Marquee text

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS: At-Taubah 128)

28 Mei 2012

Habib Muhammad bin Ali Bin Yahya Tenggarong bagian 1

Habib Muhammad bin Ali Bin Yahya Tenggarong
habib-muhammad-bin-yahya.jpg
Hampir pada setiap sejarah kesultanan di Indonesia didalamnya terdapat peran penting ulama,mereka berperan bukan saja sebagai pengajar ilmu ilmu agama,melainkan juga berpengaruh kuat memberikan masukan kepada penguasa atas kebijakan yang akan dikeluarkan demi kemaslahatan umat,fatwa dan masukan ulama itu didengar oleh para sultan,untuk kemudian dijadikan acuan umum yang mendasari kebijakan sultan dalam menjalankan roda pemerintahan,tidak jarang kedekatan itu berlanjut pada hubungan pertalian pernikahan diantara mereka.

Kesultanan Kutai Kartanegara pada masa pemerintahan Aji Sultan Alimuddin (1899-1910) tersebutlah seorang ulama yang menjadi Mufti dikesultanan dan banyak mendampingi sultan pada masa itu, dikemudian hari ulama tersebut Habib Muhammad bin Yahya lebih dikenal dengan gelar yang disematkan sultan kepadanya yaitu Pangeran Noto Igomo.
Habib Muhammad bin Yahya adalah seorang wulaiti yang artinya beliau kelahiran Hadhral maut Yaman Selatan, meskipun keluarga Habib Muhammad ada di Indonesia, ia dan kakaknya Habib Thaha bin Ali bin Yahya dilahirkan di kota Masilah Hadhralmaut, beliau dilahirkan tahun 1260 H/1844 M. Ayah dari kakeknya Habib Thaha bin Muhammad bin Yahya adalah leluhurnya yang pertama kali masuk ke Nusantara, Habib Thaha ini belajar ilmu agama kepada ayahnya sendiri yang sangat alim yaitu Habib Muhammad Al-Qadhi bin Thaha bin Yahya yang seorang Qadhi di Hadhralmaut,ia pertama kali masuk Indonesia melalui Pulau Penang Malaysia, sewaktu di Penang beliau dikenal dengan As-Sayyid Ath-Thahir, pada saat dipenang inilah beliau bertemu dengan Sultan Hamengkubuwono II ( 1750-1828 ) yang diasingkan Belanda, Sultan pun memanfaatkan kesempatan ini dengan mengaji kepada beliau,dikemudian hari ia menikahkan putrinya dengan Habib Thaha ini, Habib Thaha wafat di kota Semarang Jawa Tengah, sedangkan Habib Ali bin Hasan bin Thaha bin Muhammad Al-Qadhi bin Thaha bin yahya ayah dari Habib Muhammad ini wafat di Ar-Raidhah Hadhralmaut tahun 1292 H/1875 M.

Keluarga Habib Muhammad bin Yahya ini dari pihak nenek berasal dari keluarga Alaydrus Al-Ar-Raidhah sedangkan ibunya Syarifah dari keluarga Bin Thahir dari Masilah Hadhralmaut.setelah beranjak dewasa ia bermaksud pergi ke Nusantara demi menyusul paman dari pihak ibunya yaitu Habib Abu Bakar Bin Thahir yang berada di Batavia dan menemui saudara sepupunya yaitu Habib Abdullah bin ali bin Abdurrahman bin Thahir yang berada di Ambon.

Dalam perjalanan dari Masilah Hadralmaut ke Indonesia beliau melewati kota Aden melalui kota Tarim,ia bermalam disebuah rumah yang pemiliknya menginap penyakit kusta, pemilik rumah tersebut diobati oleh beliau dan dengan perkenan Allah ia pun sembuh dari penyakitnya,sebagai ungkapan rasa syukur dan rasa hormat kepada Habib Muhammad beliaupun akhirnya dinikahkan dengan anaknya sekalipun ia tahu bahwa Habib Muhammad hanya singgah sebentar kemudian meneruskan perjalanannya ke Indonesia,dalam perkawinan ini beliau tidak memperoleh keturunan.
Habib Muhammad adalah seorang yang sangat tekun dalam menuntut ilmu dan selalu menyempatkan diri belajar dengan para guru sepanjang perjalanannya yang memakan waktu panjang,ia sangat berhati hati didalam memelihara kehormatan dirinya sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulnya,sikapnya ini tetap terjaga sampai akhir hayatnya.

bersambung bagian 2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar