Marquee text

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS: At-Taubah 128)
Showing posts with label A. Mukadimah Akidah Menurut Ajaran Nabi. Show all posts
Showing posts with label A. Mukadimah Akidah Menurut Ajaran Nabi. Show all posts

11 June 2012

A. Mukadimah Akidah Menurut Ajaran Nabi

Mukadimah

كتاب  ” العقائد الدينية “  الجزء الرابع  للحبيب عبدالرحمن بن سقاف السقاف 

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدُ للهِ الذي شهدتْ بوجودِهِ الكائناتُ و نطقتْ بوحدانيتِهِ الأرضُ و السمواتُ ، العالمِ بما تكنه الصدورُ والمطلعِ على خفياتِ الامورِ المنزهِ عن الشبيهِ و النظيرِ والمعينِ و الوزيرِ ليس كمثلِهِ شيئٌ و هو السميعُ البصير و الصلاةُ و السلامُ على خاتمِ الانبياءِ و المرسلين المبعوثِ رحمةً للعالمين سيّدِنَا محمدٍ و آلِهِ سفنِ النجاةِ وأصحابِهِ البررةِ الهداةِ و سلّم تسليمًا كثيرًا ، اما بعد

MUKADIMAH KITAB
AKIDAH MENURUT AJARAN NABI
Oleh: Hasan Husen Assagaf
Syarah kitab: Al-Aqa’id Ad-Diniyyah
Karya: Habib Abdurahman bin Saggaf Assagaf Al-‘Alawi Al-Husaini Al-Syafi’i Al-Asy’ari
ISBN NO. 978-979-99462-4-9

Dengan nama Allah yang Pengasih lagi Penyayang.
Segala puji bagi Allah yang wujud-Nya disaksikan oleh makhluk, Keesaan-Nya dituturkan oleh langit dan bumi, mengetahui segala yang terkandung dalam hati, melihat semua yang tersembunyi, Maha Suci Allah dari segala yang menyerupai, membantu, dan mendampingi, tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Shalat dan salam tercurah kepada penuntup para rasul dan nabi, yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta, sayyidinah Muhammad saw, keluarganya perahu penyelamat, dan sahabatnya yang berbakti. Berilah salam, Ya Allah, atas mereka sebanyak banyaknya salam.
SYARAH 
Saudaraku yang dicintai Allah! Setiap mukadimah khuthbah atau kitab pasti diawali  dengan ucapan puji dan dan syukur kepada Allah, kemudan setelah itu ucapan shalawat dan salam kepada Rasulallah saw, keluaraga dan para sahabat beliau.
Sekarang timbul pertanyaan kenapa kita perlu mengucapkan sealawat kepada Nabi saw sedangkan beliau adalah orang termulia, tersuci, dan terpilih di muka bumi dan dijamain masuk surga? Tentu jawaban yang tepat karena shalawat merupakan ajuran yang dianjurkan Allah kepada hamba-Nya setelah Allah menganjurkan terlebih dahulu kepada diri-Nya sendiri dan para malaikat untuk berselawat kepada Nabi saw.
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُواْ صَلُّواْ عَلَيْهِ وَسَلِّمُواْ تَسْلِيماً
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (al-Ahzab, 56).
Kalau Allah dan malaikat bershalawat kepada Nabi saw, maka sudah selayaknya kita sebagai umatnya untuk bershalawat pula kepada beliau.
Sholat dalam bahasa artinya do’a. Jadi shalawat kepada Nabi saw, keluarga dan sahabat beliau berarti medoakan mereka agar Allah senantiasa memberikan rahmat dan salam Nya kepada mereka yang tidak terputus putus. Bahkan bershalawat kepada Nabi saw dan keluarga beliau merupakan hal yang wajib dilakukukan dalam setiap sholat. Tidak sah sholat seseorang tanpa bershalawat kepada Nabi saw dan keluarganya.
Di lain fihak ada lagi yang mengatakan bahwa shalawat kepada Nabi saw berarti kita sedang menyambung hubungan atau ikatan cinta dengan beliau. Semakin banyak kita bershalawat kepada Nabi saw semakin kuat hubungan dan ikatan cinta kita kepada beliau, dan semakin banyak pula rahmat dan barokah dari Allah akan turun kepada kita. Maka dari itu kita diajurkan disaat bershalawat jangan hanya sekedar mengucapkan, tapi kita harus tanamkan di diri kita hubungan pendekatan kecintaan kita kepada Nabi saw agar berkat shalawat semua keinginan kita bisa dikabulkan.
Begitu pula jika kita ingin mengadakan hubungan dengan Allah, harus dengan shalawat. Yang dimaksudkan disini bukan membaca shalawat kepada Allah tapi melakukan shalawat atau mendirikan shalat shalat yang diwajibkan dan yang disunahkan. Semakin banyak kita shalat, semakin kuat hubungan dan ikatan kita dengan Allah dan semakin banyak rahmat dan berkat turun dari Allah. Sholat atau doa kita akan didengar. Karena dalam shalat berarti kita berada dalam posisi berhadapan muka secara langsung dan berbicara dengan Allah.
Sudah barang tentu dalam mengucapkan shalawat kepada Nabi saw harus disertai pula  dengan bershalawat kepada keluarga dan para sahabatnya. Yang dimaksud keluarganya adalah mereka yang mempunyai tali hubungan karabat dengan beliau. Dan sahabat Nabi saw adalah orang-orang yang pernah melihat Nabi saw, beriman dengan ajaran yang dibawa Nabi saw dan wafat tetap dalam keadaan keimanan.
Sahabat Nabi saw adalah orang-orang yang mencintai dan dicintai Nabi saw, orang orang mulia, patuh mengikuti jejak Nabi saw dan ta’at dengan segala perintahnya. Mereka tidak ma’shum. Mereka adalah manusia manusia yang tidak terlepas dari kesalahan dan perbuatan dosa. Namun mereka adalah orang-orang yang memiliki keimanan yang kokoh, rela mengorbankan harta dan nyawa demi agama, taat beribadah kepada Allah dengan setulus hati. Bahkan diantara mereka ada yang dijamain masuk surga yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Zubair bin ’Awwam, Thalhah, Abdurahman bin ’Auf, Saad bin Abi Waqqash, Abu ’Ubaidah bin Jarrah, dan Said bin Zed ra. Karena jasa jasa mereka yang begitu besar, Allah telah memberikan ridha-Nya kepada mereka dan menjanjikan balasan surga di akhirat.
وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَداً ذلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (al-Taubah : 100).
Kalau Allah telah memberi Ridho-Nya kepada para sahabat, maka sudah seharusnya kita sebagai muslim menghormati mereka dan mendoakan mereka, bukan menyalahkan mereka apalagi melaknat dan mengkafirkan mereka (al-’iyadhu billah).

09 June 2012

Sekelumit Tentang Penulis -Akidah Menurut Ajaran Nabi

Nama lengkapnya adalah Habib Abdurrahman bin Saggaf bin Husen bin Abubakar bin Umar bin Saggaf Assagaf. Beliau dilahirkan pada tahun1309 H di Kampung Pekojan, Jakarta. Ibunya bernama Syarifah Ummu Hani binti Abdurahman Assagaf. Beliau termasuk ulama klasik yang hidup di zaman al-Habib Ali Al Habsyi Kwitang.
Habib Abdurrahman Assagaf memulai studinya semasih kanak kanak dibawah pengawasan ayahnya Habib Saggaf bin Husen Assagaf yang mahir dalam bahasa Arab selama beberapa tahun sampai ia mampu memahami kitab-kitab Arab klasik. Setelah usianya 9 tahun, ia diberangkatkan ke kota Sewun Hadramut – Yaman untuk meneruskan studinya. Guru-gurunya di Hadramut di antaranya adalah syiekh Muhammad bin Muhammad Bakstir, seorang ulama ternama di kota Sewun pada zamannya. Hb Ahmad bin Abdurhaman Assagaf (ayahnya Hb Abdul Qadir Assaegaf-Jeddah), Hb Muhammad bin Hadi Assegaf dan masih banyak lagi ulama tidak bisa disebut satu persatu secara rinci. Setelah sampai pada usia dewasa kurang lebih 22 tahun ia kembali ke Jakarta.
Setibanya di Jakarta ia ditunjuk sebagai nadhir dan guru di Madrasah Jamiat Khair – jakarta. Dalam masa waktu kurang lebih 18 tahun dia mengembangkan ajaran-ajaran Islam di madrasah trb. Pada tahun 1349 H (1930M) beliau dipilih oleh pemerintah setempat untuk memangku jabatan sebagai Qhadi di Jakarta dan penulis wakalah syar’iyyah selama kurang lebih 20 tahun
Setelah lama memangku jabatan sebagai ghadi, pada tahun 1369 H (1950 M) ia mengundurkan diri dari jabatan tersebut karena usia yang sudah udzur.  Pada tanggal 27 Rabi’ul Awal 1390 Hijriyah bertepatan dengan 6 Juni 1970 Masehi Habib Abdurrahman Assagaf wafat dalam usia 81 tahun. Dia dimakamkan di pemakaman wakaf syeikh Naum di Tanah Abang yang makamnya berdekatan dengan makqam Habib Utsman bin Yahya. Sayangnya, kemudian pemakaman ini diambil-alih oleh pemerintah dan dibongkar.

Disamping tugas beliau sebagi ghadi, pengajar, penulis wakalah syariyah dan segala bentuk kegiatan yang bermangfaat bagi agama, beliau pula seorang pujangga besar dan penulis unggul. Tidak kurang dari 8 buku yang telah dikarangnya sampai sekarang masih dipelajari di pasantren pasantren yang beraliran Alhli Sunnah Wal jamaah di seluruh Indonesia. Kitab atau risalah yang ditulis Hb Abdurrahman bin Saggaf Assagaf diantaranya Ad-Durusul Fiqhiyyah yang terdiri dari 4 jus dan Al-Aqaid Ad-diniyyah juga terdiri dari 4 juz.
Kitab kitab Fiqih dan Aqaid ditulis oleh beliau disaat memangku jabatan sebagai nadhir dan pengajar di madrasah Jam’iyat Khair – Pekojan dan Tanah Abang. Buku buku beliau diterbitkan pertama kali oleh penerbit Bin Afif Surabaya yang kemudian diambil alih hak ciptanya oleh penerbit Bin Nabhan Surabaya dan dicetak ulang pada tanggal 1 Jumad tsani 1373H bertepatan tanggal 5 Febuari 1952. Semua kitab kitab beliau dalam bahasa Arab sampai saat ini masih beredar dan dicetak pada kertas Koran (stensil) agar bisa dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
Kitab ini, “Akidah Menurut Ajaran Nabi”, merupakan syarah dari kitab Al-Aqaid Ad-Diniyyah juz ke 4 karya Habib Abdurahman bin Saggaf Assagaf. Kitab ini secara garis besar memuat pokok pokok bahasan tentang kewajiban setiap mukallaf mengenal Allah dan rasul-Nya, uraian tentang sifat dua puluh, pembagian sifat dua puluh menjadi empat bagian: sifat nafsiyyah, salbiyyah, ma’ani dan ma’nawiyah, sifat wajib bagi rasul dan lawannya, iman kepada para nabi dan rasul, malaikat, kitab kitab samawi dan hari akhir, peristiwa khariq al-‘adah dan semua bahasan tentang sam’iyyat yang wajib diimani oleh setiap muslim, semuanya ini dibahas atau disyarah dalam bahasa Indonesia secara rinci menurut faham Ahlussunnah wal Jama’ah yang dipelopori oleh Abu Hasan Al-Asyari dan Abu Manshur al-Maturidi dan pengikut pengikut mereka.
Sebagai penutup saya (cucu pengarang) berharap semoga buku yang berjudul “Akidah Menurut Ajaran Nabi” syarah kitab al-Aqaid ad-Diniyyah karya Habib Abdurahman bin saggaf Assagaf bisa membawa mangfaat dan keberkahan bagi kita dan insyallah dapat pula menyejukan hati dan menambah semangat kita dalam mengenal Allah dan Rasul-Nya. Amin
Hasan Husen Assagaf