Mereka bersikeras melarang Ziarah Kubur dan berdoa di kuburan
Mereka masih saja ada yang bersikeras melarang Ziarah Kubur walaupun Rasulullah telah mensunnahkannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dahulu aku melarang kalian untuk ziarah kubur, maka sekarang ziarahilah.” (HR Muslim)
Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=12&ayatno=101&action=display&option=com_muslim
Walaupun mereka bersikeras dan telah mengingkari sunnah Rasulullah
namun mereka tetap saja merasa bagian dari Ahlussunnah wal Jama’ah.
Ibnu Taimiyah di dalam kitab Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah juz 27 hal. 111-112 sangat mengandalkan ungkapan Imam Malik ra untuk melarang menziarahi Rasulullah.
Ibnu Taimiyah berkata yang artinya,
“… bahkan Imam Malik dan yang lainnya membenci kata-kata, ‘Aku
menziarahi kubur Nabi Shallallahu alaihi wasallam’ sedang Imam Malik
adalah orang paling alim dalam bab ini, dan penduduk Madinah adalah
paling alimnya wilayah dalam bab ini, dan Imam Malik adalah imamnya
penduduk Madinah. Seandainya terdapat sunnah dalam hal ini dari
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. yang di dalamnya terdapat lafaz
‘menziarahi kuburnya’, niscaya tidak akan tersembunyi (tidak diketahui)
hal itu oleh para ulama ahli Madinah dan penduduk sekitar makam beliau
–demi bapak dan ibuku .“
Imam Malik ra dengan perkataannya “aku membenci kata-kata, “Aku menziarahi kubur Nabi Shallallahu alaihi wasallam’ “ tidak bermaksud mengingkari Sunnah Rasulullah tentang ziarah kubur.
Sebagaimana yang telah kami jelaskan dalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/08/18/menghujat-kuburiyyun/
bahwa orang-orang yang mulia di sisi Allah Azza wa Jalla yakni para
Nabi, para Shiddiqin , para Syuhada dan orang sholeh-sholeh walaupun
mereka secara dzhahir telah wafat namun mereka hidup dan ditempatkan
oleh Allah Azza wa Jalla ditempat/kedudukan (maqom) yang dikehendakiNya.
Mereka hidup sebagaimana para Syuhada.
Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya
”Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di
jalan Allah (syuhada), (bahwa mereka itu ) mati; bahkan(sebenarnya)
mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS Al Baqarah [2]: 154 )
”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan
Allah (syuhada) itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan
mendapat rezki.” (QS Ali Imran [3]: 169)
Imam Malik ra termasuk yang dapat meyakini bahwa Rasulullah walaupun
secara dzahir telah wafat namun beliau hidup sehingga beliau tidak
menyukai perkataan “menziarahi kubur Rasulullah”. Beliau lebih baik mengatakannya dengan “menziarahi Rasulullah”.
Imam Malik adalah orang yang sangat memuliakan Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam, sampai-sampai ia enggan naik kendaraan di kota Madinah
karena menyadari bahwa tubuh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
dikubur di tanah Madinah, sebagaimana ia nyatakan, “Aku malu kepada Allah ta’ala untuk menginjak tanah yang di dalamnya ada Rasulullah Saw. dengan kaki hewan (kendaraan-red)” (lihat Syarh Fath al-Qadir, Muhammad bin Abdul Wahid As-Saywasi, wafat 681 H., Darul Fikr, Beirut, juz 3, hal. 180).
Bagaimana mungkin sikap yang sungguh luar biasa itu dalam memuliakan
jasad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seperti menganggap seolah
beliau masih hidup, membuatnya benci kepada orang yang ingin menziarahi
makam Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ? Sungguh ini adalah
sebuah pemahaman yang keliru.
Imam Ibnu Hajar al-Asqallani, di dalam kitab Fathul-Bari juz 3 hal. 66, menjelaskan, bahwa Imam Malik membenci ucapan “aku menziarahi kubur Nabi shallallahu alaihi wasallam.”
adalah karena semata-mata dari sisi adab, bukan karena membenci amalan
ziarah kuburnya. Hal tersebut dijelaskan oleh para muhaqqiq (ulama
khusus) mazhabnya. Dan ziarah kubur Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam adalah termasuk amalan yang paling afdhal dan pensyari’atannya
jelas, dan hal itu merupkan ijma’ para ulama.
Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab berjudul “Hasyiyah
Al-’allaamah Ibn Hajar Al-Haitami ‘Alaa Syarh Al-Idlah Fii Manasik
Al-Hajj”, (Kitab Penjelasan terhadap Karya Imam an-Nawawi) menuliskan
(yang artinya) “… Jangan tertipu dengan pengingkaran Ibnu Taimiyah
terhadap kesunnahan ziarah ke makam Rasulullah, karena sesungguhnya dia
adalah manusia yang telah disesatkan oleh Allah; sebagaimana
kesesatannya itu telah dinyatakan oleh Imam al-’Izz ibn Jama’ah, juga
sebagaimana telah panjang lebar dijelaskan tentang kesesatannya oleh
Imam Taqiyyuddin as-Subki dalam karya tersendiri untuk itu (yaitu kitab
Syifa’ as-Siqam Fi Ziyarah Khayr al-Anam).
Penghinaan Ibnu Taimiyah terhadap Rasulullah ini bukan sesuatu
yang aneh; oleh karena terhadap Allah saja dia telah melakukan
penghinaan, –Allah Maha Suci dari segala apa yang dikatakan oleh
orang-orang kafir dengan kesucian yang agung–. Kepada Allah; Ibnu
Taimiyah ini telah menetapkan arah, tangan, kaki, mata, dan lain
sebagainya dari keburukan-keburukan yang sangat keji. Ibn Taimiyah ini
telah dikafirkan oleh banyak ulama, –semoga Allah membalas segala
perbuatan dia dengan keadilan-Nya dan semoga Allah menghinakan para
pengikutnya; yaitu mereka yang membela segala apa yang dipalsukan oleh
Ibn Taimiyah atas syari’at yang suci ini–”.
Selain mereka mengingkari sunnah Rasulullah mengenai ziarah kubur,
merekapun melarang berdoa di kuburan dengan dalil sebagai berikut,
“ dari ‘Ali bin Husain bahwasanya ia melihat seorang laki-laki
mendatangi sebuah celah dekat kuburan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam
kemudian ia masuk ke dalamnya dan berdoa. Maka Ali bin Husain berkata:
‘Maukah anda aku sampaikan hadits yang aku dengar dari ayahku dari
kakekku dari Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
‘Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai ‘ied, dan jangan jadikan
rumah kalian sebagai kuburan. Dan bersholawatlah kepadaku karena
sholawat kalian akan sampai kepadaku di manapun kalian berada’ (diriwayatkan
oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf-nya(2/268), dan Abdurrozzaq dalam
mushonnaf-nya juz 3 halaman 577 hadits nomor 6726).
Mereka memahami riwayat dari Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib
(cucu Ali bin Abi Tholib) sebagai larangan berdoa di makam Nabi.
Riwayat dari Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib tersebut sekedar
mengingatkan orang yang masuk dan berdoa pada celah dekat kuburan Nabi
shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk tidak menyembah kuburan Nabi dan
mengingatkan pula bahwa berdoa / bertawasul / bersholawat kepada
Rasulullah dapat pula dilakukan ditempat manapun sehingga tidak perlu
mempersulit diri dengan memasuki celah dekat kuburan Nabi shallallaahu
‘alaihi wasallam.
Dalam ziarah kubur kita sebaiknya menghindari fitnah orang yang
melihat beranggapan adanya penyembahan kuburan. Bertawasul pada makam
Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan membaca doa
Artinya : Selamat sejahtera atasmu wahai Rasulullah, rahmat Allah
dan berkat-Nya untukmu. Selamat sejahtera atasmu wahai Nabiyallah.
Selamat sentosa atasmu wahai makhluk pilihan Allah. Selamat sejahtera
aasmu wahai kekasih Allah. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan ( yang
disembah) selain Allah, Yang Esa/ Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya dan
engkau adalah hamba-Nya serta rasul-Nya. Dan saya bersaksi, bahwa Engkau
telah menyampaikan risalah engkau telah menunaikan amanat egkau telah
memberi nasihat pada ummat, engkau telah berjihad di jalan Allah maka
selamat-Nya, untukmu selawat yang berkekalan sampai hari kiamat, Wahai
tuhan kami, berilah kami ini kebaikan di dunia dan kebaikan pula di
akhirat serta peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Allah, berilah pada
beliau kemuliaan dan martabat yang tinggi serta bangkitkan dia di
tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan padanya, sesungguhnya
Engkau tidak akan memungkiri janji.
Wassalam
Zon di Jonggol , Kab Bogor 16830
Sumber: http://mutiarazuhud.wordpress.com
Marquee text
- Home
- Artikel
- Salafi-Wahabi
- About Syiah
- Apakah syiah itu ?
- Apa Madhab Ahlul Bait?
- Apa Ahlussunnah Waljamaah?
- Kapan lahirnya Aqidah Aswaja ?
- perbedaan Aswaja dgn Syiah ?
- Apa dan siapa Al-Bayyinat
- Rijalul Bayyinat
- Sahabat Nabi SAW
- Khalifah Abu Bakar R.A
- Ahlul Bait
- Imam Ali K.W.
- Fatimah Az-Zahra R.A
- Alawiyyin
- Asyura
- Mut'ah
- Himbauan dari Al-Bayyinat
- Al Firgoh An Najiah
- Fatawa Imam/ Ulama
- Email Al-Bayyinat
- Link-link situs islami
- Akidah Menurut Ajaran Nabi
- Alawiyyin
- Aswaja
- Download
- Audio
- About Me
09 June 2012
Hakikat Sayyidina
Mereka bertanya mengapa kita panggil Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam dengan sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi wasallam
?
Pertanyaan ini pada hakikatnya tidaklah terkait dengan dalil atau hujjah namun bagian dari akhlak.
Sebagian ulama (ahli ilmu) pada zaman modern ini memahami ilmuNya secara ilmiah/logika yakni menggunakan pikiran dan memori.
Jumhur ulama sejak dahulu memahami ilmuNya secara hikmah yakni menggunakan akal dan hati
Pikiran adalah akal dalam bentuk jasmani yakni penggunaan otak. (mengetahui, memahami dengan menterjemahkan)
Berakal adalah akal dalam bentuk ruhani yakni menggunakan akal. (mengetahui, memahami dengan mengambil pelajaran)
Berpikir dapat terpenuhi oleh anak sejak dini seperti kemampuan membaca, berhitung
Berakal dapat terpenuhi saat anak telah masuk wajib sholat.
Hati dalam bentuk jasmani adalah “segumpal darah”
Hati dalam bentuk ruhani adalah “hati yang lapang”
Orang-orang “Barat” yang umumnya non muslim yang berpikir secara ilmiah/logika dapat kita temui anak-anak memanggil orang tua mereka dengan namanya dan murid-murid memanggil guru mereka dengan namanya.
Kita orang-orang “Timur” khususnya kaum muslim memangil orang tua laki-laki kita dengan panggilan “ayah”, “abi”, “papa” dll sebagai penghormatan dan ikatan bathin/ruhani
Kita memanggil “ayah”, pada hakikatnya adalah memanggil “hubungan” dan mendudukan kita sebagai seorang anak.
Kita memanggil “pa guru” , pada hakikatnya adalah memanggil “hubungan” dan mendudukan kita sebagai seorang murid.
Kita memanggil “ya Robb”, pada hakikatnya adalah memanggil “hubungan” dan mendudukan kita sebagai hamba Allah.
Kita memanggil “sayyidina” kepada Rasulullah, pada hakikatnya adalah memanggil “hubungan” dan mendudukan kita sebaga ummat beliau
Perbuatan memanggil “hubungan” adalah yang dimaksud dengan perbuatan bathin atau ruhani yang berhubungan dengan akal dan hati.
Contoh lain di kalangan orang jawa walaupun yang memanggil lebih tua namun sebagai penghormatan tetap memanggil yang muda dengan “mas”.
Kalau kita pahami secara ilmiah/logika maka itu kita katakan keliru seharusnya memanggilnya “dik” namun kalau kita pahami secara hikmah (akal dan hati) maka panggilan tersebut sah-sah saja
Apa yang kami sampaikan adalah apa yang dinamakan “hakikat”.
Pada zaman sekarang ini ulama (ahli ilmu) mulai melupakan yang namanya “hakikat”.
Semua itu ditengarai karena ulama-ulama mulai tercemar atau terserang ghazwul fikri dari pemikir-pemikir agama Islam namun mereka adalah non muslim. Mereka mendirikan “pusat kajian Islam” yang dipimpin oleh orientalis barat/non muslim. Aneh memang ada cendekiawan muslim namun belajar agama kepada orientalis barat/non muslim. Pastilah akam mendapatkan ilmu agama sebatas secara ilmiah/logika.
Syariat dapat dipahami secara ilmiah/logika dengan pikiran dan memori namun untuk selanjutnya tharikat, hakikat dan ma’rifat harus dipahami secara hikmah atau dengan akal dan hati
Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali. Imam Ali menjawab, “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangannya yang kasat tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan …”.
Tharikat, hakikat, ma’rifat yang disebut juga tauhid tingkat lanjut
Tauhid tingkat lanjut tidak dapat dipahami oleh mereka yang tidak bersyahadat (non muslim)
Secara lengkap syariat, tharikat, hakikat, ma’rifat dinamakan dengan tasawuf atau tentang ihsan atau tentang akhlak.
Oleh karenanya dikatakan oleh sebagian ulama bahwa “modernisasi agama Islam” sebenarnya adalah “pendangkalan ajaran agama Islam” dan dikatakan “ulama pembaharu” sebenarnya adalah mereka yang “mendangkalkan” ajaran agama Islam.
Semoga saudara-saudara ku para pembaca dapat memahami bagaimana “peta” dunia Islam sesungguhnya.
Ilmu yang kita dapat dari syaikh/ulama/ustadz hanyalah sebagai bekal/syarat/syariat bagi kita untuk tujuan sesungguhnya. Tujuan sesungguhnya adalah memperjalankan diri kita (jasmani dan ruhani) pada jalan yang lurus menuju kepada Allah Azza wa Jalla sang pemilik ilmuNya.
“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” ( QS An Nisaa’ [4]:175 )
Oleh karenanya marilah kita temui Allah Azza wa Jalla dengan sholat sunnat dua raka’at dan mohon ampunanNya atas ketersia-siaan waktu karena ilmuNya begitu luas tidak hanya sebagaimana syaikh/ulama/ustadz ajarkan kepada kita.
Biarkanlah Allah Azza wa Jalla yang membimbing kita sekalian untuk memahami ilmuNya.
Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” ( QS An Nuur [24]:35 )
“…Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu (memimpinmu); dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS al Baqarah, 2: 282).
Jika kita telah ada kemauan untuk menuju kepadaNya, Allah Azza wa Jalla akan menentukan melalui sarana apa kita akan dibimbingnya seperti hati, ilham, firasat, mimpi atau melalui kekasihNya (Wali Allah), dan sarana lain yang dikehendakiNya.
71.9/6475. Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri telah menceritakan kepadaku Sa’id bin Musayyab, bahwasanya Abu Hurairah menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Kenabian tidak ada lagi selain “berita gembira”, para sahabat bertanya; ‘apa maksud “berita gembira”? ‘ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab; mimpi yang baik.
Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=71&ayatno=9&action=display&option=com_bukhari
71.14/6480.
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Ubaidullah bin Abi Ja’far telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah dari Abu Qatadah mengatakan, Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “mimpi yang baik adalah berasal dari Allah, sedang mimpi yang buruk berasal dari setan, maka barangsiapa melihat sesuatu yang tidak disukainya, hendaklah ia meludah ke samping kirinya sebanyak tiga kali, dan mintalah perlindungan dari setan, sesungguhnya mimpinya tersebut tidak akan membahayakannya, dan setan tidak mungkin bisa menyerupaiku.”
Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=71&ayatno=14&action=display&option=com_bukhari
Contoh bimbingan melalui mimpi
14.159/1575. Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Manshur telah mengabarkan kepada kami An-Nadhar telah mengabarkan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Abu Jamrah berkata; Aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma tentang muth’ah (hajji tamattu’), maka dia memerintahkan aku untuk melaksanakannya. Dan aku bertanya pula kepadanya tentang Al Hadyu (hewan qurban), maka dia berkata: ‘Untuk Al Hadyu boleh unta, sapi atau kambing atau bersekutu dalam darahnya (kolektif dalam penyembilahannya). Dia berkata: Seakan orang-orang tidak menyukainya. Kemudian aku tidur lalu aku bermimpi seakan ada orang yang menyeru: Hajji mabrur dan tamattu’ yang diterima. Kemudian aku menemui Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma lalu aku ceritakan mimpiku itu, maka dia berkata: Allahu Akbar, ini sunnah Abu Al Qasim Shallallahu’alaihiwasallam. Dia berkata; Dan berkata, Adam, Wahb bin Jarir dan Ghundar dari Syu’bah dengan redaksi: ‘Umrah mutaqabbalah (Umrah yang diterima) dan hajji mabrur.
Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=14&ayatno=159&action=display&option=com_bukhari
Jangan ilmu yang kita dapat dari syaikh/ulama/ustadz justru menghijab diri kita dengan Allah Azza wa Jalla. Hal ini diungkapkan oleh ulama Tasawuf sebagai berikut,
Mereka yang terhalang melihat Allah yakni mereka yang tertutup dari cahaya taufiq dan pertolongan Allah Ta’ala oleh kegelapan memandang ibadahnya atau amalnya.
Siapa yang memandang pada gerak dan perbuatannya ketika taat kepada Allah ta’ala, pada saat yang sama ia telah terhalang (terhijab) dari Sang Empunya Gerak dan Perbuatan, dan ia jadi merugi besar.
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilany menyampaikan, mereka yang sadar diri senantiasa memandang Allah Azza wa Jallan dengan qalbunya, ketika terpadu jadilah keteguhan yang satu yang mengugurkan hijab-hijab antara diri mereka dengan DiriNya.
Semua bangunan runtuh tinggal maknanya. Seluruh sendi-sendi putus dan segala milik menjadi lepas, tak ada yang tersisa selain Allah Azza wa Jalla.
Tak ada ucapan dan gerak bagi mereka, tak ada kesenangan bagi mereka hingga semua itu jadi benar. Jika sudah benar sempurnalah semua perkara baginya.
Pertama yang mereka keluarkan adalah segala perbudakan duniawi kemudian mereka keluarkan segala hal selain Allah Azza wa Jalla secara total dan senantiasa terus demikian dalam menjalani ujian di RumahNya.
Nabi kita Sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi wasallam bersabda, bahwa Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin, “sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“. yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah Azza wa Jalla.
Dalam sebuah hadist Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kalian apabila sholat maka sesungguhnya ia sedang bermunajat (bertemu) dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerti bagaimana bermunajat dengan Tuhan”
Kita katakan bahwa sholat yang kita lakukan selama ini adalah berdasarkan ilmu dari syaikh/ulama/ustadz adalah sebagaimana sholatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maupun sebagaimana yang dilakukan para Sahabat. Pertanyaannya adalah, sudahkah sholat yang kita lakukan tersebut menghantarkan kita ke hadhirat Allah Azza wa Jalla ?
Walaikumsalam
Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830
Note: Sahabat Sebut Nabi dengan “Sayyid”
Sumber: http://www.hidayatullah.com/read/15739/07/03/2011/hukum-sebut-%E2%80%9Csayyid%E2%80%9D-untuk-rasulullah.html
Dar Al Ifta Al Mishriyah, lembaga fatwa resmi Mesir dalam fatwa no. 292, membahas mengenai hukum mengucap “Sayyiduna” kepada Rasulullah Shallallahu Alahi Wasallam. Fatwa ini dikeluarkan untuk merespon permohonan fatwa bernomor 2724, yang diajukan ke Dar Alifta, mengenai masalah tersebut.
Dalam fatwa itu disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alahi Wassalam merupakan “Sayyid” (tuan) bagi seluruh makhluk adalah ijma’ umat Islam. Bahkan beliau sendiri telah bersabda,”Aku adalah sayyid (tuan) anak Adam”, dan diriwayat lain disebutkan,”Aku sayyid (tuan) manusia”, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Sedangkan Allah sendiri juga memerintahkan manusia untuk memuliakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, yang artinya, ”Sesungguhnya Kami telah mengutusmu sebagai saksi dan pemberi kabar gembira serta pemberi peringatan agar kalian beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Dan menolong-Nya, mengagungkan-Nya serta bertasbih kepada-Nya di pagi hari dan petang.” (Al Fath: 8-9)
Sebagian ulama menilai bahwa perintah mengagungkan, kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Menurut Imam Qatadah dan As Suddi, mengagungkan Rasulullah termasuk mensayyidkan beliau.
Sahabat Sebut Nabi dengan “Sayyid”
Dari Sahl bin Hunaif Radhiyallahu anhu, beliau mengatakan, ”Kami melalui tempat air mengalir, maka aku turun dan mandi dengannya, setelah itu aku keluar dalam keadaan demam. Maka hal itu dikabarkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Alihi Wasallam. Maka beliau bersabda, ”Perintahkan Aba Tsabit untuk meminta perlindungan.” Saya mengatakan,”Wahai Sayyidku (tuanku) apakah ruqyah berfungsi?” Beliau bersabda,”Tidak ada ruqyah kecuali karena nafs (ain), demam atau bisa.” (Al Hakim, beliau menyatakan isnadnya shahih)
Shalawat Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar gunakan “Sayyid”
Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar juga menyebut “Sayyid” untuk Rasulullah dalam shalawat beliau berdua. Ibnu Mas’ud pernah mengajarkan,”Jika kalian bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, maka baguskanlah shalawat untuk beliau, sesungguhnya kalian tidak tahu bahwa shalawat itu ditunjukkan kepada beliau. Maka, mereka mengatakan kapada Abdullah bin Mas’ud,’Ajarilah kami.’ Ibnu Mas;ud menjawab,’Ucapkanlah, Ya Allah jadikanlah shalat-Mu dan rahmat-Mu dan berkah-Mu untuk Sayyid Al Mursalin (tuan para rasul), Imam Al Muttaqin (imam orang-orang yang bertaqwa), Khatam An Nabiyyin (penutup para nabi), Muhammad hamba-Mu dan rasul-Mu, Imam Al Khair (imam kebaikan), Qaid Al Khair (pemimpin kebaikan) dan Rasul Ar Rahmah (utusan pembawa rahmat).’” (Riwayat Ibnu Majah, dihasankan oleh Al Hafidz Al Mundziri)
Atsar serupa juga diriwayatkan dari Ibnu Umar, sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dalam Al Musnad, dengan sanad hasan pula.
Walhasil, menyebut Rasulullah dengan gelar “Sayyid” adalah perkara yang disyariatkan
Sumber: http://mutiarazuhud.wordpress.com
Pertanyaan ini pada hakikatnya tidaklah terkait dengan dalil atau hujjah namun bagian dari akhlak.
Sebagian ulama (ahli ilmu) pada zaman modern ini memahami ilmuNya secara ilmiah/logika yakni menggunakan pikiran dan memori.
Jumhur ulama sejak dahulu memahami ilmuNya secara hikmah yakni menggunakan akal dan hati
Pikiran adalah akal dalam bentuk jasmani yakni penggunaan otak. (mengetahui, memahami dengan menterjemahkan)
Berakal adalah akal dalam bentuk ruhani yakni menggunakan akal. (mengetahui, memahami dengan mengambil pelajaran)
Berpikir dapat terpenuhi oleh anak sejak dini seperti kemampuan membaca, berhitung
Berakal dapat terpenuhi saat anak telah masuk wajib sholat.
Hati dalam bentuk jasmani adalah “segumpal darah”
Hati dalam bentuk ruhani adalah “hati yang lapang”
Orang-orang “Barat” yang umumnya non muslim yang berpikir secara ilmiah/logika dapat kita temui anak-anak memanggil orang tua mereka dengan namanya dan murid-murid memanggil guru mereka dengan namanya.
Kita orang-orang “Timur” khususnya kaum muslim memangil orang tua laki-laki kita dengan panggilan “ayah”, “abi”, “papa” dll sebagai penghormatan dan ikatan bathin/ruhani
Kita memanggil “ayah”, pada hakikatnya adalah memanggil “hubungan” dan mendudukan kita sebagai seorang anak.
Kita memanggil “pa guru” , pada hakikatnya adalah memanggil “hubungan” dan mendudukan kita sebagai seorang murid.
Kita memanggil “ya Robb”, pada hakikatnya adalah memanggil “hubungan” dan mendudukan kita sebagai hamba Allah.
Kita memanggil “sayyidina” kepada Rasulullah, pada hakikatnya adalah memanggil “hubungan” dan mendudukan kita sebaga ummat beliau
Perbuatan memanggil “hubungan” adalah yang dimaksud dengan perbuatan bathin atau ruhani yang berhubungan dengan akal dan hati.
Contoh lain di kalangan orang jawa walaupun yang memanggil lebih tua namun sebagai penghormatan tetap memanggil yang muda dengan “mas”.
Kalau kita pahami secara ilmiah/logika maka itu kita katakan keliru seharusnya memanggilnya “dik” namun kalau kita pahami secara hikmah (akal dan hati) maka panggilan tersebut sah-sah saja
Apa yang kami sampaikan adalah apa yang dinamakan “hakikat”.
Pada zaman sekarang ini ulama (ahli ilmu) mulai melupakan yang namanya “hakikat”.
Semua itu ditengarai karena ulama-ulama mulai tercemar atau terserang ghazwul fikri dari pemikir-pemikir agama Islam namun mereka adalah non muslim. Mereka mendirikan “pusat kajian Islam” yang dipimpin oleh orientalis barat/non muslim. Aneh memang ada cendekiawan muslim namun belajar agama kepada orientalis barat/non muslim. Pastilah akam mendapatkan ilmu agama sebatas secara ilmiah/logika.
Syariat dapat dipahami secara ilmiah/logika dengan pikiran dan memori namun untuk selanjutnya tharikat, hakikat dan ma’rifat harus dipahami secara hikmah atau dengan akal dan hati
Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali. Imam Ali menjawab, “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangannya yang kasat tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan …”.
Tharikat, hakikat, ma’rifat yang disebut juga tauhid tingkat lanjut
Tauhid tingkat lanjut tidak dapat dipahami oleh mereka yang tidak bersyahadat (non muslim)
Secara lengkap syariat, tharikat, hakikat, ma’rifat dinamakan dengan tasawuf atau tentang ihsan atau tentang akhlak.
Oleh karenanya dikatakan oleh sebagian ulama bahwa “modernisasi agama Islam” sebenarnya adalah “pendangkalan ajaran agama Islam” dan dikatakan “ulama pembaharu” sebenarnya adalah mereka yang “mendangkalkan” ajaran agama Islam.
Semoga saudara-saudara ku para pembaca dapat memahami bagaimana “peta” dunia Islam sesungguhnya.
Ilmu yang kita dapat dari syaikh/ulama/ustadz hanyalah sebagai bekal/syarat/syariat bagi kita untuk tujuan sesungguhnya. Tujuan sesungguhnya adalah memperjalankan diri kita (jasmani dan ruhani) pada jalan yang lurus menuju kepada Allah Azza wa Jalla sang pemilik ilmuNya.
“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” ( QS An Nisaa’ [4]:175 )
Oleh karenanya marilah kita temui Allah Azza wa Jalla dengan sholat sunnat dua raka’at dan mohon ampunanNya atas ketersia-siaan waktu karena ilmuNya begitu luas tidak hanya sebagaimana syaikh/ulama/ustadz ajarkan kepada kita.
Biarkanlah Allah Azza wa Jalla yang membimbing kita sekalian untuk memahami ilmuNya.
Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” ( QS An Nuur [24]:35 )
“…Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu (memimpinmu); dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS al Baqarah, 2: 282).
Jika kita telah ada kemauan untuk menuju kepadaNya, Allah Azza wa Jalla akan menentukan melalui sarana apa kita akan dibimbingnya seperti hati, ilham, firasat, mimpi atau melalui kekasihNya (Wali Allah), dan sarana lain yang dikehendakiNya.
71.9/6475. Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri telah menceritakan kepadaku Sa’id bin Musayyab, bahwasanya Abu Hurairah menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Kenabian tidak ada lagi selain “berita gembira”, para sahabat bertanya; ‘apa maksud “berita gembira”? ‘ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab; mimpi yang baik.
Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=71&ayatno=9&action=display&option=com_bukhari
71.14/6480.
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Ubaidullah bin Abi Ja’far telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah dari Abu Qatadah mengatakan, Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “mimpi yang baik adalah berasal dari Allah, sedang mimpi yang buruk berasal dari setan, maka barangsiapa melihat sesuatu yang tidak disukainya, hendaklah ia meludah ke samping kirinya sebanyak tiga kali, dan mintalah perlindungan dari setan, sesungguhnya mimpinya tersebut tidak akan membahayakannya, dan setan tidak mungkin bisa menyerupaiku.”
Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=71&ayatno=14&action=display&option=com_bukhari
Contoh bimbingan melalui mimpi
14.159/1575. Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Manshur telah mengabarkan kepada kami An-Nadhar telah mengabarkan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Abu Jamrah berkata; Aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma tentang muth’ah (hajji tamattu’), maka dia memerintahkan aku untuk melaksanakannya. Dan aku bertanya pula kepadanya tentang Al Hadyu (hewan qurban), maka dia berkata: ‘Untuk Al Hadyu boleh unta, sapi atau kambing atau bersekutu dalam darahnya (kolektif dalam penyembilahannya). Dia berkata: Seakan orang-orang tidak menyukainya. Kemudian aku tidur lalu aku bermimpi seakan ada orang yang menyeru: Hajji mabrur dan tamattu’ yang diterima. Kemudian aku menemui Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma lalu aku ceritakan mimpiku itu, maka dia berkata: Allahu Akbar, ini sunnah Abu Al Qasim Shallallahu’alaihiwasallam. Dia berkata; Dan berkata, Adam, Wahb bin Jarir dan Ghundar dari Syu’bah dengan redaksi: ‘Umrah mutaqabbalah (Umrah yang diterima) dan hajji mabrur.
Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=14&ayatno=159&action=display&option=com_bukhari
Jangan ilmu yang kita dapat dari syaikh/ulama/ustadz justru menghijab diri kita dengan Allah Azza wa Jalla. Hal ini diungkapkan oleh ulama Tasawuf sebagai berikut,
Mereka yang terhalang melihat Allah yakni mereka yang tertutup dari cahaya taufiq dan pertolongan Allah Ta’ala oleh kegelapan memandang ibadahnya atau amalnya.
Siapa yang memandang pada gerak dan perbuatannya ketika taat kepada Allah ta’ala, pada saat yang sama ia telah terhalang (terhijab) dari Sang Empunya Gerak dan Perbuatan, dan ia jadi merugi besar.
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilany menyampaikan, mereka yang sadar diri senantiasa memandang Allah Azza wa Jallan dengan qalbunya, ketika terpadu jadilah keteguhan yang satu yang mengugurkan hijab-hijab antara diri mereka dengan DiriNya.
Semua bangunan runtuh tinggal maknanya. Seluruh sendi-sendi putus dan segala milik menjadi lepas, tak ada yang tersisa selain Allah Azza wa Jalla.
Tak ada ucapan dan gerak bagi mereka, tak ada kesenangan bagi mereka hingga semua itu jadi benar. Jika sudah benar sempurnalah semua perkara baginya.
Pertama yang mereka keluarkan adalah segala perbudakan duniawi kemudian mereka keluarkan segala hal selain Allah Azza wa Jalla secara total dan senantiasa terus demikian dalam menjalani ujian di RumahNya.
Nabi kita Sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi wasallam bersabda, bahwa Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin, “sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“. yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah Azza wa Jalla.
Dalam sebuah hadist Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kalian apabila sholat maka sesungguhnya ia sedang bermunajat (bertemu) dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerti bagaimana bermunajat dengan Tuhan”
Kita katakan bahwa sholat yang kita lakukan selama ini adalah berdasarkan ilmu dari syaikh/ulama/ustadz adalah sebagaimana sholatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maupun sebagaimana yang dilakukan para Sahabat. Pertanyaannya adalah, sudahkah sholat yang kita lakukan tersebut menghantarkan kita ke hadhirat Allah Azza wa Jalla ?
Walaikumsalam
Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830
Note: Sahabat Sebut Nabi dengan “Sayyid”
Sumber: http://www.hidayatullah.com/read/15739/07/03/2011/hukum-sebut-%E2%80%9Csayyid%E2%80%9D-untuk-rasulullah.html
Dar Al Ifta Al Mishriyah, lembaga fatwa resmi Mesir dalam fatwa no. 292, membahas mengenai hukum mengucap “Sayyiduna” kepada Rasulullah Shallallahu Alahi Wasallam. Fatwa ini dikeluarkan untuk merespon permohonan fatwa bernomor 2724, yang diajukan ke Dar Alifta, mengenai masalah tersebut.
Dalam fatwa itu disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alahi Wassalam merupakan “Sayyid” (tuan) bagi seluruh makhluk adalah ijma’ umat Islam. Bahkan beliau sendiri telah bersabda,”Aku adalah sayyid (tuan) anak Adam”, dan diriwayat lain disebutkan,”Aku sayyid (tuan) manusia”, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Sedangkan Allah sendiri juga memerintahkan manusia untuk memuliakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, yang artinya, ”Sesungguhnya Kami telah mengutusmu sebagai saksi dan pemberi kabar gembira serta pemberi peringatan agar kalian beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Dan menolong-Nya, mengagungkan-Nya serta bertasbih kepada-Nya di pagi hari dan petang.” (Al Fath: 8-9)
Sebagian ulama menilai bahwa perintah mengagungkan, kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Menurut Imam Qatadah dan As Suddi, mengagungkan Rasulullah termasuk mensayyidkan beliau.
Sahabat Sebut Nabi dengan “Sayyid”
Dari Sahl bin Hunaif Radhiyallahu anhu, beliau mengatakan, ”Kami melalui tempat air mengalir, maka aku turun dan mandi dengannya, setelah itu aku keluar dalam keadaan demam. Maka hal itu dikabarkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Alihi Wasallam. Maka beliau bersabda, ”Perintahkan Aba Tsabit untuk meminta perlindungan.” Saya mengatakan,”Wahai Sayyidku (tuanku) apakah ruqyah berfungsi?” Beliau bersabda,”Tidak ada ruqyah kecuali karena nafs (ain), demam atau bisa.” (Al Hakim, beliau menyatakan isnadnya shahih)
Shalawat Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar gunakan “Sayyid”
Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar juga menyebut “Sayyid” untuk Rasulullah dalam shalawat beliau berdua. Ibnu Mas’ud pernah mengajarkan,”Jika kalian bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, maka baguskanlah shalawat untuk beliau, sesungguhnya kalian tidak tahu bahwa shalawat itu ditunjukkan kepada beliau. Maka, mereka mengatakan kapada Abdullah bin Mas’ud,’Ajarilah kami.’ Ibnu Mas;ud menjawab,’Ucapkanlah, Ya Allah jadikanlah shalat-Mu dan rahmat-Mu dan berkah-Mu untuk Sayyid Al Mursalin (tuan para rasul), Imam Al Muttaqin (imam orang-orang yang bertaqwa), Khatam An Nabiyyin (penutup para nabi), Muhammad hamba-Mu dan rasul-Mu, Imam Al Khair (imam kebaikan), Qaid Al Khair (pemimpin kebaikan) dan Rasul Ar Rahmah (utusan pembawa rahmat).’” (Riwayat Ibnu Majah, dihasankan oleh Al Hafidz Al Mundziri)
Atsar serupa juga diriwayatkan dari Ibnu Umar, sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dalam Al Musnad, dengan sanad hasan pula.
Walhasil, menyebut Rasulullah dengan gelar “Sayyid” adalah perkara yang disyariatkan
Sumber: http://mutiarazuhud.wordpress.com
08 June 2012
07 June 2012
Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Husein ra
Beliau
adalah Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Hussein bin Ali bin Abi Thalib (semoga
Allah meridhoi mereka semua). Beliau dijuluki dengan julukan Abal Hasan atau
Abal Husain. Beliau juga dijuluki dengan As-Sajjad (orang yang ahli sujud).
Beliau
adalah seorang yang ahli ibadah dan panutan penghambaan dan ketaatan kepada
Allah. Beliau meninggalkan segala sesuatu kecuali Tuhannya dan berpaling dari
yang selain-Nya, serta yang selalu menghadap-Nya. Hati dan anggota tubuhnya diliputi
ketenangan karena ketinggian makrifahnya kepada Allah, rasa hormatnya dan rasa
takutnya kepada-Nya. Itulah sifat-sifat beliau, Al-Imam Ali Zainal Abidin.
Beliau
dilahirkan di kota
Madinah pada tahun 33 H, atau dalam riwayat lain ada yang mengatakan 38 H.
Beliau adalah termasuk generasi tabi'in. Beliau juga seorang imam agung. Beliau
banyak meriwayatkan hadits dari ayahnya (Al-Imam Husain), pamannya Al-Imam
Hasan, Jabir, Ibnu Abbas, Al-Musawwir bin Makhromah, Abu Hurairah, Shofiyyah,
Aisyah, Ummu Kultsum, serta para ummahatul mukminin/isteri-isteri Nabi SAW
(semoga Allah meridhoi mereka semua). Beliau, Al-Imam Ali Zainal Abidin,
mewarisi sifat-sifat ayahnya (semoga Allah meridhoi keduanya) di didalam ilmu,
zuhud dan ibadah, serta mengumpulkan keagungan sifatnya pada dirinya di dalam
setiap sesuatu.
Berkata
Yahya Al-Anshari, "Dia (Al-Imam Ali) adalah paling mulianya Bani Hasyim
yang pernah saya lihat." Berkata Zuhri, "Saya tidak pernah menjumpai
di kota Madinah
orang yang lebih mulia dari beliau." Hammad berkata, "Beliau adalah
paling mulianya Bani Hasyim yang saya jumpai terakhir di kota Madinah." Abubakar bin Abi Syaibah
berkata, "Sanad yang paling dapat dipercaya adalah yang berasal dari
Az-Zuhri dari Ali dari Al-Husain dari ayahnya dari Ali bin Abi Thalib."
Kelahiran
beliau dan Az-Zuhri terjadi pada hari yang sama. Sebelum kelahirannya, Nabi SAW
sudah menyebutkannya. Beliau shalat 1000 rakaat setiap hari dan malamnya.
