Marquee text

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS: At-Taubah 128)

17 Juni 2012

Hukum Facebookan dan peringatan Isra Mi'raj

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan manusia untuk dapat menjadi manusia yang berakhlak baik

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda yang artinya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).

Firman Allah ta’ala yang artinya,

“Sungguh dalam dirimu terdapat akhlak yang mulia”. (QS Al-Qalam:4)

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21)

Imam Sayyidina Ali ra berpesan, “Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan akhlak mulia sebagai perantara antara Dia dan hambaNya. Oleh karena itu,berpeganglah pada akhlak, yang langsung menghubungkan anda kepada Allah”


Allah Azza wa Jalla memerintahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk mengajarkan manusia apa yang mereka tidak ketahui. Pengajaran ini dinamakan sebagai agama atau perkara syariat.

حَدَّثَنِي أَبُو غَسَّانَ الْمِسْمَعِيُّ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارِ بْنِ عُثْمَانَ وَاللَّفْظُ لِأَبِي غَسَّانَ وَابْنِ الْمُثَنَّى قَالَا حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ قَتَادَةَ عَنْ مُطَرِّفِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ عَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ الْمُجَاشِعِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ذَاتَ يَوْمٍ فِي خُطْبَتِهِ أَلَا إِنَّ رَبِّي أَمَرَنِي أَنْ أُعَلِّمَكُمْ مَا جَهِلْتُمْ مِمَّا عَلَّمَنِي يَوْمِي هَذَا كُلُّ مَالٍ نَحَلْتُهُ عَبْدًا حَلَالٌ وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا

Telah menceritakan kepadaku Abu Ghassan Al Misma’i, Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Basyar bin Utsman, teks milik Ghassan dan Ibnu Al Mutsanna, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam telah menceritakan kepadaku ayahku dari Qatadah dari Mutharrif bin Abdullah bin Asy Syakhir dari Iyadh bin Himar Al Mujasyi’i Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda pada suatu hari dalam khutbah beliau: Sesungguhnya Rabbku memerintahkanku untuk mengajarkan yang tidak kalian ketahui yang Ia ajarkan padaku pada hari ini: ‘Semua yang telah Aku berikan pada hamba itu halal, Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya”. (HR Muslim 5109)

Perbuatan manusia ada dua jenis yakni

1. Perkara syariat , segala apa yang telah disyariatkan oleh Allah Azza wa Jalla dan telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meliputi perkara wajib (wajib dijalankan) perkara sunnah atau mandub (sebaiknya dijalankan) , perkara haram atau larangan (wajib dihindari) perkara makruh (sebaiknya dihindari)

2. Di luar perkara syariat, segala sikap dan perbuatan di luar dari apa yang telah disyariatkan oleh Allah Azza wa Jalla. Hukum asalnya adalah mubah (boleh). Perubahan hukum perkaranya tergantung jenis dan tujuan perbuatannya.

Segala sikap atau perbuatan manusia di luar dari apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berlaku kaidah ushul fiqih

“wal ashlu fi ‘aadaatinal ibaahati hatta yajii u sooriful ibahah”

yang artinya “dan hukum asal dalam kebiasaan (adat) atau segala perkara di luar perkara syariat adalah boleh saja (mubah) sampai ada dalil yang memalingkan dari hukum asalnya atau sampai ada dalil yang melarangnya atau mengharamkannya“.

Maksudnya adalah “segala kebiasan (adat) atau segala sikap atau perbuatan manusia di luar dari apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selama tidak melanggar satupun laranganNya atau selama tidak ada laranganNya atau selama tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits serta ijma dan qiyas maka hukum asalnya adalah mubah (boleh). Perubahan hukum asalnya tergantung jenis perbuatannya.“

Jadi bid’ah di luar perkara syariat (di luar dari apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam) hukum asalnya adalah mubah (boleh).

Jika menyalahi laranganNya atau bertentangan dengan Al Qur’an, Hadits, Ijma dan Qiyas dinamakan sunnah sayyiah (contoh / teladan / rintisan / perkara baru yang buruk) dan termasuk bid’ah dholalah

Jika tidak menyalahi satupun laranganNya atau tidak bertentangan dengan Al Qur’an, Hadits, Ijma dan Qiyas maka dinamakan sunnah hasanah (contoh / teladan / rintisan / perkara baru yang baik) dan termasuk bid’ah hasanah

Contohnya

Facebookan

Facebookan adalah perkara di luar perkara syariat (di luar dari apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam) sehingga hukum asalnya adalah mubah (boleh).

Perubahan hukum asalnya adalah tujuan peruntukannya .

Jika digunakan untuk gosip maka akan didapat dalil yang memalingkan dari hukum asal atau dalil melarangnya sehingga termasuk bid'ah sayyiah.

Jika digunakan untuk kebaikan (tidak melanggar satupun laranganNya) maka akan mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukan sehingga termasuk bid'ah yang baik (bid'ah hasanah).

Peringatan Maulid Nabi atau peringatan Isra Mi'raj

Peringtan Maulid Nabi atau peringatan Isra Mi'raj adalah perkara di luar perkara syariat (di luar dari apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam) sehingga hukum asalnya adalah mubah (boleh).

Perubahan hukum asalnya adalah cara memperingatinya.

Jika cara memperingatinya dengan cara larung sesaji ke laut maka akan didapat dalil yang memalingkan dari hukum asal atau dalil melarangnya sehingga termasuk bid'ah sayyiah.

Jika cara memperingatinya dengan cara pembacaan Al Qur'an, Sholawat dan pengajian atau ta'lim seputar hikmah dari kelahiran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam maupun hikmah dari peristiwa Isra' Mi'raj maka akan mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukan sehingga termasuk bid'ah yang baik (bid'ah hasanah).

Jadi perbuatan kita di luar perkara syariat (di luar dari apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam), wajib tujuannya untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah dengan cara bersikap dan melakukan perbuatan yang tidak menyalahi satupun laranganNya atau tidak bertentangan dengan Al Qur’an , As Sunnah, Ijma dan Qiyas.

Cara atau jalan mendekatkan diri kepada Allah tidak hanya dengan apa yang telah Allah Azza wa Jalla wajibkan (wajib dijalankan dengan wajib dijauhi) atau perkara syariat namun dengan terus menurus melakukan amal kebaikan.

Amal ketaatan adalah apa yang telah Allah Azza wa Jalla wajibkan yakni wajib di jalankan (perkara wajib) dan wajib dijauhi (perkara haram yakni laranganNya dan apa yang telah diharamkanNya)

Amal kebaikan adalah

1. Perkara sunnah (mandub) perkara yang sebaiknya dijalankan
2. Sebaiknya menghindari perkara makruh
3. Segala perkara di luar perkara syariat (di luar dari apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam) yang tidak melanggar satupun laranganNya atau tidak bertentangan dengan Al Qur’an , As Sunnah, Ijma dan Qiyas

Dalam sebuah hadit qudsi, Rasulullah bersabda “Allah berfirman, hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan (perkara syariat), jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amal kebaikan maka Aku mencintai dia” (HR Bukhari 6021)


Sumber:
http://www.facebook.com/ZonJonggol
http://mutiarazuhud.wordpress.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar