menurut ulama hadits adalah sesuatu yang berasal dari Rasulullah baik berupa perkataan, perbuatan maupun taqrir (ketetapan). Menurut Fuqaha’ (ahli Fiqh), sunnah adalah salah satu dari status hukum Islam, yang apabila mengerjakannya mendapat pahala dan apabila meninggalkanya tidak apa-apa (tidak berdosa), kadang disebut mandub juga nafilah.

Hukum Islam sendiri adalah 5 : Wajib, Sunnah (Mandzub/Mustahab), Mubah (Jaiz), Makruh dan Haram.

Sunnah Rasulullah (perbuatan, perkataan, taqrir) tidak serta status hukumnya menjadi wajib, tetapi ada yang sunnah (mandub/mustahab) tergantung bentuk anjurannya dan konsekuensinya. InsyaAllah kalian paham, bahwa apa yang berasal dari Rasul tidak serta merta wajib bagi kalian.

Demikian juga apa yang dinamakan bid’ah, bid’ah bukanlah status hukum Islam (sekali lagi bid’ah bukan status hukum Islam), melainkan istilah untuk sesuatu yang berlawan dengan sunnah.

Kalau Sunnah adalah perkataan/perbuatan yang berasal dari Rasul, sedangkan
Kalau Bid’ah adalah perkataan/perbuatan yang bukan berasal dari Rasul.

Dari sini, semoga paham maksud dari istilah “berlawanan”. Maka, sesuatu yang bukan berasal dari Rasul ini, haruslah di tinjau dan dikaji apakah sesuai dengan Sunnah ataukah tidak. Bukan serta merta ditolak begitu saja kemudian di masukkan kepada salah satu status hukum Islam yaitu status haram.

Jika langsung dimasukkan kepada status hukum haram, nantinya akan absurd dalam memahaminya dan bingung terus-menerus seperti sebagian orang jahil. Karena kalau langsung dimasukkan kepada status hukum haram dan sisi lain mengatakan “berlawan dengan sunnah” maka jadinya seperti ini :

“Bid’ah (Haram)” VS “Sunnah (Wajib)”. Karena lawan dari haram adalah wajib, dan pemahaman seperti ini bak otak yang terbalik. Sedangkan apa yang berasal dari Rasul (perbuatan/perkataan/taqir) tidak selalu dimasukkan kedalam status hukum wajib.

Oleh karena itu, sesuatu perkara baru (bid’ah) atau lawan dari yang berasal dari Rasul (sunnah) harus diklasifikasikan status hukumnya.

Yang mana nantinya ada yang masuk pada status hukum wajib, mandub, mubah, makruh dan haram. Istilah seperti ini telah diajarkan oleh al-Imam Shulthanul Ulama Syaikh ‘Izzuddin Abdissalam asy-Syafi’i untuk menyederhanakan memahami bid’ah. Sehingga dikenal istilah ;

1. Bid’ah Wajibah : bid’ah yang masuk dalam prinsip atau bahasan kaidah tentang penetapan status hukum wajib, seperti : menyibukkan diri dengan ilmu nahwu sebab dengannya bisa memahami Kalamullah dan Sabda Nabi, hal ini tergolong wajib karena dalam rangka menjaga syariat Islam, sebab apa jadinya jika tidak paham nahwu, maka orang-orang jahil akan berbicara secara serampangan.

Contohnya lainya seperti : menjaga pembendaharaan kata asing al-Qur’an dan as-Sunnah, pembukuan disiplin ilmu-ilmu ushul, perkataan jahr wa ta’dil dalam pembahasan ilmu hadits.

2. Bid’ah Mandubah ; bid’ah yang masuk dalam prinsip atau bahasan kaidah tentang penetapan status hukum sunnah/mandub, seperti : membangun madrasah-madrasah, perkataan-perkataan yang mengandung hikmah seperti tashawuf, perkataan yang bisa menyatukan kaum Muslimin, shalat jama’ah tarawih, Maulid Nabi dan sebagainya.

3. Bid’ah Mubahah ; bid’ah yang masuk dalam prinsip atau bahasan kaidah tentang penetapan status hukum mubah, seperti : bersalaman setelah shalat subuh dan ashar, juga memperluas kesenangan dalam urusan makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal, pakaian kebesaran ulama, dan melebarkan lengan baju.

4. Bid’ah Makruhah ; bid’ah yang masuk dalam prinsip atau bahasan kaidah tentang penetapan status hukum makruh, seperti : sekedar kumpul-kumpul di kediaman orang meninggal, menghiasi masjid dengan berlebihan dan lain sebagainya

5. Bid’ah Muharramah ; bid’ah yang masuk dalam prinsip atau bahasan kaidah tentang penetapan status hukum haram, seperti : pemikiran Qadariyah, jabariyah, murji’ah, mujassimah (contohnya : Wahabiyah, Karramiyah dan sejenisnya)

Jika perkara baru tersebut sesuai dengan sunnah maka itu baik (hasanah) dan status hukumnya bisa jadi sunnah, bahkan hingga wajib.

Namun, jika sesuatu perkara baru bertentangan dengan sunnah maka itu buruk (qabihah) dan status hukumnya bisa jatuh pada status hukum makruh bahkan haram.

Semoga dengan pemaparan singkat ini dapat memberikan pemahaman yang benar dalam memahami bid’ah dan sunnah. Dan sekali lagi bid’ah itu bukan status hukum, ingat ini.

Bahkan ada sesuatu yang dibenci tapi halal, yaitu thalaq (perceraian). Sangat tidak mungkin kalau karena disebabkan dibenci kemudian langsung dimasukkan kedalam status hukum haram. Jadi pemahaman-pemahaman seperti ini atau sejenisnya adalah benar-benar absurd.

Wallahu A'lam.