Beliau jika berwudhu, pucat wajahnya. Ketika ditanya kenapa demikian, beliau
menjawab, "Tahukah engkau kepada siapa aku akan menghadap?." Beliau
tidak suka seseorang membantunya untuk mengucurkan air ketika berwudhu. Beliau
tidak pernah meninggalkan qiyamul lail, baik dalam keadaan di rumah ataupun
bepergian. Beliau memuji Abubakar, Umar dan Utsman (semoga Allah meridhoi
mereka semua). Ketika berhaji dan terdengar kalimat,
"Labbaikallah...," beliau pingsan.
Suatu
saat ketika beliau baru saja keluar dari masjid, seorang laki-laki menemuinya
dan mencacinya dengan sedemikian kerasnya. Spontan orang-orang di sekitarnya,
baik budak-budak dan tuan-tuannya, bersegera ingin menghakimi orang tersebut,
akan tetapi beliau mencegahnya. Beliau hanya berkata, "Tunggulah sebentar
orang laki-laki ini." Sesudah itu beliau menghampirinya dan berkata
kepadanya, "Apa yang engkau tidak ketahui dari diriku lebih banyak lagi.
Apakah engkau butuh sesuatu sehingga saya dapat membantumu?." Orang
laki-laki itu merasa malu. Beliau lalu memberinya 1000 dirham. Maka berkata
laki-laki itu, "Saya bersaksi bahwa engkau adalah benar-benar cucu
Rasulullah."
Beliau
berkata, "Kami ini ahlul bait, jika sudah memberi, pantang untuk
menginginkan balasannya." Beliau sempat hidup bersama kakeknya, Al-Imam
Ali bin Abi Thalib, selama 2 tahun, bersama pamannya, Al-Imam Hasan, 10 tahun, dan
bersama ayahnya, Al-Imam Husain, 11 tahun (semoga Allah meridhoi mereka semua).
Beliau
setiap malamnya memangkul sendiri sekarung makanan diatas punggungnya dan
menyedekahkan kepada para fakir miskin di kota Madinah. Beliau berkata,
"Sesungguhnya sedekah yang sembunyi-sembunyi itu dapat memadamkan murka
Tuhan." Muhammad bin Ishaq berkata, "Sebagian dari orang-orang
Madinah, mereka hidup tanpa mengetahui dari mana asalnya penghidupan mereka.
Pada saat Ali bin Al-Husain wafat, mereka tak lagi mendapatkan penghidupan
itu."
Beliau
jika meminjamkan uang, tak pernah meminta kembali uangnya. Beliau jika
meminjamkan pakaian, tak pernah meminta kembali pakaiannya. Beliau jika sudah
berjanji, tak mau makan dan minum, sampai beliau dapat memenuhi janjinya.
Ketika beliau berhaji atau berperang mengendarai tunggangannya, beliau tak
pernah memukul tunggangannya itu. Manaqib dan keutamaan-keutamaan beliau tak
dapat dihitung, selalu dikenal dan dikenang, hanya saja kami meringkasnya
disini. Beliau meninggal di kota Madinah pada tanggal 18 Muharrom 94 H, dan
disemayamkan di pekuburan Baqi', dekat makam dari pamannya, Al-Imam Hasan, yang
disemayamkan di qubah Al-Abbas. Beliau wafat dengan meninggalkan 11 orang putra
dan 4 orang putri. Adapun warisan yang ditinggalkannya kepada mereka adalah
ilmu, kezuhudan dan ibadah.
Radhiyallohu
anhu wa ardhah...
[Disarikan
dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi
Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]
Al-Imam Zaid bin Ali Zainal Abidin Ibnul Husain
Beliau
juga dikenal sebagai ahli Fiqah kenamaan di masanya. Pengakuan tersebut pernah
diucapkan oleh Imam Abu Hanifah sendiri: "Aku kenal Imam Zaid bin Ali
sebagaimana aku kenal tentang keluarganya. Di masanya tidak pernah seorang yang
lebih ahli dalam Fiqah daripada beliau. Dan aku tidak pernah melihat seorangpun
yang lebih luas pengetahuannya, lebih cepat menjawab dan lebih terang
penjelasannya daripada beliau, jarang sekali mendapati orang semacam beliau".
Kumpulan
Syiah Zaidiyah nisbatnya kembali pada beliau. Beliau dikhianati oleh pengikut
beliau sendiri yang berada di kota Kufah. Sebahagian pengikut beliau ada pula
golongan yang ekstrimis. Mereka menuntut agar beliau tidak mengakui
kekhalifahan Abu Bakar dan Umar secara sah.
Namun
beliau menolak dan beliau menyatakan dengan terang-terangan bahawa Abu Bakar
dan Umar adalah khalifah Rasulullah yang sah. Sejak itulah pengikut beliau yang
menolak kekhalifahan Abu Bakar dan Umar disebut golongan Syiah Rafidha (yang
menolak). Sedangkan pengikut beliau yang tetap mengikuti pendapat beliau
tentang sahnya kekhalifahan Abu Bakar dan Umar disebut Syiah Zaidiyah. Kelompok
inilah yang ikut berjuang dengan beliau mati-matian.
Imam
Zaid bin Ali dihukum mati kerana menentang pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik
salah seorang khalifah dari dinasti Bani Umayyah. Ketika dinaikkan di atas
tiang salib, beliau ditelanjangi dahulu sebelum dibunuh. Namun Allah tetap
melindungi aurat beliau. Allah mengutus segerombolan laba-laba untuk membuat
anyaman dari sarangnya sehingga dapat menutupi seluruh aurat beliau.
Dipetik
dari: Kemuliaan Para Wali - karangan Zulkifli Mat Isa, terbitan Perniagaan
Jahabersa.
***
Subscribe to:
Posts (Atom)