Marquee text

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS: At-Taubah 128)

28 Mei 2012

Habib Muhammad bin Ali Bin Yahya Tenggarong bagian 2

Setelah bertemu dengan pamannya di Jakarta beliau melanjutkan perjalanan ke Surabaya disini beliau menimba ilmu dengan habib Syaikh bin Ahmad Bafaqih Boto-putih,di Surabaya beliau menikah dan mempunyai anak perempuan yang diberi nama Syarifah fathmah yang mana setelah dewasa dinikahkan dengan putra saudaranya yaitu Habib Umar bin Thaha bin Ali bin Yahya yang berjuluk Habib Umar Kendi ,selanjutnya beliau melanjutkan perjalanannya ke Ambon menemui saudara sepupunya yaitu Habib Abdullah bin Ali bin Abdurrahman Bin Thahir, disini beliau menikah lagi dengan seorang gadis bernama Sangaji dan mempunyai anak yang bernama Habib Ali bin Muhammad Bin Yahya,kemudian beliau kembali ke Surabaya dan kemudian beliau melanjutkan perjalanan ke Tenggarong Kalimantan Timur sampai akhir hayatnya,pada saat ke Tenggarong sekitar tahun 1877 saat itu usia beliau 33 tahun. saat sampai di Tenggarong beliau sudah dikenal sebagai seorang ulama,ia kemudian diminta oleh Sultan Kutai Kartanegara yaitu Sultan Alimuddin untuk mengobati putrinya yang sedang sakit alhamdulillah dengan izin Allah SWT sang putri sembuh.dengan penuh rasa syukur dan senang hati Sultan Aji Alimuddin kemudian menikahkan putrinya tersebut dengan Habib Muhammad,putri tersebut bernama Aji Aisyah dengan gelar Aji Raden Resminingpuri (Aji Aisyah ini kakak dari Sultan Kerajaan Kutai yang terakhir yaitu Aji Sultan Muhammad Parikesit),dari perkawinan ini beliau mempunyai 10 orang anak enam laki laki empat perempuan. di Kerajaan kutai Habib Muhammad diberi jabatan penghulu,yang berwenang dalam pengaturan yang berkenaan dengan urusan urusan keagamaan,awalnya Sultan memberi gelar Raden Syarief Penghulu dikemudian hari ia mendapat gelar Pangeran Noto Igomo semacam Mufti yang mengeluarkan fatwa fatwa agama atas berbagai permasalahan yang ada.
Sewaktu di Kalimantan inilah beliau bertemu kembali dengan sahabat beliau waktu di Hadhralmaut yaitu Habib Alwi bin Abdullah Al-Habsy yang tinggal di Barabai Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan,walaupun tinggal didaerah berbeda dan jarak cukup jauh persahabatan mereka terjalin dengan kuat,diceritakan sejak di Hadhralmaut Habib Alwi mengakui kedalaman ilmu Habib Muhammad,keduanya juga bahu membahu menyebarkan agama Islam di Kalimantan,pada saat Habib Alwi membangun Pasar Batu Habib Muhammad mengirimkan bantuan berupa semen dan batu,Pasar Batu adalah bangunan beton pertama di Hulu Sungai yang merupakan tempat pasar getah (karet) diparuh pertama abad lalu.

Habib Muhammad bin husain Ba'bud Lawang Jawa Timur pernah memberi kan ijazah doa yang didapatnya dari Habib Alwi bin Abdullah Al-Habsy Barabai,Habib Alwi mendapatkannya dari Habib Muhammad bin Ali Bin Yahya tenggarong dan Habib Muhammad mendapatkan ijazah ini dari gurunya Habib Syaikh bin Ahmad Bafaqih Botoputih Surabaya.

Suatu hari dimasa pendudukan jepang,Habib Qasim Baragbah dari Samarinda berkunjung ketempat Habib Muhammad bin Yahya,beliau menginap satu malam,dalam perbincangan saat itu Habib Muhammad menanyakan kapan Habib Qasim kembali ke Samarinda,"besok ya Habib "jawab habib Qasim,mendengar jawaban Habib Qasim ,beliau termenung beberapa saat dan sepertinya beliau kurang berkenan dengan kepulangan Habib Qasim pada besok hari,habib Qasim pun menanyakan ada apa yang menyebabkan Habib Muhammad murung pada saat itu,beliau kemudian mengatakan bahwa beliau mendapat isyarat seakan ia berada disebuah perahu diatas kota Samarina yang pada saat itu gelap gulita,menurut Habib Muhammad itu pertanda kurang baik. Habib Qasim tampaknya mempunyai keperluan yang penting sehingga ia tetap berketetapan hati untuk pulang,Habib Muhammad kemudian berpesan agar Habib Qasim untuk hati hati dalam perjalanan, ternyata sekembali Habib Qasim ke Samarinda, penduduk Samarinda sedang mengalami kepanikan yang luar biasa karena pada saat itu ada serangan dasyat dari tentara Sekutu.

Tahun 1945 Habib Qasim Baragbah datang lagi ketempat beliau,saat itulah beliau mengatakan bahwa Insya Allah pendudukan tentara Jepang akan berakhir pada bulan puasa bertepatan dengan bulan Agustus 1945,benar saja pada tanggal 14 Agustus 1945 tentara Jepang akhirnya menyerah kepada Tentara Sekutu dan pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya.


Beberapa hari kemudian beliau mengadakan acara syukuran atas kekalahan penjajahan Jepang ini,acara dihadiri tokoh tokoh masyarakat dan Ulama dari Samarinda sebanyak 200 undangan,acara tersebut bertepatan dengan hari kedua hari raya,alhasil penduduk yang mendengar adanya acara itu berbondong bondong datang,yang hadir membludak hingga persediaan nasi tidak mencukupi sedangkan waktu menanak nasi tidak sempat lagi, masalah ini kemudian disampaikan kepada Habib Muhammad, lalu ia menuju tempat nasi tersebut yang berupa sebuah guci yang tertutup semacam kelambu tebal,sejenak ia tampak seperti sedang berdoa dan membacakan sesuatu,kemudian ia memindahkan tasbihnya dari tangan kanan ketangan kirinya sambil menepuk tutup guci tersebut seraya memesankan kepada petugas yang menjaga nasi tersebut agar setiap orang yang mengambil nasi tersebut jangan melihat kedalam guci dan jangan berkata kata,subhanallah hingga akhir acara berapapun banyaknya nasi yang diambil ditempat itu seakan akan tidak pernah habis dan Alhamdulillah akhirnya mencukupi kebutuhan semua tamu yang hadir.selain aktif memangku jabatannya beliau juga aktif mengajarkan masyarakat ilmu ilmunya dari ilmu syariat sampai ilmu tasawuf,semasa hidupnya beliau curahkan segenap kemampuannya untuk kemaslahatan umat dan masyarakat di Kerajaan Kutai dan sekitarnya.

Pada tanggal 26 Rabi'ul awwal 1366 H atau tgl 17 Februari 1947 M rohnya yang suci kembali Keharibaan RobbNya dalam usia lanjut yaitu 103,jasadnya yang Mulia dimakamkan di Pekuburan Jalan Gunung Gandek Tenggarong yang juga dikenal dengan Komplek Pemakaman Kelambu Kuning,makam Habib Muhammad bin Ali Bin Yahya berada dalam satu ruangan dengan istrinya,disamping ruangan Habib Muhammad bin Ali Bin Yahya Pangeran Noto Igomo terdapat ruangan yang sama besarnya disanalah dimakamkan Sultan Aji Muhammad Alimuddin Sultan Kutai periode 1899-1910 yang juga mertua dari Habib Muhammad bin Ali Bin Yahya,kedua ruangan utama makam tersebut pada bagian dalamnya diselubungi kain berwarna kuning seperti kebanyakan kubah kubah para aulia yang ada di kalimantan,karenanya makam tersebut dikenal orang dengan sebutan Makam Kelambu Kuning.

Alhamdulillah mudah mudahan kita bisa mengambil hikmah dan mamfaat dari membaca kisah kisah para Aulia ini,mudah mudahan kita bisa meneladani sifat sifat baik dari mereka,akhirul kalam kalau ada kekurangan alfaqir minta redha minta ampun dengan saudaraku semua,wabillahi taufik wal hidayah assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Disarikan dari Majalah Alkisah No.02/ 26 Jan-8 Feb 2009 hal.134-139

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar