Marquee text

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS: At-Taubah 128)

31 Oktober 2012

1. Al-Qur’an

خصائص نبينا : خص الله نبينا محمدا صلى الله عليه وآله وسلم بخصائص منها المعجزات الكثيرة كالقرآن العظيم معجزالبشر و هو أعظم معجزاته و أدومها لبقائه الى يوم القيامة ، و انشقاق القمر و تسليم الحجر و الشجر و تسبيح الحصى في كفه و حنين الجذع  و منها كونه خاتم الأنبياء و منها كونه مبعوثا الى كافة الخلق و منها كومه شرعه ناسخا لشرع من قبله و غيرذلك .

Allah telah memberikan kepada Rasulallah saw dengan kelebihan dan keistimewaan yang luar biasa yang tidak diberikan kepada makhluk makhluk lainnya, diantaranya:

MUKJIZAT NABI SAW
Dalam Islam, mukjizat mukjizat Nabi saw banyak sekali, baik sebelum beliau diutus menjadi nabi atau sesudahnya. Hal ini terbukti dalam hadits yang menceritakan kebesaran mukjizat Nabi saw. Adapun mukjizat Nabi saw yang terbesar adalah Al-Qur’an. Selain itu, Nabi saw juga diyakini pernah membelah bulan pada masa penyebaran Islam di Mekkah dan melakukan Isra’ dan Mi’raj yang dilakukan Nabi saw dalam masa tidak sampai satu hari. Selain itu ada lagi mukjizat mukjizat lainya seperti, batu dan pohon memberi salam kepada Nabi saw, kerikil bertasbih di tangan Nabi saw, batang pohon kurma meratap kepada Nabi saw, juga Nabi saw merupakan penutup para nabi dan rasul, dan diutus untuk alam semesta, ajaran beliau menghapus ajaran ajaran sebelumnya yang dibawa para nabi dan rasul.

Beberpa Mukjizat Nabi saw yang terpenting diantaranya:

Al-QUR’AN
Telah disebut dalam pelajaran sebelumnya bahwa Mu’jizat terbesar yang diberikan kepada rasul terakhir Muhammad saw yaitu berupa al-Qur’anul Karim, kitab suci agama islam yang akan terjaga keasliannya hingga akhir zaman. Susunan bahasa dan gaya sastra al-qur’an yang tinggi menjadi bukti kuat jika ayat ayat dalam al-Qur’an bukanlah buatan manusia melainkan wahyu Allah.

Seperti telah disebutkan sebelumnya mukjizat diambil dari bahasa Arab a’jaza-y’ujizu yang berarti melemahkan, mengalahkan atau menjadikan tidak mampu. Pelakunya atau yang bisa melemahkan sesuatu itu dinamakan mukjizat atau pihak yang mampu melemahkan pihak lain dan mampu membuat lawannya lemah atau kalah, dinamakan mukjizat.

Atau dalam istilah lainya mukjizat adalah suatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seorang nabi atau rasul, dijadikan sebagai bukti kenabian atau kerasulannya yang bisa melemahkan orang-orang yang ragu dengan apa yang telah dibawanya. Jadi mukjizat adalah hal yang tidak masuk akal dan tidak bisa dipelajari dan dibahas kenapa hal itu bisa terjadi. Mukjizat wajib diimani oleh setiap muslim yang didengar melalui ikhbariat – al-Qur’an dan Hadits.


Para nabi dan rasul sebelum Rasulallah saw  telah diberikan kepada mereka bermacam mancam mukjizah sesuai dengan keadaan dan tantangan pada zaman mereka. Tapi mukjizat mukjizat itu hanya berlaku pada masa itu atau tidak bersifat kekal.

Contohnya, perahu nabi Nuh as bisa selamat dari bahaya tsunami dan ombak yang dahsyat. Nabi Ibrahim as tidak hangus terbakar dan bisa selamat hidup di dalam kobaran api. Tongkat nabi Musa as bisa berubah menjadi ular dan menelan semua ular ular tukang sihir. Nabi Isa as bisa menyembuhkan penyakit, menghidupkan orang mati, bisa berbicara sewaktu bayi. Dan masih banyak lagi mukjizat mukjizat para nabi dan rasul yang diberikan Allah kepada mereka tapi bersifat sementara, tidak kekal dan berlaku pada masa dan tempat mereka berada dan berakhir dengan wafatnya mereka.

Berlainan dengan dengan mukjizat al-Qur’an yang diturukan kepada Rasulallah saw. Mukjizat beliau yang berupa al-Qur’an tidak dibatasi oleh tempat dan masa tertentu. Mukjizat beliau berlaku untuk setiap tempat dan masa, dapat dijangkau oleh setiap manusia yang menggunakan akal di mana saja dan kapan saja.

Al-Qur’an merupakan mu’jizat yang bersifat kekal tidak pernah punah, berbeda dengan mu’jizat para nabi dan rasul sebelumnya. Al-Qur’an adalah mu’jizat ilmiah yang mencakup semua urusan manusia dunia dan akhirat. (lihat pembahasan al-Qur’an pada pelajaran sebelumnya)

Al-Qur’an adalah kitab suci yang wajib diimani dan diyakini dengan keyakinan yang kuat akan kesuciannya. Berlainan dengan kitab kitab suci sebelumnya, Al-Quran diturunkan Allah swt.kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril as itu tidak sekaligus, melainkan secara berangsur-angsur selama 23 tahun yang terdiri dari 30 juz. Wahyu pertama berupa surat Al-‘Alaq ayat 1-5, diturunkan di gua Hira’ ketika Nabi saw sedang berkhalawat atau menyendiri. Pada saat itu pula beliau dinobatkan sabagai Rasulullah untuk menyampaikan risalah-Nya kepada seluruh umat. 

Sedangkan ayat yang terakhir turun adalah surat al-Maidah ayat 3, ”Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.”.  Ayat tersebut turun pada Rasulallah saw ketika melakukan haji wada’ kemudian setelah menerima wahyu tersebut beliau wafat.

Al-Quran diturunkan kepada Nabi saw untuk menghapus syari’at yang tertera dalam kitab-kitab terdahulu. Ia merupakan kitab suci terlengkap dan abadi sepanjang masa, berlaku bagi semua umat manusia sampai akhir zaman, serta pedoman dan petunjuk bagi manusia dalam menjalankan kehidupan didunia agar tercapai kebahagiaan diakhirat.

Al-Qur’an tidak diragukan lagi kebenaran dan keasliannya, terperihara dari mulai diturunkan sampai masa yang tidak bisa ditentukan. Para ulama membagi masa turun ini dibagi menjadi 2 periode, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Periode Mekkah berlangsung selama 13 tahun masa kenabian Rasulullah saw dan surat-surat yang turun pada waktu ini tergolong surat Makkiyyah. Sedangkan periode Madinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah berlangsung selama 10 tahun dan surat yang turun pada kurun waktu ini disebut surat Madaniyah.

Penulisan Al-Qu’an dalam bentuk teks sudah dimulai sejak zaman Nabi saw, tapi sangat rare dan jarang didapatkan, karena pada zaman itu mereka kebanyaknya mengandalkan kepada hafalan bukan kepada tulisan. Kemudian sedikit demi sedikit mulai didapatkan perobahan Al-Qur’an dari hafalan ke tulisan dan perobahan Al-Qur’an menjadi teks terus dijumpai dan dilakukan sampai pada zaman khalifah Utsman bin Affan ra.

Pada masa ketika Rasulallah saw masih hidup, terdapat beberapa orang yang ditunjuk untuk menuliskan Al Qur’an yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Ka’ab. Sahabat yang lain juga secara diam diam menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan. Media penulisan yang digunakan saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, dll. Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an setelah wahyu diturunkan.

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar ra, terjadi beberapa pertempuran diantaranya perang yang dikenal dengan nama perang Ridda yang mengakibatkan tewasnya beberapa penghafal Al-Qur’an dalam jumlah yang tidak terhitung. Umar bin Khattab ra pada saat itu merasa sangat khawatir akan keadaan tersebut lantas meminta kepada Khalifah Abu Bakar ra untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Qur’an yang saat itu tersebar di antara para sahabat, penghapal Al-Qur’an. Lalu Abu Bakar ra memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk membuat lajnah pengumpulan Al-Qur’an yang mengorganisai pelaksaan tugas tersebut. Setelah pekerjaan tersebut selesai dan Al-Qur’an tersusun secara rapi dalam satu mushaf, hasilnya diserahkan kepada Khalifah Abu Bakar ra. Abu Bakar ra menyimpan mushaf tersebut hingga wafatnya kemudian mushaf pertama itu berpindah kepada Umar bin Khattab ra sebagai khalifah penerusnya, selanjutnya diserahkan dan dipegang oleh anaknya Hafsah yang juga istri Nabi saw.

Pada masa pemerintahan khalifah ke-3 yakni Utsman bin Affan, Islam semakin tersebar luas ke suluruh penjuru, dan terjadilah perbedaan dialek (lahjah) antara suku yang berasal dari daerah dan negara berbeda beda. Hal ini menimbulkan kekhawatiran Utsman sehingga ia mengambil kebijaksanaan untuk membuat keseragaman dalam cara membaca Al-Qur’an (qira’at). Lalu ia mengirim utusan kepada Hafsah binti Umar ra untuk meminjam mushaf Abu Bakar yang ada padanya. Ia memanggil Zaid bin Tsabit Al-Anshari dan tiga orang Quraish, yaitu Abdullah bin Zubair, Said bin Al-Ash dan Abdurahman bin Al-Harists bin Hisyam. Ia memerintahkan agar menyalin dan memperbanyak mushaf, dan jika terjadi perbedaan antara Zaid dengan ketiga orang Quraish tersebut, hendaklah ditulis dalam bahasa Quraish karena Al-Qur’an turun dalam dialek bahasa mereka.

Maka terbentuklah sebuah mushaf standar (menyalin mushaf yang dipegang Hafsah). Standar tersebut kemudian dikenal dengan istilah Mushaf Utsmani yang digunakan hingga saat ini. Besamaan dengan keluarnya penyamaan dengan standar yang dihasilkan, maka khalifah Ustman ra memerintahkan seluruh mushaf yang berbeda untuk dimusnahkan. Hal ini demi untuk mencegah perselisihan di antara umat islam di masa depan dalam penulisan dan pembacaan Al-Qur’an. Setelah mengembalikan lembaran-lembaran asli kepada Hafsah, ia mengirimkan tujuh buah mushaf, yaitu ke Mekkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah, dan sebuah ditahan di Madinah.

Dari keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Utsman telah disepakati dan disetujui oleh para sahabat. Hal ini agar umat bersatu pada satu mushaf, sehingga tidak terjadi lagi perpecahan dan perselisihan.
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. Al-Hijr 9

Sumber: http://hasanassaggaf.wordpress.com/2010/06/02/al-quran/?preview=true&preview_id=176&preview_nonce=e77195041e

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar