Marquee text

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS: At-Taubah 128)

21 October 2012

4. Hikmah Nabi Berpoligami

Hikmah Dan Atsar
Banyak musuh musuh Islam menggembor-gemborkan bahwa Nabi saw berpoligami karena menuruti hawa nafsu dan haus terhadap lawan jenisnya. Mereka menutup mata dan tidak mengetahui kenapa dan apa hikmahnya Nabi saw berpoligami. Setelah membaca ringkasan biografi istri istri Nabi saw yang tertulis diatas, ada beberpa poin penting yang perlu diketahi dari hikmah beliau bepoligami:

- Semua istri istri Nabi saw adalah janda kecuali siti ’Aisyah ra. Pernikahan beliau dengan wanita-wanita janda perang dan janda yang telah memasuki usia tua merupakan bukti yang sangat jelas bahwa Nabi saw adalah manusia yang sangat jauh dari keinginan untuk bersenang-senang dengan memenuhi kebutuhan biologis semata.

- Yang sangat perlu diketahui bahwa Nabi saw berpoligami 10 tahun sebelum beliau wafat, atau di hari hari akhir hayat beliau. Disaat siti khadijah istri beliau masih hidup beliau tidak melakukan poligami.

- Pernikahan Nabi saw semata-mata didasari faktor agama dan merupakan suatu hikmah, bukan untuk kepentingan dunia atau menuruti hawa nafsu.

- Pernikahan Nabi saw pula untuk memperkuat dan menyebarkan dakwah demi kebaikan islam, bukan untuk bersenang-senang. Pernikahan Nabi saw sengaja dilakukan oleh Nabi demi untuk menambah keakraban dengan orang orang yang sangat dekat di hati beliau, seperti perkawinan beliau dengan siti ’Aisyah puteri Abu Bakar Siddik ra dan perkawinan beliau dengan Hafsha putri Umar bin Khattab. Hal ini dilakukannya demi untuk menambah kecintaan mereka yang sangat dicintai Nabi saw.

- Pernikahan Nabi saw  bertujuan untuk melunakkan hati orang-orang menerima agama Islam dari tawanan perang, seperti perkawinan beliau dengan Syafiyyah binti Hayy dan Juairiyah binti al-Harits. Sehingga para tawanan tersebut membuka peluang untuk masuk Islam, dan selanjutnya berdiri dalam barisan pengibar serta pembela panji-panji Islam.

- Dan masih banyak lagi hikmah hikmah yang tidak bisa diketahui kenapa nabi bepoligami. Yang penting tujuan nabi berpoli gami bukan untuk kepentingan dunia dan untuk bersenang senang atau memenuhi kebutuhan biolgois semata mata.

 http://hasanassaggaf.wordpress.com

08 October 2012

PENGERTIAN THORIQOH./TASYAWUF.

Oleh Von Edison Alouisci (Sunni Madzab Safi`i)


Dalam dunia tsawauf seringkali dikenal istilah thoriqoh, yang berarti jalan, yakni jalan untuk mencapai keridho'an Allah SWT. Dengan pengertian ini bisa digambarkan, adanya kemungkinan banyak jalan, sehingga sebagian sufi menyatakan aturuk biadadi anfasill makhluk, yang artinya jalan menuju Allah SWT itu sebanyak hitungan nafas makhluk, aneka ragam dan bermacam-macam. Kendati demikian orang yang hendak menempuh jalan tersebut haruslah berhati-hati, karena dinyatakan pula " faminha mardudah waminha maqbulah" yang artinya dari sekian banyak jalan, ada yang sah dan adapula yang tiadak sah, ada yang diterima adapula yang tidak diterima. Yang dalam istilah ahli thoriqoh disebut mu'tabaroh wa ghoiru mu'tabaroh.

10 September 2012

Masjid Abuja, Simbol Toleransi Beragama







Berdirinya Masjid dan Gereja Nasional Abuja, yang berseberangan, diharapkan menjadi simbol keharmonisan kehidupan masyarakat Nigeria.


Nigeria adalah negara dengan berbagai macam kelompok etnik. Tercatat sebanyak lebih dari 250 kelompok etnik yang terdapat di negeri ini. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris.

Penduduk muslim di negeri ini mencapai sekitar 50% dari seluruh penduduk, menjadikan umat muslim sebagai mayoritas, diikuti umat Kristiani, sebanyak 40%. Sedangkan sisanya aliran kepercayaan.
Oleh karena itu tak mengherankan negeri ini memiliki banyak masjid. Yang paling besar adalah Masjid Nasional Abuja, yang kini lebih sebagai situs sejarah Islam.

08 September 2012

Hb. Lutfi: Benarkah tarekat itu bid'ah

Tanya Jawab dengan Habib Lutfi,- Al Kisah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya pernah membaca buku yang menyatakan sesatnya tarekat dan mengharamkan membaca sholawat. Saya bingung, bagaimana mungkin sebuah komunitas zikir disebut sesat. Alasannya, tak ada tuntunan Rasulullah. Saya semakin bingung lagi. Pertanyaan saya, begitu sempitkah ajaran Islam itu sehingga semuanya harus mengikuti Rasulullah? Menurut saya, tarekat juga membaca wirid yang diajarkan Rasulullah. Dan menurut sebuah hadist, Allah swt dan malaikat pun bersholawat kepada Rasulullah saw. Hanya karena dikelompokkan dan kemudian berzikir secara bersamaan dalam sebuah kelompok disebut sesat dan bid'ah? Mohon penjelasan, apa batasan bid'ah itu? Apakah juga untuk semua hal, termasuk wirid secara bersama-sama? Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jabir Ibnu Hayyan


03 September 2012

Jidat Hitam Benarkah Sunnah?

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ
Yang artinya, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (QS al Fath:29).

Banyak orang yang salah paham dengan maksud ayat ini. Ada yang mengira bahwa dahi yang hitam karena sujud itulah yang dimaksudkan dengan ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’. Padahal bukan demikian yang dimaksudkan. Diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang hasan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksudkan dengan ‘tanda mereka…” adalah perilaku yang baik. Diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang kuat dari Mujahid bahwa yang dimaksudkan adalah kekhusyuan. Juga diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang hasan dari Qatadah, beliau berkata, “Ciri mereka adalah shalat” (Tafsir Mukhtashar Shahih hal 546).