Marquee text

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS: At-Taubah 128)

26 May 2013

Mi’raj Bukan Pertanda Tuhan Berada Di Langit oleh Ust. Ansori dahlan


بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Aqidah Ahlus Sunnah adalah Allah tidak bersifat dengan sifat dzat makhluk, dzat Allah tidak punya kesamaan dengan dazt makhluk, dzat Allah tidak bersifat dengan Bersemayam, tidak juga berada di atas makhluk-Nya, apalagi berada dalam makhluk-Nya


Sangat banyak dalil tentang perbedaan Allah dan makhluk, tinggal bagaimana manusia nya membedakan nya, sebagian manusia ada yang hanya membedakan kaifiyat nya saja dan membiarkan dzat dan sifat Allah sama dengan makhluk, dalam anggapan nya, berbeda kaifiyat saja sudah cukup
 
Kesalahpahaman ini di dasari dari kesalahan mereka memahami dalil Al-Quran dan As-Sunnah, dan juga kesalahan dalam memahami pernyataan para ulama, mereka tidak pernah merasa bersalah dengan kesalahan ini, sehingga menimbulkan kontroversi dan kontradiksi dengan pemahaman mereka sendiri, karena ketika menemukan Ayat atau Hadits yang dhohir makna nya menunjukkan Tuhan di atas, mereka sangat percaya sekali bahwa Tuhan berada di Atas, tapi ketika mereka jumpai Ayat atau Hadits yang dhohir makna nya menunjukkan tentang Tuhan di bumi, mereka ingkari dan lupa bahwa mereka telah melakukan Ta’wil di sini, dan mencela Ta’wil di sana



Sementara pemahaman Ahlus Sunnah tidak berbeda antara tempat di bumi dengan tempat di langit, bumi makhluk dan atas langit juga makhluk, dan semua selain Allah adalah makhluk, Allah tidak berada di/dalam makhluk-Nya, Ayat atau Hadits itu tidak boleh beriman dengan makna dhohirnya, tapi di Ta’wil, baik dengan menentukan makna nya [Ta’wil Tafsili] atau dengan tidak menentukan makna nya [Ta’wil Ijmali atau disebut dengan Tafwidh]. 

Bermacam Ayat atau Hadits atau bahkan pernyataan Ulama yang mereka jadikan sebagai dalil bahwa Tuhan berada di atas langit, justru bertentangan dengan Ayat atau Hadist yang menunjukkan Tuhan di bumi [bila di artikan dengan metode yang sama], dan juga tertolak dengan Ayat dan Hadits tentang perbedaan Tuhan dengan makhluk, akhirnya muncullah dalil-dalil yang lebih konyol lagi seperti berdalil dengan Mi’raj nya Rasulullah ke langit, dijadikan sebagai bukti bahwa Tuhan berada di langit, inilah yang akan kita bahas dalam tulisan ini.

BENARKAH MI’RAJ ITU BUKTI TUHAN BERADA DI ATAS LANGIT ?


Isra’ dan Mi’raj Nabi dari Mesjidil Haram ke Mesjid Al-Aqsa dan dari Mesjid Al-Aqsa naik ke Sidrati Al-Muntaha adalah benar adanya, dan merupakan Mu’jizat Nabi besar Muhammad SAW, setiap muslim tentu tidak meragukan kebenaran keajaiban Isra’ dan Mi’raj, tapi sebagian orang yang mengaku muslim telah menodai kisah Isra’ dan Mi’raj ini dengan memasukkan ideologi menempatkan Tuhan di atas langit, dan mari kita lihat kebenaran ideologi tersebut dengan Ayat tentang Isra’ dan Mi’raj, adakah tersurat atau tersirat ideologi tersebut dalam Al-Quran ?

Allah taala berfirman :

سبحان الذي أسرى بعبده ليلا من المسجد الحرام إلى المسجد الاقصى الذي باركنا حوله لنريه من آياتنا إنه هو السميع البصير

“Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari masjid al- Haram menuju masjid al-Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kekuasaan) kami, sesungguhnya Allah itu Maha mendengar dan Maha melihat”. [QS Al-Isra’ 1]

Coba perhatikan adakah dalam ayat itu disebutkan bahwa Nabi Mi’raj ke langit untuk bertemu dengan Tuhan ? dari mana mereka memahami dari Ayat tersebut bahwa Nabi malam itu pergi ke tempat Tuhan ? yang ada dalam ayat hanya لنريه من آياتنا “agar kami perlihatkan tanda-tanda kami”, bukan hendak dipertemukan dengan Allah, tapi hanya untuk diperlihatkan tanda-tanda besar adanya Tuhan, sungguh sebuah prasangka yang mengada-ngada bila mengatakan bahwa Isra’ dan Mi’raj adalah perjalanan Nabi ke tempat Tuhan, dan menjadikan sebagai bukti Tuhan berada di atas, [Na’uzubillah].

Selanjutnya bukankah Nabi berkalam dengan Allah di Sidrati Al-Muntaha ? bukankah itu artinya Allah berada di situ ?

Lagi-lagi ini adalah prasangka di atas prasangka, seorang yang berprasangka buruk terhadap Allah, pasti akan menyangka demikian, maha suci Allah dari prasangka hamba-Nya.

Sebagaimana di pahami dari Hadits-Hadits tentang Isra’ dan Mi’raj, behwa Allah taala berkalam dengan Nabi Muhammad SAW, tapi sama sekali tidak menunjukkan bahwa Allah berada di tempat itu, sebagaimana Allah juga berkalam dengan Nabi Musa di lembah Al-Muqaddas Thuwa, lalu apa anda menyangka bahwa Allah juga berada di lembah itu ? hanya orang yang condong hati kepada kesesatan yang berprasangka demikian, dalam Al-Quran Surat Thaha ayat 11-14 diceritakan sebagai berikut :

فلما أتاها نودي يا موسى * إني أنا ربك فاخلع نعليك إنك بالواد المقدس طوى * وأنا اخترتك فاستمع لما يوحى * إنني أنا الله لا إله إلا أنا فاعبدني وأقم الصلاة لذكري

“Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa * Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa * Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu) * Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. [Q.S. Thaha 11-14]

Dipahami dari ayat di atas bahwa Allah bicara dengan Nabi Musa di Al-Wadi Al-Muqaddasi Thuwa di pinggir bukit di Palestina, sedangkan Allah tidak berada di situ, begitu juga dengan Mi’raj nya Nabi Muhammad SAW ke Sidrati Al-Muntaha, Allah berkalam dengan Nabi Muhammad SAW di situ, sementara Allah tidak berada di situ, Maha suci Allah dari tempat dilangit dan dibumi.

Selanjutnya, bukankah menerima perintah Sholat di Sidrati Al-Muntaha ? kalau bukan berada di atas, kenapa juga perintah Sholat tidak melalui wahyu seperti perintah lain nya ? sebaiknya berhentilah berprasangka terhadap Allah, karena prasangka itu datang dari dasar Tauhid yang rapuh, betapa tidak, karena dalam surat Al-Isra’ di atas sudah tercantum bahwa Allah membawa Nabi Isra’ dan Mi’raj karena ingin menampakkan tanda yang sangat besar dan ajaib, yang menunjukkan bahwa Allah benar-benar ada, Isra’ dan Mi’raj bukan untuk menerima perintah Sholat, biarpun Nabi menerima perintah Sholat di situ, karena Nabi Musa menerima perintah Sholat di bumi, sebagaimana tercantum dalam surat Thaha di atas, maka perintah Sholat tidak menunjukkan bahwa Allah berada di atas, sebagaimana Allah memerintahkan Sholat kepada Nabi Musa di bumi, padahal Allah juga tidak berada di bumi, Maha suci Allah dari segala sifat makhluk.

Syubhat selanjutnya, bukankah nabi melihat Allah di sana ? bukankah itu bukti Allah berada di sana ?

Na’uzubillah, maha suci Allah dari prasangka mereka, sesungguhnya tengtang adakah Nabi melihat Allah di sana, telah terjadi perbedaan pendapat dari Ulama, ada yang menyatakan Nabi melihat Tuhan dengan mata kepala tapi tanpa kaifiyat, ada yang mengatakan Nabi melihat Tuhan dengan mata hati, bukan dengan mata kepala, khilafiyah dalam masalah ini menunjukkan bahwa ini pendapat dhani (boleh jadi benar, boleh jadi salah), maka tidak mungkin masalah ini dijadikan sebagai dalil untuk masalah yang Qath’i (pasti) yakni untuk masalah dasar Aqidah, karena sesuatu yang Dhanni tidak bisa sampai kepada sesuatu yang Qath’i, sesuatu yang pasti, harus beranjak dari sesuatu yang pasti pula.

Syubhat selanjutnya, bukankah ketika nabi turun membawa pulang 50 waktu sholat, lalu bertemu nabi Musa, dan Nabi Musa menyuruh kembali naik ketempat itu untuk minta keringanan dari 50 menjadi 5 waktu setelah bolak-balik nabi ketempat itu ? bukankah nabi bolak balik ke tempat Tuhan ?

Na’uzubillah, Maha suci Allah dari arah dan tempat, sesungguhnya nabi Musa berkata kepada Nabi Muhammad :

إرجع إلى ربك فاسأله التخفيف

“kembalilah engkau kepada Tuhanmu, maka mintalah keringanan”.

Maksudnya nabi Musa menyuruh nabi Muhammad agar kembali kepada tempat beliau menerima wahyu dari Allah, yakni tempat beliau menerima perintah sholat, nabi Musa sama sekali tidak menyebutkan tempat Tuhan, di saat nabi berada di Sidrat Al-Muntaha tidak menunjukkan Allah bertempat di situ atau atas nya lagi, maka saat nabi bolak-balik ke situ pun tidak menunjukkan demikian.

Dalam satu Hadits riwayat Bukhari dan Muslim Rasul bersabda :

لا ينبغي لعبد أن يقول أنا خير من يونس بن متى

“Tidak boleh bagi hamba bahwa ia berkata saya lebih baik dari nabi Yunus bin Matta”.

Dalam riwayat lain :

لا تفضلوني على يونس بن متى

“Jangan kalian lebih aku dari Nabi Yunus bin Matta”

Hadits ini adalah larangan menyangka bahwa nabi Muhammad SAW lebih baik dari nabi Yunus karena Nabi Muhammad pernah dekat dengan Tuhan karena pernah berada di atas langit ketujuh, sementara nabi Yunus pernah jauh sekali dengan Tuhan karena pernah berada dalam dasar lautan, Allah ada tanpa bertempat, maka tidak ada yang lebih dekat tempat antara nabi Muhammad dan nabi Yunus kepada Allah.

Sementara tidak diragukan lagi bahwa nabi Muhammad lebih mulia dari nabi Yunus bahkan dari semua nabi dan bahkan dari segala makhluk, kedudukan para rasul tidak sama dalam kelebihan, sebagaimana firman Allah :

تلك الرسل فضلنا بعضهم على بعض منهم من كلم الله ورفع بعضهم درجات

“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat”.[Q.S Al-Baqarah 253]

Dalam ayat lain Allah berfirman :

ولقد فضلنا بعض النبيين على بعض

“Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain)”.[Q.S Al-Isra' 55]

Dalam ayat di atas sangat jelas bahwa kedudukan martabat seorang rasul berbeda-beda, tidak mungkin nabi melarang melebihkan nya dari Nabi lain, sementara Allah telah melebihkan sebagian Nabi dari Nabi yang lain, maka larangan dalam hadits itu maksudnya adalah melebihkan nya dari nabi Yunus dari sisi tempat, sehingga menyangka Nabi Muhammad lebih dekat dengan Allah dari Nabi Yunus.

Berkata Al-Muhaddits Imam Muhammad Murtadha Az-Zabidi :

ذَكر الإمام قاضي القضاة ناصر الدين بن المُنَيِّر الإسكندري المالكي في كتابه “المنتقى في شرف المصطفى” لما تكلم على الجهة وقرر نفيَها قال: ولهذا أشار مالك رحمه الله تعالى في قوله صلى الله عليه وسلم: “لا تفضلوني على يونس بن متى”، فقال مالك: إنما خص يونس للتنبيه على التنزيه لأنه صلى الله عليه وسلم رفع إلى العرش ويونس عليه السلام هبط إلى قاموس البحر ونسبتهما مع ذلك من حيث الجهة إلى الحقّ جل جلاله نسبة واحدة، ولو كان الفضل بالمكان لكان عليه السلام أقرب من يونس بن متى وأفضل وَلمَا نهى عن ذلك.

“al-Imam al-‘Allamah al-Qadli Nashiruddin ibn al-Munayyir al-Maliki (seorang ulama terkemuka sekitar abad tujuh hijriyah), dalam karyanya berjudul al-Muqtafa Fi Syaraf al-Musthafa telah menuliskan pernyataan al-Imam Malik bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dalam karyanya tersebut, al-Imam Ibn al-Munayyir mengutip sebuah hadits, riwayat al-Imam Malik bahwa Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta”. Dalam penjelasan hadits ini al-Imam Malik berkata bahwa Rasulullah secara khusus menyebut nabi Yunus dalam hadits ini, tidak menyebut nabi lainya, adalah untuk memberikan pemahaman akidah tanzih, -bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah-. Hal ini karena Rasulullah diangkat ke atas ke arah arsy -ketika peristiwa Mi’raj-, sementara nabi Yunus dibawa ke bawah hingga ke dasar lautan yang sangat dalam -ketika beliau ditelan oleh ikan besar-, dan kedua arah tersebut, baik arah atas maupun arah bawah, keduanya bagi Allah sama saja. Artinya satu dari lainnya tidak lebih dekat kepada-Nya, karena Allah ada tanpa tempat. Karena seandainya kemuliaan itu diraih karena berada di arah atas, maka tentu Rasulullah tidak akan melarang melebih-lebihkan beliau atas nabi Yunus ibn Matta”. [Ithaf as-Sadah al-Muttaqin- 2- 105].

Akhirnya nampaklah mana yang haq dan mana yang batil, aqidah batil tetap tidak akan bisa diselamatkan dengan cara apa pun, bahkan dengan cara licik sekalipun, telah tegak dalil aqidah Ahlus Sunnah Waljama’ah bahwa Allah ada tanpa arah dan tanpa tempat, aqidah batil tetap saja bisa tercium walaupun disisipkan dalam kisah peristiwa Isra’ dan Mi’raj, tidak ada ayat atau hadits tentang Isra’ dan Mi’raj yang menunjukkan Allah berada di langit, kecuali hanya anggapan dan prasangka orang-orang yang hati nya condong kepada kesesatan, semoga kita dan keluarga kita selamat dari syubhat-syubhat aqidah yang disisipkan oleh kaum Salafi-Wahabi dalam setiap sisi Agama ini.

Maha suci Allah dari arah dan tempat



No comments:

Post a Comment