Marquee text

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS: At-Taubah 128)

21 Juni 2012

Sifat 11

11- Sama’

- السمع : هو صفة وجودية قديمة قائمة بذاته تعالى يسمع بها كل موجود على سبيل الإحاطة و الشمول بكيفية لا يعلمها إلا هو فلا يعزب عن سمعه مسموع وان خفي ، قال الله تعالى {  إِنَّنِي مَعَكُمَآ أَسْمَعُ وَأَرَى } و الدليل العقلي على ذلك أنه لو لم يتصف به لاتصف بضده  وهو الصمم و اتصافه به باطل لانه نقص و يستحيل عليه ضده و هو الصمم .

11- SAMA’
Sama’ (Mendengar) adalah sifat Ma’ani artinya sifat wujud Allah yang qadim (dahulu), berdiri pada dzat-Nya. Allah Maha Mendengar. Namun pendengaran Allah tidak sama dengan pendengaran manusia yang dibatasi ruang dan waktu. Manusia mendengar dengan mengunakan telinga dan harus dari jarak dekat. Tapi Allah mendengar tanpa mengunakan alat pendengaran dan tidak terhalang oleh jarak. Allah mendengar dengan jelas semua yang diucapkan hamba-Nya baik secara dhahir dan bathin, yang diucapkan dengan lisan atau yang tertera di lubuk hati, semua didengar oleh Allah. Firman Allah:
قَالَ لاَ تَخَافَآ إِنَّنِي مَعَكُمَآ أَسْمَعُ وَأَرَى
Allah berfirman: “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat”. (Thaha: 46)
Kebalikan dari sifat ini adalah al-shamamu yang berarti tuli. Yakni bahwa mustahil Allah itu tuli. Allah Maha Mendengar. Pendengaran Allah tidak terbatas dan tidak terhalang oleh jarak, ruang, dan waktu. Selemah apa pun suara, dan dimana saja Allah pasti mendengarnya. Berbeda dengan manusia, pendengarannya sangat terbatas dan harus dengan mempergunakan alat pendengaran yaitu telinga. Tanpa alat pendengaran mustahil manusia bisa mendengar. Pendengaran manusia juga mengalami penurunan. Semakin tua usia manusia semakin kurang pendengaranya. Manusia bisa mendengar suara jarak jauh, namun jangkauannya tetap masih terbatas. Suara bisikan, suara hati, suara yang terhalang oleh benda-benda tertentu, tetap tidak bisa didengar.
Tapi pendengaran Allah berbeda dengan pendengaran manusia. Pasti  tidak demikian halnya. Allah bisa mendengar suara yang sehalus apapun tanpa memerlukan alat pendengaran apapun. Pendengaran Allah tidak terbatas oleh apapun. Pendengaran Allah kekal tidak akan melemah sampai kapanpun.
Dengan menyadari sifat Allah ini, seharusnya kita berbicara dengan bahasa yang santun dan mengeluarkan ucapan-ucapan yang baik lagi bermanfaat. Karena Allah selalu mendengar segala perkataan manusia, baik yang diucapkan dengan lisan atau tertera dalam selubuk hati.

Sumber: http://hasanassaggaf.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar