Marquee text

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS: At-Taubah 128)

10 Juni 2013

Kembali kepada Jiwa Manusia


habib ali aljufri

(Habib Ali Al-Jufri)
Madrasah Hadhramaut,
Pelajaran Pertama: Kembali kepada Jiwa Manusia

Setelah memahami hakikat dunia, kebutuhan pokok manusia dalam hidupnya, berikut perkembangannya, dan hal-hal yang dicela dari dunia, se­lanjutnya mari kita merenungkan masa­lah terbesar pada era sekarang ini yang dihadapi manusia.
Dari manakah permasalahan itu muncul? Peperangan demi peperangan, yang telah menumpahkan darah manu­sia, apakah penyebab dan sumbernya?
Bila kita teliti dan menengok sedikit ke belakang, pertikaian sengit yang ter­jadi di antara manusia, antara negara dan negara, antara suku dalam satu bang­­sa, antara sekelompok masyarakat dalam satu lingkungan yang sama, an­tara kerabat dan sanak keluarga, antara sesama pekerja dalam satu profesi, ke­mudian perselisihan dan pertikaian yang terjadi dalam satu keluarga, perma­salah­an suami-istri, perceraian, hak asuh anak, dan sebagainya, semua perma­salahan besar tersebut itu tidak lain kembali kepada jiwa manusia.
Bahagia atau duka, untung atau rugi, ridha atau murka, senang atau sedih, ten­teram atau resah dan nestapa, semuanya kembali kepada jiwa manu­sia.


Itulah sebabnya, setelah bersumpah de­ngan berbagai wujud yang sangat nya­ta, matahari dan bulan, malam dan siang, langit dan bumi, Allah SWT men­jadikan akhir dari sumpah-Nya adalah sumpah de­ngan manusia. Allah SWT berfirman, “Dan jiwa serta penyem­pur­naan (ciptaannya). Maka Allah mengil­hamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya.” — QS Asy-Syams (91): 7-8.
Kemudian apa konsekuensi dari sum­pah ini, apa yang menjadi jawaban dari sumpah ini? Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesung­guh­nya merugilah orang yang mengo­torinya.” — QS Asy-Syams (91): 9-10.
Berbicara tentang kebahagiaan, ten­tang kesuksesan dunia dan akhirat, ten­tang kerugian, tentang apa pun itu, per­masalahan sesungguhnya ada pada jiwa manusia. Kita tinggal memilih: dunia, atau jalan menuju Allah. Itulah karena­nya, kita sangat butuh untuk duduk ber­sama, merenungkan dan me­mikirkan ihwal perjalanan kita menuju Allah SWT.

Perbedaan Pandangan terhadap Dunia
Adalah perbedaan yang besar antara seseorang yang menyantap sesuap ma­kanan untuk memelihara amanah tubuh yang Allah titipkan dan seseorang yang menyantap sesuap makanan, atau me­minum satu tegukan, atau mengenakan sehelai pakaian, dengan niat semata-mata memakan makanan, meminum mi­numan, ataupun memakai pakaian itu.
Seseorang yang menyantap sesuap makanan, meminum satu tegukan, atau mengenakan sehelai pakaian untuk me­melihara amanah tubuh yang Allah titip­kan, niatnya adalah untuk melahirkan mak­na syukur kepada Allah SWT dari dalam hatinya, untuk menunaikan pe­rintah Allah SWT sebagai seorang ham­ba yang memelihara amanah yang di­te­rimanya dari Sang Pencipta. Hamba ini, apa yang ia kehendaki dari makanan, mi­numan, pakaian, tempat tinggal? Ia adalah seorang murid. Ia menghendaki dan meng­inginkan Allah SWT, meng­inginkan ridha-Nya.
Adapun seseorang yang menyantap sesuap makanan, meminum satu teguk­an, atau mengenakan sehelai pakaian de­ngan maksud semata-mata untuk ma­kanan, minuman, ataupun pakaian itu, niatnya adalah semata-mata untuk ber­senang-senang. Tidak ada tujuan lain ke­cuali meraih kesenangan dunia se­mata-mata. Pandangan dan penilaian­nya terhadap dunia sebatas hanya pada meraih kenikmatannya dan bersenang-senang dengannya.
Dikisahkan, suatu hari Khalifah Ali bin Abi Thalib ditanya, manakah yang akan ia minum, air yang didinginkan atau air tawar biasa. Pertanyaan ini muncul dikarenakan sebagian orang zuhud di zamannya menjauhi minum dari air yang didinginkan.
Khalifah menjawab, “Aku minum air yang didinginkan.”
“Mengapa, wahai Amirul Mukminin?”
“Karena, dengan minum air yang di­dinginkan akan melahirkan makna syu­kur dari hati yang paling dalam.… Bila engkau berada pada cuaca sangat pa­nas, atau musim kemarau yang terik, atau engkau sedang berpuasa dan telah datang waktu berbuka sementara eng­kau dalam kehausan yang teramat sa­ngat, lalu engkau minum air yang di­di­nginkan, bagaimana rasa syukurmu ke­pada Allah pada saat itu? Tentu eng­kau akan berucap ‘Alhamdulillah (dari dalam hati).’ Tentu rasa syukurmu akan muncul dari hati yang paling dalam bila air yang engkau minum itu dingin, atau hangat…. Alhamdulillah…. Aku memun­cul­kan rasa syukur dari hatiku yang pa­ling dalam.”

Apa Yang Membahayakan?
Bukanlah masalah bahwa seseorang bersenang-senang. Melainkan yang men­­jadi masalah adalah bahwa sese­orang teledor dalam hidupnya terhadap amanah yang menjadi tujuan pencipta­annya, sehingga ia tidak lagi memiliki tujuan selain kesenangan dunia.
Lalu apa yang membahayakan?
Yang membahayakan adalah keme­rosotan moral dan kesia-siaan yang saat ini terjadi di berbagai belahan dunia, yang berupa kebencian, dengki, dan pe­pe­rangan, yang sumbernya, sebabnya, dan dasarnya adalah bahwa sekelom­pok ma­nusia yang menguasai dunia, me­reka menguasainya semata-mata untuk ke­pentingan hawa nafsunya.
Pada nafsulah terdapat masalah, ke­hinaan, dan bahaya.
Bila manusia sudah berurusan de­ngan kesenangan nafsu dan tuntutan-tun­tutan nafsunya itu, ia akan terjatuh ke­pada dua masalah yang besar:
Pertama, keinginan nafsu tidak ha­nya sebatas pada apa yang sudah ter­penuhi.  Karena nafsu sesungguhnya me­nuntut agar semua perintahnya di­patuhi. Se­hing­ga, ia tidak akan pernah ber­henti me­nuntut sesuatu yang dike­hendakinya. Jika keinginannya sudah dipenuhi, ia akan me­nuntut keinginan selanjutnya, kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, sampai ke­pada tingkatan yang manusia tidak da­pat melakukan­nya, yang semuanya tidak lain adalah ke­puasan bagi nafsu. Ia akan meminta sesuatu yang berada di luar ba­tas akal sehat, di luar batas yang se­patutnya, dan di luar batas kebiasaan.
Apa yang menyebabkan sebagian orang menipu, memperdaya, dan meng­ambil riba? Mengapa mereka memilih untuk bertikai, menghina orang lain, ber­buat zhalim terhadap sesama hanya ka­rena demi memperoleh harta benda? Apa yang menyebabkan mereka me­laku­kan itu semua? Tidak lain karena me­reka se­dang memenuhi keinginan nafsunya yang menghendaki tambahan dari segala keinginannya. Mereka me­menuhi tuntut­an hawa nafsunya, baik dalam hal ma­kanan, minuman, pakaian, atau keme­wahan harta benda.  Allah SWT berfir­man, “Bermewah-mewahan telah me­lalaikan kalian.” — QS At-Takatsur (102): 1.
Semuanya adalah dorongan dan ke­inginan untuk mendapatkan tambahan.
Permasalahannya adalah, meskipun ma­nusia berusaha untuk membuat naf­sunya puas, ia tidak akan pernah puas. Meskipun manusia berusaha untuk mem­buatnya senang, ia tidak akan per­nah berhenti untuk meminta tambahan yang lebih lagi dan lagi.
Sesungguhnya siapa pun yang di­kuasai hawa nafsu, pastilah akan buta dan tuli.
Kedua, sesungguhnya nafsu itu, se­tiap kali seseorang memuaskannya, ia akan puas hanya sesaat, namun ke­mudi­an kepuasan itu langsung menghi­lang dan berakhir. Berakhir di dunia se­belum akhirat. Datang sesaat dan ber­akhir saat itu juga, karena kesenangan sesaat itu selamanya bergantung pada kesenangan lainnya. Kesenangan nafsu hanyalah ke­senangan fatamorgana, yang tidak per­nah ada ujungnya dan ti­dak pernah pula sampai kepada hakikat.
Lalu bagaimanakah halnya dengan orang yang berpindah dari mengingin­kan dunia kepada menginginkan akhirat se­dangkan ia pun bersenang-senang. Ia me­nikmati berbagai hidangan yang le­zat, mengenakan pakaian yang terindah, me­ngendarai kendaraan yang mewah, dan tinggal di rumah yang megah? Apa yang membedakan antara keduanya?
Perbedaan antara keduanya, pertama, di dunia, yang membedakan­nya adalah, orang yang kedua, yakni yang menghendaki akhirat, merasakan kesenangan yang hakiki. Karena, bila me­rasakan kesenangan atau menikmati hi­dangan yang dimakannya, ia berkata, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Yang telah memberiku rizqi.”
Ia mengakui, nikmat yang diterima ha­nyalah milik Allah, sehingga kese­nangan yang dirasakannya adalah ke­bahagiaan terhadap rahmat dan karunia Allah SWT. Ke­bahagiaan yang tidak akan pernah ber­akhir selama di dunia. Sedangkan di akhirat nanti, kesenangan itu pun akan te­tap abadi. Ia akan melihat buah dari syu­kurnya kepada Allah SWT ketika ia berdiri di hadapan Allah. Allah berfirman, “Apabila kalian bersyukur, niscaya Aku tambahkan nimat-Ku.” — QS Ibrahim (14): 7. Sehingga orang ter­sebut akan bersenang-senang di dunia dan ber­se­nang-senang pula di akhirat.
Kedua, orang tersebut akan menjadi raja bagi nafsunya dan tidak akan per­nah menjadi budak baginya.
Perhatikanlah permasalahan ini de­ngan sebaik-baiknya. Seseorang yang hi­dup dan menikmati kesenangan dunia yang dibolehkan namun yang ia inginkan ada­lah Allah SWT, dan bukan dunia, ia akan hidup sentosa dan kuat dengan rah­mat dan pertolongan Allah SWT, men­jadi raja bagi nafsunya, dan tidak akan pernah menjadi budaknya.
Bila sang nafsu mulai menuntut se­suatu yang bukan haknya, sesuatu yang tidak diperkenankan, sesuatu yang di luar kemampuannya, dan mulai meng­goda­nya dengan terbukanya kemung­kin­an-ke­mungkinan untuk mencuri, me­nipu, atau memperdaya, dengan serta merta hati­nya berkata, “Tidak! Ini tidak di­ridhai oleh Allah SWT dan aku meng­inginkan ridha Allah. Aku tidak akan men­cari masalah ha­nya untuk kese­nang­an sesaat. Aku ha­nya mengambil sesuatu untuk mendapat­kan ridha Allah sedangkan ini tidak di­ridhai oleh Allah SWT. Karenanya aku ti­dak akan mem­berimu (nafsu) kesenang­an ini.”
Orang ini akan selalu berkata “tidak” ke­pada nafsunya. Dan bila ia sudah ber­kata “tidak”, tunduklah nafsunya meski­pun pada awalnya sang nafsu membe­rontak.
Pada pembahasan-pembahasan be­rikutnya, akan dijelaskan ihwal pembe­rontakan nafsu dan mujahadah untuk me­naklukkannya sehingga pada akhir­nya sang nafsu pun tunduk. Dan apabila naf­su sudah tunduk, kitalah yang akan mengarahkan dan membimbing nafsu ber­­dasarkan perintah Allah SWT. Se­hing­ga, dalam kehidupan, dalam siang dan malam, dalam kesibukan hati, dalam ke­sungguhan dan segala keinginan, kita se­nantiasa dalam keadaan ber-tawajjuh (menghadap) kepada Allah SWT. Hari demi hari semakin dekat, dekat, dan te­rus dekat kepada Allah SWT.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar