Download disini: WAHABI Konspirasi Yahudi
Sebarkan wahai sahabat...
Marquee text
- Home
- Artikel
- Salafi-Wahabi
- About Syiah
- Apakah syiah itu ?
- Apa Madhab Ahlul Bait?
- Apa Ahlussunnah Waljamaah?
- Kapan lahirnya Aqidah Aswaja ?
- perbedaan Aswaja dgn Syiah ?
- Apa dan siapa Al-Bayyinat
- Rijalul Bayyinat
- Sahabat Nabi SAW
- Khalifah Abu Bakar R.A
- Ahlul Bait
- Imam Ali K.W.
- Fatimah Az-Zahra R.A
- Alawiyyin
- Asyura
- Mut'ah
- Himbauan dari Al-Bayyinat
- Al Firgoh An Najiah
- Fatawa Imam/ Ulama
- Email Al-Bayyinat
- Link-link situs islami
- Akidah Menurut Ajaran Nabi
- Alawiyyin
- Aswaja
- Download
- Audio
- About Me
08 June 2012
07 June 2012
Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Husein ra
Beliau
adalah Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Hussein bin Ali bin Abi Thalib (semoga
Allah meridhoi mereka semua). Beliau dijuluki dengan julukan Abal Hasan atau
Abal Husain. Beliau juga dijuluki dengan As-Sajjad (orang yang ahli sujud).
Beliau
adalah seorang yang ahli ibadah dan panutan penghambaan dan ketaatan kepada
Allah. Beliau meninggalkan segala sesuatu kecuali Tuhannya dan berpaling dari
yang selain-Nya, serta yang selalu menghadap-Nya. Hati dan anggota tubuhnya diliputi
ketenangan karena ketinggian makrifahnya kepada Allah, rasa hormatnya dan rasa
takutnya kepada-Nya. Itulah sifat-sifat beliau, Al-Imam Ali Zainal Abidin.
Beliau
dilahirkan di kota
Madinah pada tahun 33 H, atau dalam riwayat lain ada yang mengatakan 38 H.
Beliau adalah termasuk generasi tabi'in. Beliau juga seorang imam agung. Beliau
banyak meriwayatkan hadits dari ayahnya (Al-Imam Husain), pamannya Al-Imam
Hasan, Jabir, Ibnu Abbas, Al-Musawwir bin Makhromah, Abu Hurairah, Shofiyyah,
Aisyah, Ummu Kultsum, serta para ummahatul mukminin/isteri-isteri Nabi SAW
(semoga Allah meridhoi mereka semua). Beliau, Al-Imam Ali Zainal Abidin,
mewarisi sifat-sifat ayahnya (semoga Allah meridhoi keduanya) di didalam ilmu,
zuhud dan ibadah, serta mengumpulkan keagungan sifatnya pada dirinya di dalam
setiap sesuatu.
Berkata
Yahya Al-Anshari, "Dia (Al-Imam Ali) adalah paling mulianya Bani Hasyim
yang pernah saya lihat." Berkata Zuhri, "Saya tidak pernah menjumpai
di kota Madinah
orang yang lebih mulia dari beliau." Hammad berkata, "Beliau adalah
paling mulianya Bani Hasyim yang saya jumpai terakhir di kota Madinah." Abubakar bin Abi Syaibah
berkata, "Sanad yang paling dapat dipercaya adalah yang berasal dari
Az-Zuhri dari Ali dari Al-Husain dari ayahnya dari Ali bin Abi Thalib."
Kelahiran
beliau dan Az-Zuhri terjadi pada hari yang sama. Sebelum kelahirannya, Nabi SAW
sudah menyebutkannya. Beliau shalat 1000 rakaat setiap hari dan malamnya.
Beliau jika berwudhu, pucat wajahnya. Ketika ditanya kenapa demikian, beliau
menjawab, "Tahukah engkau kepada siapa aku akan menghadap?." Beliau
tidak suka seseorang membantunya untuk mengucurkan air ketika berwudhu. Beliau
tidak pernah meninggalkan qiyamul lail, baik dalam keadaan di rumah ataupun
bepergian. Beliau memuji Abubakar, Umar dan Utsman (semoga Allah meridhoi
mereka semua). Ketika berhaji dan terdengar kalimat,
"Labbaikallah...," beliau pingsan.
Suatu
saat ketika beliau baru saja keluar dari masjid, seorang laki-laki menemuinya
dan mencacinya dengan sedemikian kerasnya. Spontan orang-orang di sekitarnya,
baik budak-budak dan tuan-tuannya, bersegera ingin menghakimi orang tersebut,
akan tetapi beliau mencegahnya. Beliau hanya berkata, "Tunggulah sebentar
orang laki-laki ini." Sesudah itu beliau menghampirinya dan berkata
kepadanya, "Apa yang engkau tidak ketahui dari diriku lebih banyak lagi.
Apakah engkau butuh sesuatu sehingga saya dapat membantumu?." Orang
laki-laki itu merasa malu. Beliau lalu memberinya 1000 dirham. Maka berkata
laki-laki itu, "Saya bersaksi bahwa engkau adalah benar-benar cucu
Rasulullah."
Beliau
berkata, "Kami ini ahlul bait, jika sudah memberi, pantang untuk
menginginkan balasannya." Beliau sempat hidup bersama kakeknya, Al-Imam
Ali bin Abi Thalib, selama 2 tahun, bersama pamannya, Al-Imam Hasan, 10 tahun, dan
bersama ayahnya, Al-Imam Husain, 11 tahun (semoga Allah meridhoi mereka semua).
Beliau
setiap malamnya memangkul sendiri sekarung makanan diatas punggungnya dan
menyedekahkan kepada para fakir miskin di kota Madinah. Beliau berkata,
"Sesungguhnya sedekah yang sembunyi-sembunyi itu dapat memadamkan murka
Tuhan." Muhammad bin Ishaq berkata, "Sebagian dari orang-orang
Madinah, mereka hidup tanpa mengetahui dari mana asalnya penghidupan mereka.
Pada saat Ali bin Al-Husain wafat, mereka tak lagi mendapatkan penghidupan
itu."
Beliau
jika meminjamkan uang, tak pernah meminta kembali uangnya. Beliau jika
meminjamkan pakaian, tak pernah meminta kembali pakaiannya. Beliau jika sudah
berjanji, tak mau makan dan minum, sampai beliau dapat memenuhi janjinya.
Ketika beliau berhaji atau berperang mengendarai tunggangannya, beliau tak
pernah memukul tunggangannya itu. Manaqib dan keutamaan-keutamaan beliau tak
dapat dihitung, selalu dikenal dan dikenang, hanya saja kami meringkasnya
disini. Beliau meninggal di kota Madinah pada tanggal 18 Muharrom 94 H, dan
disemayamkan di pekuburan Baqi', dekat makam dari pamannya, Al-Imam Hasan, yang
disemayamkan di qubah Al-Abbas. Beliau wafat dengan meninggalkan 11 orang putra
dan 4 orang putri. Adapun warisan yang ditinggalkannya kepada mereka adalah
ilmu, kezuhudan dan ibadah.
Radhiyallohu
anhu wa ardhah...
[Disarikan
dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi
Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]
Al-Imam Zaid bin Ali Zainal Abidin Ibnul Husain
Beliau
juga dikenal sebagai ahli Fiqah kenamaan di masanya. Pengakuan tersebut pernah
diucapkan oleh Imam Abu Hanifah sendiri: "Aku kenal Imam Zaid bin Ali
sebagaimana aku kenal tentang keluarganya. Di masanya tidak pernah seorang yang
lebih ahli dalam Fiqah daripada beliau. Dan aku tidak pernah melihat seorangpun
yang lebih luas pengetahuannya, lebih cepat menjawab dan lebih terang
penjelasannya daripada beliau, jarang sekali mendapati orang semacam beliau".
Kumpulan
Syiah Zaidiyah nisbatnya kembali pada beliau. Beliau dikhianati oleh pengikut
beliau sendiri yang berada di kota Kufah. Sebahagian pengikut beliau ada pula
golongan yang ekstrimis. Mereka menuntut agar beliau tidak mengakui
kekhalifahan Abu Bakar dan Umar secara sah.
Namun
beliau menolak dan beliau menyatakan dengan terang-terangan bahawa Abu Bakar
dan Umar adalah khalifah Rasulullah yang sah. Sejak itulah pengikut beliau yang
menolak kekhalifahan Abu Bakar dan Umar disebut golongan Syiah Rafidha (yang
menolak). Sedangkan pengikut beliau yang tetap mengikuti pendapat beliau
tentang sahnya kekhalifahan Abu Bakar dan Umar disebut Syiah Zaidiyah. Kelompok
inilah yang ikut berjuang dengan beliau mati-matian.
Imam
Zaid bin Ali dihukum mati kerana menentang pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik
salah seorang khalifah dari dinasti Bani Umayyah. Ketika dinaikkan di atas
tiang salib, beliau ditelanjangi dahulu sebelum dibunuh. Namun Allah tetap
melindungi aurat beliau. Allah mengutus segerombolan laba-laba untuk membuat
anyaman dari sarangnya sehingga dapat menutupi seluruh aurat beliau.
Dipetik
dari: Kemuliaan Para Wali - karangan Zulkifli Mat Isa, terbitan Perniagaan
Jahabersa.
***
06 June 2012
Bertawasullah
Tawasul atau washilah menurut bahasa ialah “sesuatu yang dapat mendekatkan kepada yang lain“
Tawasul (washilah) dimaknai secara singkat adalah “jalan”
Jalan yang dimaksud di sini tentulah bukan yang dimaksud dengan jalan raya atau tempat kita menempatkan kaki untuk berjalan. Hal ini sama dengan istilah langit, kursi yang kita temukan dalam Al-Qur’an berkaitan dengan Allah Azza wa Jalla bukanlah yang dimaksud dengan langit bumi atau kursi tempat duduk yang dapat kita indera dengan panca indera kita seperti dengan mata (penglihatan)
Wasilah, langit, kursi adalah sesuatu yang termasuk hal ghaib atau dimensi batin, karena tidak dapat diindera dengan alat pembantu untuk melihat (mata), alat pembantu untuk mengecap (lidah), alat pembantu untuk membau (hidung), alat pembantu untuk mendengar (telinga), ataupun alat pembantu untuk merasakan (kulit/indera peraba).
Kita meyakini bahwa Baginda Rasulullah pasti mengetahui tentang hal ghaib atau dimensi batin, termasuk mengetahui tentang washilah, kursi, langit
Disisi lain, Syaikh Ibnu Baz berfatwa bahwa “seseorang yang berkeyakinan Rasulullah mengetahui hal ghaib maka ini adalah keyakinan kufur yang pelakunya dianggap sebagai orang kafir karena melakukan kekufuran yang besar”
Periksa fatwa beliau, contohnya pada http://fatwaulama-online.blogspot.com/2008/03/hukum-orang-yang-meyakini-bahwa.html
Fatwa seperti itu merupakan sebuah kesalahpahaman. Kesalahpahaman adalah salah menurut apa yang kami pahami. Allah ta’ala mennyampaikan bahwa Rasulullah mengetahui hal ghaib walaupun sedikit sebagaimana firmanNya yang artinya
“Tuhan Maha Mengetahui yang gaib. Maka Dia tidak akan membukakan kegaibannya itu kepada seorang pun, kecuali kepada Rasul yang di kehendaki”. (QS. Al Jin [72]: 26-27).
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit“. (QS Al Isra [17]:85 )
Dalam tulisan kali ini, kita akan mencoba menguraikan masalah tawasul atau washilah yang merupakan salah satu bagian terpenting dalam agama Islam
Para ulama memahami washilah ini berbeda-beda pendapat namun intinya mereka bersepakat bahwa washilah adalah sesuatu yang dibenarkan dan dianjurkan dalam Islam, sebagaimana ditegaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firmanNya yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (washilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS Al Maa’idah [5]: 35 )”
Pengertian Tawassul
Pemahaman tawassul sebagaimana yang dipahami oleh umat islam selama ini adalah bahwa Tawassul adalah berdoa kepada Allah melalui suatu perantara atau jalan atau cara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah.
Jadi tawassul merupakan perantara, jalan doa untuk menuju/sampai kepada Allah SWT.
• Orang yang bertawassul dalam berdoa kepada Allah menjadikan perantaraan berupa sesuatu yang dicintainya dan dengan berkeyakinan bahwa Allah SWT juga mencintai perantaraan tersebut.
• Orang yang bertawassul tidak boleh berkeyakinan bahwa perantaranya kepada Allah bisa memberi manfaat dan madlorot kepadanya dan. Jika ia berkeyakinan bahwa sesuatu yang dijadikan perantaraan menuju Allah SWT itu bisa memberi manfaat dan madlorot, maka dia telah melakukan perbuatan syirik, karena yang bisa memberi manfaat dan madlorot sesungguhnya hanyalah Allah semata.
• Tawassul merupakan salah satu cara atau jalan dalam berdoa. Banyak sekali cara untuk berdo’a agar dikabulkan Allah, seperti berdoa di sepertiga malam terakhir, berdoa di tempat-tempat mustajab seperti Maqam Ibrahim, Multazam, Raudoh, dll. Berdoa dengan mendahuluinya dengan bacaan alhamdulillah dan sholawat dan meminta doa kepada orang sholeh.
Demikian juga tawassul adalah salah satu usaha agar do’a yang kita panjatkan diterima dan dikabulkan Allah s.w.t.
Ada yang bertanya kenapa kita harus bertawasul dalam berdoa sedangkan kita dijanjikan Allah Azza wa Jalla akan mengabulkan segala permohonan hambaNya sebagaimana firmanNya yang artinya
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS Al Baqarah [2]:1860 )
Kadang kita dalam memahami ayat seperti ( QS Al Baqarah[2]:186 ) mengambil hanya sebagaian dari ayat itu yakni “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku“. Sehingga sebagian muslim, ketika selesai berdoa, seolah-olah “menagih janji” Allah swt berdasarkan apa yang dipahaminya itu.
Padahal ayat itu menjelaskan jalan/cara/syarat agar Allah ar Rahmaan ar Rahiim mengabulkan doa hambaNya.
Doa agar sampai kepada Allah Azza wa Jalla atau terkabul harus memperhatikan “adab berdoa”
Adab berdoa yang utama adalah bagaimana kedekatan dengan Allah Azza wa Jalla di terangkan dalam ayat itu juga yakni “hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.
Mereka yang lebih “didengar” doanya adalah adalah orang-orang yang istiqomah di jalan yang lurus yakni jalan orang-orang yang telah diberi ni’mat oleh Allah Azza wa Jalla
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (QS Al Fatihah [1]: 6 )
“(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS Al Fatihah [1]:7 )
Kita semua berdoa setiap hari minta petunjukNya akan ”jalan yang lurus” namun seolah-olah tidak berupaya agar permintaan / doa itu terlaksana.
Kenyataannya sebagian muslim hanya sebatas meminta / berdoa saja tanpa upaya atau tidak pernah tahu apa upaya yang harus dilakukan terhadap permintaan / doa tersebut, atau malah tidak pernah merasa meminta / berdoa walaupun melaksanakan sholat 5 waktu.
Ketidaktahuan itu terjadi karena tidak mengikuti nasehat para ulama sebagai contoh nasehat ulama kita terdahulu seperti Wali Songo dalam syair lagu “obat hati” dimana mereka menasehatkan “Obat hati ada lima perkara, Yang pertama, baca Qur’an dan maknanya“
PetunjukNya semua ada dalam Al-Qur’an dan jadikanlah Al-Qur’an sebagai petunjuk kita dengan mengetahui maknanya atau dengan memahaminya .
“Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,” (QS. Al Baqarah [2] : 2 )
“Dengan kitab (Al-Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS Al Maa’idah. [5]:16 )
Siapakah orang-orang yang istiqomah di jalan yang lurus atau orang-orang yang telah diberi ni’mat oleh Azza wa Jalla ?
“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS An Nisaa [4]: 69 )
Orang-orang sholeh (sholihin) dan muslim dengan derajat/tingkatan orang sholeh itu ada yang masih hidup dan ada pula yang sudah meninggal sedangkan para Syuhada adalah mereka yang mendapatkan derajat tersebut setelah wafat.
Kita bisa minta tolong orang lain yang menurut kita termasuk orang-orang sholeh atau orang-orang yang dekat di sisi Allah Azza wa Jalla karena kita meyakini bahwa do’a mereka lebih “didengar” oleh Allah Azza wa Jalla daripada do’a yang disampaikan oleh kita sendiri dengan syarat kita harus yakin bahwa sesungguhnya yang mengabulkan doa/permintaan adalah Allah ta’ala semata. Orang-orang sholeh hanyalah sebagai washilah atau jalan. Inilah salah satu bertawasul.
Kalau kita mau berdoa langsung kepada Allah Azza wa Jalla maka kitapun harus memenuhi adab berdoa itu atau bertawasul
Bertawasul yang paling sederhana adalah dengan sholawat.
Anas bin Malik r.a meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tiada doa kecuali terdapat hijab di antaranya dengan di antara langit, hingga bershalawat atas Nabi SAW, maka apabila dibacakan shalawat Nabi, terbukalah hijab dan diterimalah doa tersebut, namun jika tidak demikian, kembalilah doa itu kepada pemohonnya“.
Bertawasul yang lain adalah sebelum berdoa meng”hadiah”kan bacaan al fatihah untuk orang-orang sholeh umumnya untuk yang telah wafat. Ini termasuk bertawasul dengan amal kebaikan/sholeh kita.
Ada beberapa cara bertawasul antara lain
Hadits dengan sanad bagus riwayat ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir, bahwa Rasulullah menyebutkan dalam doanya (bertawasul dengan para nabi): “Dengan haq Nabimu dan para Nabi-Nabi sebelumku“
Hadits riwayat al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Anas bahwa ketika para shahabat kepayahan karena ketiadaan air, Umar bin Khaththab ber-istisqa’ lewat ‘Abbas bin Abdil Muththalib, beliau berdoa: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kami bertawassul kepada Engkau lewat dengan Nabi kami dan Engkau memberu hujan kami. Dan kami bertawassul kepada Engkau lewat dengan paman Nabi kami, maka berilah kami hujan!”
Hadits riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak, Umar bin Khaththab mengatakan bahwa Rasulullah bersabda: “Ketika Nabi Adam melakukan kesalahan, dia bermunajat: “Wahai Rabb-ku, aku memohon kepada-Mu dengan lewat haq-Muhammad ketika Engkau mengampuni kesalahanku.” Lalu Allah berfirman: “Wahai Adam, bagaimana engkau tahu tentang Muhammad sementara Aku belum menciptakannya?” Adam menjawab: “Wahai Rabb-ku, karena ketika Engkau menciptakanku dengan tangan-Mu (kekuasaan-Mu) dan meniupkan ruh di jasadku dari ruh-Mu, aku mengangkat kepalaku dan aku melihat di tiang-tiang ‘Arsy tertulis La ilaha illallah, Muhammad Rasulallah, dan aku tahu Engkau tidak akan menyandarkan nama-Mu kecuali kepada makhluk yang paling Engkau kasihi.” Allah kembali berfirman: “Benar wahai engkau Adam, karena sesungguhnya Muhammad adalah makhluk yang paling Aku cintai; dan jika engkau memohon kepada-Ku lewat dengan haq-nya Aku akan mengampunimu. Andai bukan karena Muhammad, Aku tidak akan menciptakanmu. ”
Kesimpulannya
Tawasul adalah pembuka (jalan/wasilah) doa atau Tawasul merupakan adab berdoa..
Tawassul adalah sebab (cara, sarana) yang dilegitimasi oleh syara’ sebagai sarana dikabulkannya permohonan seorang hamba.
Tawassul dengan para Nabi, orang-orang sholeh atau para wali diperbolehkan baik di saat mereka masih hidup atau mereka sudah meninggal. Karena mukmin yang bertawassul tetap berkeyakinan bahwa tidak ada yang menciptakan manfaat dan mendatangkan bahaya secara hakiki kecuali Allah Azza wa Jalla.
Para Nabi dan orang-orang sholeh atau para wali tidak lain hanyalah sebab dikabulkannya permohonan hamba karena kemuliaan dan ketinggian derajat mereka di sisi Allah Azza wa Jalla.
Allah Azza wa Jalla sendiri yang menyampaikan tentang kemulian dan ketinggian derajat mereka dalam (QS Ali Imran [3]: 169 ) yang artinya ”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada) itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.”
Bahkan Syaikh Ibnu Taimiyah berkomentar dlm kitabnya Al-Kawakib Al Durriyah juz 2 hal. 6 yaitu:
“Tidak ada perbedaan antara orang hidup dan orang mati seperti yg dianggap sebagian orang. Jelas shohih hadits riwayat sebagian sahabat bahwa telah diperintahkan kpd orang2 yg punya hajat di masa Kholifah Utsman untuk bertawasul kpd nabi setelah beliau wafat (berdo’a dan bertawasul di sisi makam Rosulullah) kemudian mereka bertawasul kpd Rosulullah dan hajat mereka terkabul, demikian diriwayatkan al-Thabary”
Para Nabi tentu termasuk Rasulullah pemimpin para Nabi, para Shiddiiqiin, para Syuhada dan orang-orang sholeh mereka hidup disisi Allah Azza wa Jalla sebagaimana yang disampaikan Allah Azza wa Jalla dalam firmanNya tentang para Syuhada
”Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada), (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS Al Baqarah [2]: 154 )
”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada) itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS Ali Imran [3]: 169)
Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/21/rasulullah-hidup/
Siapakah orang-orang sholeh atau para wali ?
Mereka adalah muslim yang sholeh atau muslim yang terbaik atau muslim yang ihsan (muhsin/muhsinin) yakni muslim yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati/keimananan atau muslim yang selalu setiap saat yakin bahwa Allah Azza wa Jalla melihat setiap perbuatan.
Sebagaimana yang diriwayatkan berikut
Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,
“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab, “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan …”
Barangsiapa mengakui wasilah (perantara) dan keutamaan kepada Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam maka ia berhak mendapatkan syafa’at beliau pada hari kiamat.
Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Ayyasy berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’aib bin Abu Hamzah dari Muhammad Al Munkadir dari Jabir bin ‘Abdullah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berdo’a setelah mendengar adzan: ALLAHUMMA RABBA HAADZIHID DA’WATIT TAMMAH WASHSHALAATIL QAA’IMAH. AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WALFADLIILAH WAB’ATSHU MAQAAMAM MAHMUUDANIL LADZII WA’ADTAH (Ya Allah. Rabb Pemilik seruan yang sempurna ini, dan Pemilik shalat yang akan didirikan ini, berikanlah wasilah (perantara) dan keutamaan kepada Muhammad. Bangkitkanlah ia pada kedudukan yang terpuji sebagaimana Engkau telah jannjikan) ‘. Maka ia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat.” (HR Bukhari)
http://www.indoquran.com/index.php?surano=10&ayatno=12&action=display&option=com_bukhari
Kitapun tanpa disadari telah bertawasul dengan orang-orang sholeh atau bersholawat kepada orang-orang sholeh setiap hari dengan mengucapkan
Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin,
“Semoga keselamatan bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh”.
Masihkah kita mengingkari bertawasul ?
Wassalam
Sumber: http://mutiarazuhud.wordpress.com
05 June 2012
Dzikrullah
Hadis Rasulullah SAW:
Dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah SAW., sabdanya: "Siapa yang tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali, takbir tiga puluh tiga kali, jadi jumlahnya sembilan puluh sembilan kali, kemudian dicukupkannya seratus dengan membaca: "La ilaha illallahu wahdahu la syarikalahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai-in qadir. Maka diampuni Allah segala kesalahannya, walaupun sebanyak buih di lautan." (Hadis riwayat Muslim)
سبحان الله -الحمد لله - الله أكبر
- Arti "Subhanallah" : artinya adalah "Maha Suci Allah" (Tasbih)
- Arti "Alhamdulillah" : artinya adalah "Segala Puji Bagi Allah" (Tahmid)
- Arti "Allahuakbar" : artinya adalah "Maha Besar Allah" (Takbir)
- Arti "Laa ilaha Illallah" : artinya adalah "Tiada Tuhan Selain Allah" (Tahlil)
- Arti "Audzubillah himinasyaitonirrajim" : artinya adalah "Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk"
- Arti "Naudzubillah himinasyaitonirrajim" : artinya adalah "Kami berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk"
- Arti "Astaghfirullah hal adzim" : artinya adalah "Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung" (Istighfar)
- Arti "Nastaghfirullah hal adzim" : artinya adalah "Kami mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung" (Istighfar Jamak)
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) -Ku.(Al-Baqarah : 152).
Amal Dan Sebarkan.Marilah basahkan bibir kita dengan Bertasbih memuji Allah Yang Esa.Amat besar fadilatnya dan ianya dapat mendidik hati kearah kebaikkan InshaAllah.
Dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah SAW., sabdanya: "Siapa yang tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali, takbir tiga puluh tiga kali, jadi jumlahnya sembilan puluh sembilan kali, kemudian dicukupkannya seratus dengan membaca: "La ilaha illallahu wahdahu la syarikalahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai-in qadir. Maka diampuni Allah segala kesalahannya, walaupun sebanyak buih di lautan." (Hadis riwayat Muslim)
سبحان الله -الحمد لله - الله أكبر
- Arti "Subhanallah" : artinya adalah "Maha Suci Allah" (Tasbih)
- Arti "Alhamdulillah" : artinya adalah "Segala Puji Bagi Allah" (Tahmid)
- Arti "Allahuakbar" : artinya adalah "Maha Besar Allah" (Takbir)
- Arti "Laa ilaha Illallah" : artinya adalah "Tiada Tuhan Selain Allah" (Tahlil)
- Arti "Audzubillah himinasyaitonirrajim" : artinya adalah "Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk"
- Arti "Naudzubillah himinasyaitonirrajim" : artinya adalah "Kami berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk"
- Arti "Astaghfirullah hal adzim" : artinya adalah "Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung" (Istighfar)
- Arti "Nastaghfirullah hal adzim" : artinya adalah "Kami mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung" (Istighfar Jamak)
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) -Ku.(Al-Baqarah : 152).
Amal Dan Sebarkan.Marilah basahkan bibir kita dengan Bertasbih memuji Allah Yang Esa.Amat besar fadilatnya dan ianya dapat mendidik hati kearah kebaikkan InshaAllah.
Subscribe to:
Posts (Atom)