Marquee text

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS: At-Taubah 128)

14 August 2012

Belum paham istinbat

Mereka belum paham tentang istinbat

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa batas, maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).

Mereka yang berpendapat bahwa saudara muslim lainnya telah menyelisihi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam atau menghujatnya sebagai ahli bid’ah  kadang dikarenakan mereka belum memahami yang disebut ber-istinbat (menetapkan hukum perkara).
Ibadah terdiri dari dua kategori yakni amal ketaatan dan amal kebaikan.

Amal ketaatan adalah ibadah yang terkait dengan menjalankan kewajibanNya (perkara kewajiban) dan menjauhi laranganNya (perkara larangan dan pengharaman). Amal ketaatan adalah perkara mau tidak mau harus kita jalankan atau kita taati. Amal ketaatan adalah bukti ketaatan atau “bukti cinta” kita kepada Allah Azza wa Jalla dan RasulNya. Amal ketaatan dikenal juga sebagai perkara syariat artinya syarat yang harus dipenuhi atau ditaati sebagai hamba Allah Azza wa Jalla.

Amal kebaikan adalah ibadah diluar amal ketaatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits. Amal kebaikan adalah perkara yang dilakukan atas kesadaran kita sendiri untuk meraih kecintaan atau keridhoan Allah Azza wa Jalla. Amal kebaikan adalah “ungkapan cinta” kita kepada Allah Azza wa Jalla dan RasulNya. Amal kebaikan adalah upaya kita untuk mendekatkan diri  kepada Allah Azza wa Jalla.

Dalam hal amal ketaatan contohnya perkara kewajiban sholat maka kita wajib mencontoh apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah meliputi niat dalam hati dan  batasnya mulai takbiratul ihram sampai dengan salam.

Ketika Semuanya Harus Sama Dengan Baginda Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam

Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

Ketika Semuanya Harus Sama Dengan Baginda Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam
Oleh: Ustadz Al Fadhil Ahmad Yusuf Al-Anshori hafizhahullah

Bagi kaum Salafi & Wahabi, segala urusan di dalam agama hanya ada di antara dua kategori, yaitu: Sayyidinaa Muhammad Shollallaah 'alaih Wa Sallam
  1. Yang diperintah atau dicontohkan, yaitu setiap amalan yang jelas ada perintahnya, baik dari Allah Swt. di dalam al-Qur’an maupun dari Rasulullah Saw., atau setiap amalan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. dan para Shahabat beliau.
  2. Yang dilarang , yaitu setiap amalan yang jelas ada larangannya dari Allah maupun dari Rasulullah Saw.

Dalil yang mereka kemukakan di antaranya adalah:“… Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. al-Hasyr: 7)Sebenarnya, ayat di atas secara keseluruhan sedang berbicara tentang fai’ (harta rampasan yang diperoleh dari musuh tanpa pertempuran), sehingga tafsiran asalnya adalah “apa yang diberikan Rasul (dari harta fai’) kepadamu maka terimalah dia” (lihat Tafsir Jalalain). Tetapi para mufassir seperti Ibnu Katsir dan al-Qurthubi juga menafsirkan ungkapan “apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia” dengan makna “apa yang diperintahkan Rasul …” berhubung setelahnya ada perintah untuk meninggalkan apa yang dilarang oleh Rasul, di samping itu juga karena adanya riwayat-riwayat hadis yang mendukung makna tersebut.

13 August 2012

Sholawat Badar

RIWAYAT SHOLAWAT BADAR
Sholawat Badar adalah rangkaian sholawat berisikan tawassul dengan nama Allah, dengan Junjungan Nabi s.a.w. serta para mujahidin teristimewanya para pejuang Badar.

Perang Badar

Sholawat ini adalah hasil karya Kiyai Ali Manshur, yang merupakan cucu Kiyai Haji Muhammad Shiddiq, Jember. Oleh itu, Kiyai ‘Ali Manshur adalah anak saudara/keponakanKiyai Haji Ahmad Qusyairi, ulama besar dan pengarang kitab “”Tanwir al-Hija” yang telah disyarahkan oleh ulama terkemuka Haramain, Habib ‘Alawi bin ‘Abbas bin ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani, dengan judul “Inarat ad-Duja”.

Diceritakan bahwa asal mula karya ini ditulis oleh Kiyai ‘Ali Manshur sekitar tahun 1960an, pada waktu umat Islam Indonesia menghadapi fitnah Partai Komunis Indonesia (PKI).
Ketika itu, Kiyai ‘Ali adalah Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi dan juga seorang Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama di situ.

Keadaan politik yang mencekam saat itu dan kebejatan PKI yang merajalela membunuh massa, bahkan banyak kiyai yang menjadi mangsa mereka, maka terlintaslah di hati Kiyai ‘Ali, yang memang mahir membuat syair ‘Arab sejak nyantri di Pesantren Lirboyo Kediri, untuk menulis satu karangan sebagai sarana bermunajat memohon bantuan Allah SWT untuk meredam fitnah politik saat itu bagi kaum muslimin khususnya Indonesia.

Dalam keadaan tersebut, Kiyai ‘Ali tertidur dan dalam tidurnya beliau bermimpi didatangi manusia-manusia berjubah putih – hijau, dan pada malam yang sama juga, isteri beliau bermimpikan Kanjeng Nabi s.a.w. Setelah siang, Kiyai ‘Ali langsung pergi berjumpa dengan Habib Hadi al-Haddar Banyuwangi dan menceritakan kisah mimpinya tersebut. Habib Hadi menyatakan bahwa manusia-manusia berjubah tersebut adalah para ahli Badar.

10 August 2012

Terapi Hati: Memperbaiki Aib Diri Sendiri

.…fenomena tayangan infotainment yang menceritakan kekisruhan rumah tangga orang lain, membeberkan perselingkuhan serta perzinahan yang terjadi dengan begitu terang benderang.

Ada seorang perempuan datang kepada Syaikh Hatim Al Asham untuk bertanya tentang sebuah persoalan. Saat bertanya, tiba-tiba keluarlah suara buang angin dari perempuan itu dan ia merasa sangat malu.
“Keraskan suaramu!,” teriak Hatim dengan keras untuk mengesankan seolah ia tuli.
Si perempuan merasa senang dan mengira kalau Hatim tidak mendengar suara buang anginnya. Karena kejadian itulah, kemudian Syaikh Hatim mendapat julukan Al Asham (si tuli).

Sejarah thariqah sadah ba alawi dan para tokohnya

MENGENAL THARIQAH SADAH BA ‘ALAWI


Nasab para Sâdah Ba ‘Alawi kembali kepada datuk mereka, Alwi bin ‘Ubaidillah, cucu al-Imam al-Muhâjir, Ahmad bin Isa an-Naqîb, yakni naqîb (pemimpin) para syarif di Iraq, bin Muhammad  an-Naqîb bin Ali al-‘Uraidhi bin Ja’far ash-Shâdiq bin Muhammad al-Bâqir bin Ali Zainal ‘Abidin bin al-Imam al-Husain bin Ali bin Abu Thalib.

Kehidupan Imam Ahmad al-Muhâjir dijalani di Bashrah. Di daerah inilah dia tumbuh berkembang. Pada saat itu Ahlulbait berada di dalam kehormatan dan pemeliharaan. Tetapi para khalifah Bani ’Abbas yang menjadikan Iraq sebagai pusat  mulai melemah kekuasaan. Lalu muncullah gerakan-gerakan dan pemberontakan-pemberontakan. Sedikit demi sedikit fitnah melanda Iraq, yang paling besar di antaranya adalah hadirnya kaum Qaramithah yang menyerang Bashrah di awal abad ke-4 H, dan munculnya kelompok orang–orang Sudan.

Pada situasi yang kacau itu, orang-orang saleh, yang menjauhkan diri dari dunia, tak dapat menghadapinya. Tepatnya pada tahun 317 H, Imam Ahmad bin Isa pun hijrah―yang karena itu beliau digelari al-Muhâjir―untuk menghindari fitnah-fitnah yang bergelombang. Beliau meninggalkan Bashrah bersama tujuh puluh orang dari keluarga dan para pengikutnya. Beliau menempuh jalan menuju Hijaz agar rombongannya dapat singgah setahun di Madinah. Setelah itu menuju Tanah Haram   Makkah pada tahun ketika kaum Qaramithah memasuki kota ini dan merampas Hajar Aswad.