CARA ORANG-ORANG SHALIH DARI KELUARGA BA'ALAWI (HABAIB) MENDIDIK ANAK-ANAKNYA...
1) Ibu ketika menyusui sambil membaca Ayat Kursi dan Al-Ikhlas, Al-'Alaq, An-Nas dan mengulang-ulang bacaan.
2) Pertama kali yang diajarkan kepada anak mereka...Bahwasanya aku ridho Allah sebagai Tuhanku dan Islam agamaku dan Nabi Muhammad Nabi dan Rasulku.
3) Mengajak keluar anak-anak kecil ketika waktu malam yang terakhir (sebelum subuh) ke Masjid agar menjadi kebiasaan.
4) Sebelum memasuki bulan-bulan berkah seperti Ramadhan, mereka mengumpulkan anak-anak mereka dan bertanya kepada mereka, apa yang akan kalian kerjakan dibulan yang berkah ini? Dari amalan membaca Al-Qur'an, dzikir, sedekah dll.
Marquee text
- Home
- Artikel
- Salafi-Wahabi
- About Syiah
- Apakah syiah itu ?
- Apa Madhab Ahlul Bait?
- Apa Ahlussunnah Waljamaah?
- Kapan lahirnya Aqidah Aswaja ?
- perbedaan Aswaja dgn Syiah ?
- Apa dan siapa Al-Bayyinat
- Rijalul Bayyinat
- Sahabat Nabi SAW
- Khalifah Abu Bakar R.A
- Ahlul Bait
- Imam Ali K.W.
- Fatimah Az-Zahra R.A
- Alawiyyin
- Asyura
- Mut'ah
- Himbauan dari Al-Bayyinat
- Al Firgoh An Najiah
- Fatawa Imam/ Ulama
- Email Al-Bayyinat
- Link-link situs islami
- Akidah Menurut Ajaran Nabi
- Alawiyyin
- Aswaja
- Download
- Audio
- About Me
Showing posts with label Manaqib keturunan Rasul SAW. Show all posts
Showing posts with label Manaqib keturunan Rasul SAW. Show all posts
31 March 2017
15 November 2013
Merajut Cinta Bersama Syahid Karbala “Imam Husain Ra" oleh Buya Yahya
Merajut Cinta Bersama Syahid Karbala “Imam Husain Ra”
Ahlul bait dan para sahabatnya ?...
Keberanian Imam Husain RA (cucu Rasulullah SAW) sebagai Syahid Karbala . . .
Dengan ini Buya Yahya mengajak melestarikan kecintaan kepada ahlu bait Rasulullah SAW . .
- Buya mengajak kita pergi ke tengah padang Karbala untuk tersenyum dan menitikan air mata bersama Imam Husain RA, menyaksikan sebuah perjuangan membela kemuliaan dan menyaksikan kematian yang menghidupkan hati yang telah mati yaitu “Mati Dalam Kesyahidan”.
- > https://ia601006.us.archive.org/22/items/KesyahidanImamHusein/Kesyahidan%20Imam%20Husein.mp3
- >https://ia700701.us.archive.org/12/items/CeramahBuyaYahya/KisahImamHusain_merajutSyahidKarbala.mp3
- >https://archive.org/download/BENANGMERAH_20130503/BENANG%20MERAH%20-%20AHLUL%20BAIT.mp3
- > http://www.elhooda.net/2013/10/mp3-kajian-islam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah/
- > http://ceramahbuyayahya.wordpress.com/category/ceramah/ (Pilih paling bawah) > Merajut
- Cinta Bersama Syahid Karbala Imam Husein ra
- http://www.buyayahya.tv/search/label/KARBALA?&max-results=9
Indahnya berbagi...
jangan lupa dishare ya..
sebab Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
"Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya." HR. Imam Muslim
24 August 2012
Imam Husein bin Sayyidina Ali Ra
![]() |
| Ahlul Bait |
Pernah suatu hari, Rasulullah SAW menunaikan shalat dan sangat lama melakukan sujud. Bukan hanya karena ingin lebih dekat kepada Allah SWT, melainkan juga karena menjaga agar Husein dan kakaknya Hasan tidak terjatuh dari punggung beliau. Ketika itu kedua cucunda tengah bermain-main di punggung kakekanda yang mulia. Sungguh kasih sayang yang luar biasa. Nabi sangat mencintai kedua cucunda, sehingga kehidupan mereka seperti kehidupan malaikat; berada dalam naungan Allah SWT. Di masa kanak-kanak, mereka mendapat ucapan-ucapan wahyu di lingkungan kenabian. Rasulullah SAW memberi mereka pelajaran dan cara hidup islami.
Sementara dari lingkungan kedua orang tua, mengambil suri teladan yang mulia. Dalam lingkungan yang mulia seperti itulah Hasan dan Husein hidup berdampingan.
Abu Hurairah bercerita : “Rasulullah Saw datang kepada kami bersama ke dua cucu beliau, Hasan dan Husein. Yang pertama di bahu beliau yang satu, yang ke dua di bahu beliau yang lain. Sesekali Rasulullah menciumi mereka, sampai berhenti di tempat kami berada. Kemudian beliau bersabda :
”Barang siapa mencintai keduanya ( Hasan dan Husein ) berarti juga mencintai daku; barang siapa membenci keduanya berarti juga membenci daku”.
Pada hadits yang lain :
حسين منّى وانا من حسين, احبّ اللّه من احبّ حسينا, حسين سبط من الأسباط.
( رواه التّرمذى )
“Husein adalah bagian dari diriku dan aku adalah bagian dari diri Husein. Semoga Allah swt mencintai orang yang mencintai Husein. Husein adalah salah satu cucu diantara para cucuku”.
( HR. Turmudzi )
الحسن والحسين ريحنتاي من الدّنيا. ( رواه احمد,..)
“Hasan dan Husein adalah dua wewangian saya dari dunia.”
( HR. Ahmad, Ibnu Adi, Ibnu Asakir dan Turmudzi )
02 July 2012
Habib Abdurrahman Assegaf
Habib Abdurrahman Assegaf
Habib
Abdurrahman Assegaf adalah salah seorang tokoh para wali dan ulama dari Ahlil
Bait Al-Ba'alawi yang kembali kepadanya sebahagian nasab keluarga Ba'alawi di
Hadramaut.
Beliau
dilahirkan di Tarim pada tahun 739H. Nama sebenarnya ialah Habib Abdurrahman
Assegaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali bin Alwi bin Al-Faqih Al-Muqoddam.
Dijuluki Assegaf karena ilmunya mengugguli ulama dan auliya di zamannya. Beliau
adalah kakek dari Alaydrus, bin Syihabuddin, bin Syeikh Abubakar, Alatas,
Al-Hadi, Ba-Aqil, Al-Baiti dan lain-lain.
Sebahagian dari karamah beliau
diriwayatkan bahawasanya hampir setiap tahunnya banyak orang melihat beliau
sedang hadir di tempat-tempat penting di Makkah. Ketika ditanyakan oleh
sebahagian murid beliau: "Apakah anda pernah berhaji?" Jawab beliau:
"Jika secara zahir tidak pernah". Diriwayatkan oleh salah seorang
murid beliau yang bernama Muhammad bin Hassan Jamalullail: "Pada suatu
hari aku pernah di masjid Sayid Abdurrahman As-Seggaf. Waktu itu aku merasa
lapar sekali, tapi aku malu untuk mengadukan pada beliau tentang keadaanku.
Rupanya beliau tahu akan keadaanku yang sebenarnya. Beliau memanggilku ke atas
loteng masjid. Anehnya kudapatkan di hadapan beliau sudah terhidang makanan
yang lazat. Waktu kutanya dari manakah mendapatkan makanan itu?" Beliau
hanya menjawab: "Hidangan ini kudapati dari seorang wanita". Padahal
kutahu tidak seorangpun yang masuk dalam masjid".
Seorang murid beliau yang bernama Syeikh Abdurrahim bin Ali Khatib berkata:
"Pada suatu waktu sepulangnya kami dari berziarah ke makam Nabi Hud a.s.
bersama Sayid Abdurrahman, beliau berkata: "Kami tidak akan solat Maghrib
kecuali di Fartir Rabi'". Kami sangat hairan sekali dengan ucapan beliau.
Padahal waktu itu matahari hampir saja terbenam sedangkan jarak yang harus kami
tempuh sangat jauh. Beliau tetap saja menyuruh kami berjalan sambil berzikir
kepada Allah. Tepat waktu kami tiba di Fartir Rabi' matahari muali terbenam.
Sehingga kami yakin bahawa dengan kekaramahan beliau sampai matahari tertahan
untuk condong sebelum beliau sampai di tempat yang ditujunya. Kata sebahagian
murid beliau: "Kejadian itu sama seperti yang pernah terjadi pada diri
Syeikh Ismail Al-Hadrami".
Diriwayatkan
pula bahawasanya pada suatu hari beliau sedang duduk di depan murid-murid
beliau. Tiba-tiba beliau melihat petir. Beliau berkata pada mereka:
"Bubarlah kamu sebentar lagi akan terjadi banjir di lembah ini". Apa
yang diucapkan oleh beliauitu terjadi seperti yang dikatakan.
Waktu
Sayid Abdurrahman As-Seggaf mengunjungi salah seorang isterinya yang berada di
suatu desa, beliau mengatakan pada isterinya yang sedang hamil: "Engkau
akan melahirkan seorang anak lelaki pada hari demikian dan akan mati tepat pada
hari demikian dan demikian, kelak bungkuskan mayatnya dengan kafan ini".
Kemudian beliau memberikan sepotong kain. Dengan izin Allah isterinya
melahirkan puteranya tepat pada hari yang telah ditentukan dan tidak lama bayi
yang baru dilahirkan itu meninggal tepat pada hari yang diucapkan oleh beliau
sebelumnya.
Diriwayatkan pula ada sebuah perahu yang penuh dengan penumpang dan barang
tiba-tiba bocor saja tenggelam. Semua penumpang yang ada dalam perahu itu
panik. Sebahagian ada yang beristighatsah (minta tolong) pada sebahagian wali
yang diyakininya dengan menyebut namanya. Sebahagian yang lain ada yang
beristighatsah dngan menyebut nama Sayid Abdurrahma As-Seggaf. Orang yang
menyebutkan nama Sayid Abdurrahman As-Seggaf itu bermimpi melihat beliau sedang
menutupi lubang perahu yang hampir tenggelam itu dengan kakinya, hingga
selamat. Cerita itu didengar oleh orang yang kebetulan tidak percaya pada Sayid
Abdurraman As-Seggaf. Selang beberapa waktu setelah kejadian di atas orang yang
tidak percaya dengan Sayid Abdurrahman itu tersesat dalam suatu perjalanannya
selama tiga hari. Semua persediaan makan dan minumnya habis. Hampir ia putus
asa. Untunglah ia masih ingat pada cerita istighatsah dengan Sayid Abdurrahman
As-Seggaf yang pernah didengarnya beberapa waktu yang lalu. Kemudian ia
beristighatsah dengan menyebutkan nama beliau. Dan ia bernazar jika memang
diselamatkan oleh Allah dalam perjalanan ini ia akan patuh dengan Sayid
Abdurrahman As-Seggaf. Belum selesaimenyebut nama beliau tiba-tiba datanglah
seorang lelaki yang memberinya buah kurma dan air. Kemudian ia ditunjukkan jalan
keluar sampai terhindar dari bahaya.
Pernah diriwayatkan bahawa salah seorang pelayan Sayid Abdurrahman As-Seggaf ketika di tengah perjalanan kenderaannya dan perbekalannya dirampas oleh seorang dari keluarga Al-Katsiri.
Pernah diriwayatkan bahawa salah seorang pelayan Sayid Abdurrahman As-Seggaf ketika di tengah perjalanan kenderaannya dan perbekalannya dirampas oleh seorang dari keluarga Al-Katsiri.
Pelayan yang merasa takut itu segera
beristighatsah menyebut nama Sayid Abdurrahman untuk minta tolong dengan suara
keras. Ketika orang yang merampas kenderaan dan perbekalan sang pelayan
tersebut akan menjamah kenderaan dan barang perbekalannya tiba-tiba tangannya
kaku tidak dapat digerakkan sedikitpun. Melihat keadaan yang kritikal itu si
perampas berkata pada pelayan yang dirampas kenderaan dan perbekalannya:
"Aku berjanji akan mengembalikan barangmu ini jika kamu beristighatsah
sekali lagi kepada syeikhmu yang kamu sebutkan namanya tadi. Si pelayan segera
beristighatsah mohon agar tangan orang itu sembuh seperti semula.
Dengan izin
Allah tangan si perampas itu segera sembuh dan barangnya yang dirampas segera
dikembalikan kepada si pelayan. Waktu pelayan itu bertemu dengan Sayid Abdurrahman
As-Seggaf, beliau berkata: "Jika beristighatsah tidak perlu bersuara
keras, kerana kami juga mendengar suara perlahan".
Sebenarnya karamah beliau sangat banyak sehingga sukar untuk disebutkan semua. Beliau wafat di kota Tarim pada tahun 819H dan dimakamkan di perkuburan Zanbal. Makam beliau banyak dikunjungi orang.
Sebenarnya karamah beliau sangat banyak sehingga sukar untuk disebutkan semua. Beliau wafat di kota Tarim pada tahun 819H dan dimakamkan di perkuburan Zanbal. Makam beliau banyak dikunjungi orang.
20 June 2012
Manaqib Al Imam Muhammad Al Faqih Al Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbath
Al Imam Muhammad Al Faqih
Al Muqaddam
[Al-Imam
Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad - Ali - Muhammad Shohib Mirbath - Ali Khali'
Qasam - Alwi - Muhammad - Alwi - Ubaidillah - Ahmad Al-Muhajir - Isa Ar-Rumi -
Muhammad An-Naqib - Ali Al-'Uraidhi - Ja'far Ash-Shodiq - Muhammad Al-Baqir -
Ali Zainal Abidin - Husain - Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW]
Beliau adalah
Al-Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Khali' Qasam bin
Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa,
dan terus bersambung nasabnya sampai Rasulullah SAW. Beliau dijuluki dengan
Al-Faqih Al-Muqaddam (seorang faqih yang diunggulkan).
Beliau adalah
al-'arif billah, seorang ulama besar, pemuka para imam dan guru, suri tauladan
bagi al-'arifin, penunjuk jalan bagi as-salikin, seorang qutub yang agung, imam
bagi Thariqah Alawiyyah, seorang yang mendapatkan kewalian rabbani dan karomah
yang luar biasa, seorang yang mempunyai jiwa yang bersih dan perjalanan
hidupnya terukir dengan indah.
Beliau adalah
seorang yang diberikan keistimewaan oleh Allah SWT, sehingga beliau mampu
menyingkap rahasia ayat-ayat-Nya. Ditambah lagi Allah memberikannya kemampuan
untuk menguasai berbagai macam ilmu, baik yang dhohir ataupun yang bathin.
Beliau
dilahirkan pada tahun 574 H. Beliau mengambil ilmu dari para ulama besar di
jamannya. Di antaranya adalah Al-Imam Al-Allamah Al-Faqih Abul Hasan Ali bin
Ahmad bin Salim Marwan Al-Hadhrami At-Tarimi. Al-Imam Abul Hasan ini adalah
seorang guru yang agung, pemuka para ulama besar di kota Tarim. Selain itu beliau (Al-Faqih
Al-Muqaddam) juga mengambil ilmu dari Al-Faqih Asy-Syeikh Salim bin Fadhl dan
Al-Imam Al-Faqih Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Ubaid (pengarang kitab
Al-Ikmal Ala At-Tanbih). Gurunya itu, yakni Al-Imam Abdullah bin Abdurrahman,
tidak memulai pelajaran kecuali kalau Al-Faqih Al-Muqaddam sudah hadir. Selain
itu beliau (Al-Fagih Al-Muqaddam) juga mengambil ilmu dari beberapa ulama besar
lainnya, diantaranya Al-Qadhi Al-Faqih Ahmad bin Muhammad Ba'isa, Al-Imam Muhammad
bin Ahmad bin Abul Hubbi, Asy-Syeikh Sufyan Al-Yamani, As-Sayyid Al-Imam
Al-Hafidz Ali bin Muhammad bin Jadid, As-Sayyid Al-Imam Salim bin Bashri,
Asy-Syeikh Muhammad bin Ali Al-Khatib, Asy-Syeikh As-Sayyid Alwi bin Muhammad
Shohib Mirbath (paman beliau) dan masih banyak lagi.
Dalam mengambil
sanad keilmuan dan thariqahnya, beliau mengambil dari dua jalur sekaligus.
Jalur pertama adalah beliau mengambil dari orangtua dan pamannya, orangtua dan
pamannya mengambil dari kakeknya, dan terus sambung-menyambung dan akhirnya
sampai kepada Rasulullah SAW. Adapun jalur yang kedua, beliau mengambil dari
seorang ulama besar dan pemuka ahli sufi, yaitu Sayyidina Asy-Syeikh Abu Madyan
Syu'aib, melalui dua orang murid Asy-Syeikh Abu Madyan, yaitu Abdurrahman Al-Maq'ad
Al-Maghrobi dan Abdullah Ash-Sholeh Al-Maghrobi. Kemudian Asy-Syeikh Abu Madyan
mengambil dari gurunya, gurunya mengambil dari gurunya, dan terus
sambung-menyambung dan akhirnya sampai kepada Rasulullah SAW.
Di masa-masa
awal pertumbuhannya, beliau menjalaninya dengan penuh kesungguhan dan mencari
segala hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Beliau berpegang teguh
pada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah, serta mengikuti jejak-jejak para
Sahabat Nabi dan para Salafus Sholeh. Beliau ber-mujahadah dengan keras dalam
mendidik akhlaknya dan menghiasinya dengan adab-adab yang sesuai dengan
syariah.
Beliau juga giat
dalam menuntut ilmu, sehingga mengungguli ulama-ulama di jamannya dalam
penguasaan berbagai macam ilmu. Para ulama di jamannya pun mengakui akan
ketinggian dan penguasaannya dalam berbagai macam ilmu. Mereka juga mengakui
kesempurnaan yang ada pada diri beliau untuk menyandang sebagai imam di
jamannya.
Mujahadah beliau
di masa-masa awal pertumbuhannya bagaikan mujahadahnya orang-orang yang sudah
mencapai maqam al-'arif billah. Allah-lah yang mengaruniai kekuatan dan
keyakinan di dalam diri beliau. Allah-lah juga yang mengaruniai beliau berbagai
macam keistimewaan dan kekhususan yang tidak didapatkan oleh para qutub yang
lainnya. Hati beliau tidak pernah kosong sedetikpun untuk selalu berhubungan
dengan Allah. Sehingga tampak pada diri beliau asrar, waridad, mawahib dan
mukasyafah.
Beliau adalah
seorang yang tawadhu dan menyukai ketertutupan di setiap keadaannya. Beliau
pernah berkirim surat kepada seorang pemuka para ahli sufi yang bernama
Asy-Syeikh Sa'ad bin Ali Adz-Dzofari. Setelah Asy-Syeikh Sa'ad membaca surat
itu dan merasakan kedalaman isi suratnya, ia terkagum-kagum dan merasakan asrar
dan anwar yang ada di dalamnya. Kemudian ia membalas surat tersebut, dan di
akhir suratnya ia berkata, "Engkau, wahai Faqih, orang yang diberikan
karunia oleh Allah yang tidak dipunyai oleh siapapun. Engkau adalah orang yang
paling mengerti dengan syariah dan haqiqah, baik yang dhohir maupun yang bathin."
Berkata Al-Imam
Asy-Syeikh Abdurrahman As-Saggaf tentang diri Al-Faqih Al-Muqaddam, "Aku
tidak pernah melihat atau mendengar suatu kalam yang lebih kuat daripada
kalamnya Al-Faqih Muhammad bin Ali, kecuali kalamnya para Nabi alaihimus salam.
Kami tidak dapat mengunggulkan seorang wali pun terhadapnya (Al-Faqih
Al-Muqaddam), kecuali dari golongan Sahabat Nabi, atau orang yang diberikan
kelebihan melalui Hadits seperti Uwais (Al-Qarni) atau selainnya."
Beliau, Al-Faqih
Al-Muqaddam, pernah berkata, "Aku terhadap masyakaratku seperti
awan." Suatu hari dikisahkan bahwa beliau pernah tertinggal pada saat
ziarah ke kubur Nabiyallah Hud alaihis salam. Beliau berkisah, "Pada suatu
saat aku duduk di suatu tempat yang beratap tinggi. Tiba-tiba datanglah Nabiyallah
Hud ke tempatku sambil membungkukkan badannya agar tak terkena atap. Lalu ia
berkata kepadaku, 'Wahai Syeikh, jika engkau tidak berziarah kepadaku, maka aku
akan berziarah kepadamu.'"
Dikisahkan juga
bahwa pada suatu saat ketika beliau sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya,
datanglah Nabi Khidir alaihis salam menyerupai seorang badui dan diatas
kepalanya terdapat kotoran. Bangunlah Al-Faqih Al-Muqaddam, lalu mengambil
kotoran tersebut dari kepalanya dan kemudian memakannya. Kejadian tersebut
membuat para sahabatnya terheran-heran. Akhirnya mereka bertanya,
"Siapakah orang itu?." Maka Al-Faqih Al-Muqaddam menjawab, "Dia
adalah Nabi Khidir alaihis salam."
Beliau, Al-Faqih
Al-Muqaddam, banyak menghasilkan para ulama besar di jamannya. Beberapa ulama
besar berhasil dalam didikan beliau. Yang paling terutama adalah dua orang
muridnya, yaitu Asy-Syeikh Abdullah bin Muhammad 'Ibad dan Asy-Syeikh Sa'id bin
Umar Balhaf. Selain keduanya, banyak juga ulama-ulama besar yang berhasil
digembleng oleh beliau, diantaranya Asy-Syekh Al-Kabir Abdullah Baqushair,
Asy-Syeikh Abdurrahman bin Muhammad 'Ibad, Asy-Syeikh Ali bin Muhammad
Al-Khatib dan saudaranya Asy-Syeikh Ahmad, Asy-Syeikh Sa'ad bin Abdullah Akdar
dan saudara-saudara sepupunya, dan masih banyak lagi.
Beliau wafat
pada tahun 653 H, akhir dari bulan Dzulhijjah. Jazad beliau disemayamkan di
pekuburan Zanbal, di kota Tarim. Banyak masyarakat yang berduyun-duyun
menghadiri prosesi pemakaman beliau. Beliau meninggalkan 5 orang putra, yaitu
Alwi, Abdullah, Abdurrahman, Ahmad dan Ali.
Radhiyallohu
anhu wa ardhah...
[Disarikan dari
Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad
Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]
Manaqib Imam Muhammad Shohib Mirbath bin Ali bin Alwi bin Muhammad
Imam Muhammad Shohib Mirbath
Al-Imam Muhammad Shohib Mirbath
– Ali Khali’ Qasam – Alwi – Muhammad – Alwi – Ubaidillah – Ahmad Al-Muhajir –
Isa Ar-Rumi – Muhammad An-Naqib – Ali Al-’Uraidhi – Ja’far Ash-Shodiq –
Muhammad Al-Baqir – Ali Zainal Abidin – Husain – Fatimah Az-Zahro – Muhammad
SAW]
Beliau adalah Al-Imam Muhammad
Shohib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin
Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-’Uraidhi bin
Ja’far Ash-Shodiq, dan terus bersambung nasabnya hingga Rasulullah SAW.
Beliau terkenal dengan julukan
Shohib Mirbath, yang artinya penghuni daerah Mirbath. Mirbath adalah julukan
bagi kota Dhafar lama, suatu daerah berpantai.
Beliau adalah seorang imam yang
agung, unggulan di jamannya. Beliau banyak menguasai berbagai macam ilmu dan
gemar mengamalkannya. Beliau seorang yang hidup dalam keadaan zuhud dan wara’.
Hidupnya penuh dengan ibadah dan berbuat kebajikan. Seseorang yang melihat
kehidupan beliau, pasti terkagum akan keindahan akhlak dan kemuliaan
sifat-sifatnya.
Selain itu beliau juga seorang
yang sangat dermawan dan pemurah. Kedalamannya di dalam menguasai ilmu
menjadikan beliau sebagai seorang guru yang agung. Dengan kemuliaan dan
kebaikan kehidupannya, muncullah di dalam diri beliau berbagai macam karomah.
Beliau aslinya berasal dari
Hadramaut, kemudian memutuskan tinggal di Mirbath. Banyak para ulama yang
berhasil dalam didikan beliau dan akhirnya menjadi ulama-ulama besar.
Diantaranya adalah 4 putra beliau sendiri, yaitu Alwi, Abdullah, Ahmad dan Ali
(ayah dari Ah-Fagih Al-Muqaddam). Selain itu ada juga beberapa ulama lainnya
seperti Asy-Syeikh Muhammad bin Ali (yang disemayamkan di kota Sihr),
Asy-Syeikh Al-Imam Ali bin Abdullah Adh-Dhafariyyin, Asy-Syeikh Salim bin
Fadhl, Asy-Syeikh Ali bin Ahmad Bamarwan, Al-Qadhi Ahmad bin Muhammad Ba’isa,
Asy-Syeikh Ali bin Muhammad Al-Khatib.
Dari beliaulah, muncullah
generasi-generasi yang membawa bendera dakwah seantero negeri. Al-Habib
Abdullah bin Alwi Alhaddad melukiskan beliau dalam suatu bait syairnya,
“Penghuni Mirbath, seorang
imam,
pusat bermuaranya keturunannya, para ahli dakwah”
pusat bermuaranya keturunannya, para ahli dakwah”
Siapa lagi kalau bukan dari
keturunan anak-anak beliau, yaitu Ali (ayah dari Al-Fagih Al-Muqaddam) dan Alwi
(Ammul Fagih). Dari putra-putra beliau itulah, bertebaran insan-insan pembawa
hidayah kepada jalan yang benar. Merekalah guru dari semua guru yang
menyampaikan syariah ke seluruh negeri. Merekalah insan-insan pembawa kebenaran
dari generasi ke generasi, dan bermuarakan dari Shohibur Risalah Nabi Muhammad
SAW.
Beliau wafat pada tahun 556 H
dan disemayamkan di Mirbath. Sampai sekarang makam beliau banyak diziarahi
orang-orang yang ingin mengambil barakah dan terkabulnya doa.
Radhiyallohu anhu wa ardhah…
[Disarikan dari Syarh
Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad
Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]
13 June 2012
Manaqib Imam Ali Kholi Qosam bin Alwi bin Muhammad
Imam ‘Ali Kholi’ Qosam
[Al-Imam Ali Khali' Qasam -
Alwi - Muhammad - Alwi - Ubaidillah - Ahmad Al-Muhajir - Isa Ar-Rumi - Muhammad
An-Naqib - Ali Al-'Uraidhi - Ja'far Ash-Shodiq - Muhammad Al-Baqir - Ali Zainal
Abidin - Husain - Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW]
Beliau adalah Al-Imam Ali bin
Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin
Muhammad bin Ali Al-’Uraidhi bin Ja’far Ash-Shodiq, dan terus bersambung
nasabnya hingga Rasulullah SAW.
Beliau terkenal dengan julukan
Khali’ Qasam (pelepas/pemberi Qasam). Julukan tersebut diberikan kepada beliau
dikarenakan beliau membeli suatu tanah dengan harga 20.000 Dinar. Tanah itu
kemudian beliau namakan dengan Qasam, sesuai dengan nama tanah keluarganya di
kota Bashrah. Di tanah itu beliau menanam pohon kurma. Disana beliau juga
membangun suatu rumah yang ditempati pada saat panen kurma. Kemudian beberapa
orang membangun rumah-rumah disamping rumah beliau. Sampai akhirnya tempat itu
menjadi suatu desa dan dinamakan dengan desa Qasam.
Beliau dilahirkan di Bait
Jubair (di Hadramaut), suatu daerah yang penuh berkah dan kebaikan. Beliau
dibesarkan di daerah itu. Beliau mengambil ilmu dari ayahnya. Beliau sering
mondar-mandir bepergian ke kota Tarim. Akhirnya beliau, diikuti oleh
saudara-saudara dan anak pamannya, memutuskan untuk tinggal di kota Tarim.
Beliau adalah seorang imam
agung, guru besar, dan terkenal dengan keluasan ilmunya. Terkumpul di dalam
diri beliau keutamaan dan kebaikan, anwar dan asrar. Beliau dikaruniai oleh
Allah dengan maqam yang sangat tinggi, sehingga tampak dalam diri beliau
karomah-karomah yang luar biasa. Beliau adalah seorang alim yang tiada duanya
di jamannya dan tempat rujukan bagi manusia di saat itu. Jarang sekali pada
suatu jaman terdapat orang yang mempunyai maqam setinggi beliau.
Para ulama besar dan ahli
sejarah banyak menyebutkan manaqib dan ketinggian maqam beliau di buku-buku
mereka. Termasuk di antaranya adalah Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi
Alhaddad menyebutnya dalam suatu syairnya,
Rasulullah membalas salamnya,
“(Salam bagimu) Ya Syeikh”
sebagai jawaban atas salamnya (kepada Rasulullah),
maka dibuat kagumlah para orang-orang mulia.
sebagai jawaban atas salamnya (kepada Rasulullah),
maka dibuat kagumlah para orang-orang mulia.
Syair tersebut menggambarkan
suatu karomah besar yang ada pada diri beliau, Al-Imam Ali Khali’ Qasam. Hal
ini terjadi setelah beliau tinggal di kota Tarim. Beliau jika menjalankan
shalat dan sampai pada waktu tahiyat dan membaca salam kepada Nabi SAW,
“As-salaamu ‘alaika ayyuhan Nabiyu wa rohmatullohi wa barakaatuh,” beliau
mengulang-ulangi bacaan tersebut, sampai beliau mendengar langsung jawaban dari
Rasulullah SAW, “As-salaamu ‘alaika ya Syeikh (salam sejahtera bagimu wahai
Syeikh).” Demikianlah yang terjadi sebagaimana diceritakan oleh beberapa ulama
seperti Al-Jundi, Asy-Syaraji, Ibnu Hisan, dan lain-lain. Al-Allamah Asy-Syeikh
Al-Khatib juga menyebutkannya di dalam kitabnya Al-Jauhar Asy-Syafaaf.
Kekhususan ini, yakni dapat
mendengar jawaban salam dari Rasulullah SAW, merupakan suatu maqam yang tinggi.
Tidak bisa mendapatkan maqam setinggi itu, kecuali hanya segelintir auliya.
Maqam itu tidak bisa didapatkan kecuali oleh orang yang sangat-sangat dekat
dengan Allah. Asy-Syeikh Abdul Wahab Asy-Sya’rawi berkata dalam hal ini, “Tidak
akan sampai seseorang kepada maqam berinteraksi langsung dengan Rasulullah SAW
dan mendengar jawaban salam dari beliau SAW, kecuali ia telah melampaui 247.999
maqam para Auliya.”
Asy-Syeikh Abu Al-Abbas
Al-Mursi bertanya kepada teman-temannya, “Adakah diantara kalian yang ketika
menyampaikan salam kepada Rasul SAW di dalam shalat, terus dapat mendengar
jawaban salam dari beliau SAW?.” Mereka berkata, “Tidak ada.” Selanjutnya
beliau berkata, “Menangislah kalian, karena kalbu-kalbu kalian tertutup dari
Allah dan Rasul-Nya.”
Beliau, Al-Imam Ali Khali’
Qasam, tidak hanya mendapat jawaban salam dari Rasul SAW di dalam shalatnya
saja, tetapi di dalam semua kesempatan yang beliau memberikan salam kepada
Rasul SAW. Beliau, meskipun mempunyai maqam yang demikian tinggi, adalah
seorang yang sangat tawadhu. Beliau mempunyai akhlak yang mulia. Disamping itu,
beliau adalah seorang yang pemurah.
Beliau meninggal berkisar pada
tahun 523-529 H. Di dalam riwayat lain dikatakan beliau meninggal pada tahun
529 H. Jasad beliau disemayamkan di pekuburan Zanbal, Tarim.
Radhiyallohu anhu wa ardhah…
[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah,
Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya
Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]
Subscribe to:
Posts (Atom)
